Pentingnya Keterpaduan Agama, Sosial, Alam dan Ibadah

0 47

Adapun isyarat agar memadukan aspek agama terhadap ibadah dengan aspek alam dicontohkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

Surat Ali Imran Ayat 191

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Qs. Ali Imran [3]: 191).

Al Birr Sebagai Keyakinan yang Benar dan Ibadah yang Tulus

Al birr yang ditunjukkan pada ayat pertama dan yang merupakan nama bagi keseluruhan al khishal al hamidah. Bukanlah gerakan dan menghadap ke arah kiblat dari arah Timur dan Barat dan kemudian menganggap cukup dengan gerakan-gerakan ibadah dan simbol-simbolnya, akan tetapi adalah keyakinan yang benar, dan ibadah yang tulus yang direalisasikan melalui integrasi ekonomi dan sosial, dan masyarakat yang berdiri di atas etika yang luhur, dan sabar atas beban jihad dan bekerja.

Integrasi Aspek Agama terhadap Ibadah

Instruksi Qur`an yang berulang-ulang mengintegrasikan aspek agama terhadap ibadah yang aplikasi terpentingnya shalat dengan aspek sosial yang aplikasi terpentingnya adalah memberikan harta dan keseimbangan ekonomi yang ditunjukkan melalu zakat dan hukum fakir miskin. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa الدِّيْنُ الْمُعَامَلَةُ “agama adalah mu’amalah” sosial, jika mu’amalahnya rusak maka matilah agama. Dan dalam hadits Qudsi dinyatakan

إِنَّا أَنْزَلْنَا الْمَالَ لِإِقَامَةِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ

“Sesungguhnya Kami menurunkan harta untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat”.

Berikut adalah apa yang dipahami para sahabat Rasulullah SAW, di antaranya adalah perkataan Ibnu Mas’ud “Kamu senantiasa ingat Allah dan berarti dalam shalat meskipun kamu sedang berada di pasar”. Dalam rukun Islam shalat diintegrasikan dengan zakat dan tidak ada pemisahan sehingga salah satunya tidak cukup tanpa yang lainnya.

Pengingkaran terhadap Agama

Pengingkaran terhadap agama dimulai ketika penafian aspek sosial terhadap ibadah. Hal itu menjadi sempurna dalam dua kepentingan: pertama, terbentuknya kelompok-kelompok yang bermewahan dengan menafikan aspek sosial terhadap ibadah dan mempertahankan aspek agama semata.

Mereka melakukan itu karena aspek sosial terhadap ibadah mengharuskan mereka memberikan bentuk-bentuk tanggungjawab sosial dan ekonomi terhadap orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang dari kelas lain, dan mengharuskan mereka untuk hidup di bawah naungan sistem yang menyamakan antara seluruhnya.

Oleh karena itu pecinta kesenangan dan kenikmatan syahwat yang oleh Qur`an disebut dengan al mutrafin sepanjang masa sejarah berusaha memisahkan antara aspek agama dan aspek sosial, dan terhadap itu Qur`an memberikan isyarat kepada kaum Nabi Syu’aib:

Surat Huud Ayat 87

“Mereka berkata: “Hai Syu`aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami” (Qs. Huud [11]: 87).

Kemudian langkah kedua dari bentuk pengingkaran agama sebagai konsekwensi logis dari langkah pertama adalah ketika aspek sosial dinafikan maka agama gagal dalam risalahnya untuk memberikan keadilan sosial dan tanggungjawab ekonomi bersama, dan terhenti dari risalahnya dalam menghadapi kejahatan dan kezhaliman bahkan menjadi salah satu sarana yang mendukung kejahatan sehari-hari dan menyebabkan penderitaan orang-orang terzhalimi dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan menghalangi mereka untuk berusaha keluar darinya.

Di sini buah ibadah yang direfleksikan dalam bentuk memberi kebahagiaan kepada manusia dan memberikan kebutuhan kehidupannya terhenti, dan mayoritas yang bernasib buruk diperisapkan untuk mengingkari agama dan mengadakan revolusi terhadapnya.

Pemisahan Antara Aspek Agama Terhadap Ibadah Dan Aspek Sosial dalam Islam

Oleh karena itu, Islam menggambarkan pemisahan antara aspek agama terhadap ibadah dan aspek sosial sebagai pendustaan terhadap agama itu sendiri.

Surat Al Maa'uun Ayat 1-7

 “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” (1) “Itulah orang yang menghardik anak yatim,” (2) “dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (3) “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,” (4) “(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” (5) “orang-orang yang berbuat riya.” (6) “dan  enggan (menolong dengan) barang berguna.” (7) (Qs. Al Maa’uun [107]: 1-7).

Kata ad-da’ adalah pemaksaan dan sewenang-wenang. Makna kata yatim tidak terbatas kepada anak kecil yang tidak memiliki bapak akan tetapi anak kecil dan dewasa yang tidak memiliki sumber bantuan dan kekayaan. Ibnu Abbas berkata dalam sebuah surat yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya:

“… Kamu menulis dan bertanya kapan yatim itu berakhir? Demi umurku bahwa seseorang yang telah tumbuh jenggotnya akan tetapi ia lemah mencari pencaharian untuk dirinya sendiri, lemah untuk memberi, jika ia mengambil untuk dirinya sendiri dari yang bisa orang ambil maka ia tidak lagi disebut yatim”.

Nawawi mengomentari itu dengan mengatakan: “Hukum yatim tidak berakhir dengan datangnya masa baligh dan umur yang tua”.

Oleh karena itu mayoritas masyarakat yang lemah juga adalah yatim sehingga barangsiapa memaksa mereka dan sewenang-wenang terhadap mereka berarti ia mendustakan agama.

Surah-Surah Pendek Qur`an yang Berisi Petunjuk-Petunjuk tentang Akhirat

Oleh karena itu surat at-tandid (celaan) bagi orang yang shalat yang mempraktekkan aspek agama terhadap ibadah namun “melalaikan” aspek sosial yang di sini disebut al ma’un dan yang ditafsirkan Imam Ali bahwa itu adalah zakat yang diwajibkan, sementara Ibnu Abbas menafsirkannya dengan segala sesuatu yang dianggap sebagai masalah-masalah kehidupan dan menyebabkan mereka tidak memiliki keinginan untuk menjalankan agama mereka.

Catatan terhadap surah-surah pendek Qur`an yang berisi petunjuk-petunjuk tentang akhirat seperti al-Lail, al Balad, al Fajr dan al Ma’un secara berulang-ulang muncul dua bentuk yang saling berhadapan yakni bentuk penghuni surga dan bentuk penghuni neraka. Sifat-sifat yang terperinci yang berpusat pada masing-masing dua kelompok sekitar posisi keduanya terhadap “harta” dalam hal pengumpulan dan pendistribusiannya sebagaimana yang Allah perintahkan, atau perampasan dan pengacauannya sesuai dengan kebutuhan jangka pendek dan kebutuhan syahwat.

Aspek Sosial dari Ibadah adalah Ukuran Kebenaran dalam Aspek Agama

Ini menegaskan bahwa aspek sosial dari ibadah adalah ukuran kebenaran dalam aspek agama. Yang pertama adalah keimanan praktis, dan yang kedua adalah klaim teoretis.

Rasul SAW mensyaratkan kepada orang yang membai’atnya untuk mengkombinasikan dalam keislamanannya aspek agama dan aspek sosial untuk ibadah. Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat yang bernama –As-Sadus bin al Khashashiyah RA ketika berkata: “Aku mendatangi Rasulullah SAW untuk membai’atnya. Maka beliau mensyaratkan untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, agar saya mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berhaji secara Islam, berpuasa di bulan Ramadhan dan berjihad di jalan Allah.

Maka aku berkata: Wahai Rasulullah: adapun yang dua demi Allah aku tidak bisa melaksanakannya, jihad dan shadaqah. Mereka menduga bahwa orang yang lari menghindarinya akan mendapat kemurkaan Allah. Maka aku takut hal itu datang kepadaku sehingga jiwaku menjadi tamak dan aku membenci kematian. Adapun shadaqah, demi Allah aku tidak memiliki apapun selain ghanimah dan sepuluh unta yang merupakan ternak dan pembawa muatan keluargaku.

Ia berkata: Maka Rasulullah SAW memegang tangannya kemudian menggerakkan tangannya kemudian bersabda: Maka tidak ada jihad dan tidak ada shadaqah, dan kalau begitu kamu tidak bisa masuk surga! Ia berkata: wahai Rasulullah aku membai’atmu! Beliau bersabda: “Kalau begitu membai’atlah dengan semuanya”.

Contoh Pemahaman yang Mengkombinasikan Aspek Agama dan Sosial terhadap Ibadah

Ini adalah pemahaman yang mengkombinasikan antara aspek agama dengan aspek sosial terhadap ibadah yang dengan teguh dipegangi oleh Abu Bakar untuk menghadapi gerakan –ar-riddah wal murtaddin– setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Demikian juga teriakannya yang terkenal di hadapan Umar bin Al Khaththab: “Demi Allah aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat”. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Musnad Ahmad, jilid 5

Ibnu Taimiyah, Iqtidha` ash-Shirath al Mustaqim

Shahih Muslim, jilid 12 (Syarh an-Nawani, bab an-Nisa` al Ghaziyat)

Kanz al Ummal, jilid 2

Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, Tafsir Surah al Maa’uun.

Musnad Ahmad, Tashnif as-Sa’ati, jilid 1, no. 24

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.