Inspirasi Tanpa Batas

Pentingnya Pendidikan Karakter di Indonesia

Pentingnya Pendidikan Karakter di Indonesia
0 249

Karakter, dalam bahasa Inggris, dimaknai sebagai kualitas mental atau moral seseorang yang dapat membedakan dia dari orang lain (mental or moral dualoities that make one person different form the other. (Alan, 1983: 59). Karakter, dalam bahasa Yunani   berasal dari kata “charassein” yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Karakter seseorang merupakan ciri khas dan bersifat natural dan mengakar sehingga ia menjadi penggerak atau pendorong seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan memperoses sesuatu. Psikologi memandang karakter (character) atau watak sebagai istilah lain untuk kepribadian dari titik tolak etis atau moral, yang biasanya memiliki ikatan relatif tetap, misalnya kejujuran, (Rohi, 1988: 521).

Hill (2002) menjelaskan bahwa “character determinues someone’s private and someone’s action done. Good chracter is the inward motivation to what is right, according to the highest standard of behavior, in every situstion.” Singkatnya, karakter menggambarkan perilaku yang baik yang ditampilkan oleh seseorang dimanapun ia berada. Acuan karakter sebagaimana “The Six Pillars of Character yang dijelaskan oleh Character Counts! Coalition (a project of The Joseph Institute of Ethics) adalah sebagai berikut:

  1. Trustworthness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas, jujur, dan loyal.
  2. Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka, serta tidak suka memanfaatkan orang lain.
  3. Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
  4. Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
  5. Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum, dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan sosial dan alam.
  6. Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu sebaik mungkin (Christiana, 2015).

Pendidikan Karakter Berbasis Kurikulum Mutual Adaptif

Hakikat kurikulum mutual adaptation, menurut Phlip W. Jackson (1992: 410) menyatakan bahwa, mutual adaptation is screen as that process whereby adjusments in a curriculum are made by curriculum developver and those who actually use in the school or classroom context”. Ungkapan ini secara tersirat menunjukkan bahwa pendekatan mutual adaptif memiliki ciri pokok dalam implementasinya. Para pengembang kurikulum (curriculum developer), misalnya kepala sekolah, guru dan pengawas pendidikan, orang tua siswa, siswa, masyarakat. Memiliki kewenangan mengadakan penyesuaian-penyesuaian kurikulum berdasarkan kondisi riil, kebutuhan belajar peserta didik, dan tuntutan perkembangan masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan.

Kemudian Jeckson, menyatakan pendekatan mutual adaptation pada dasarnya merupakan ciri penting dalam sebuah implementasi kurikulum. Bahkan beberapa peneliti tentang implementasi kurikulum memandang bahwa adaptasi merupakan kesepakatan pragmatis dalam implementasi kurikulum. Para peneliti yakin bahwa mutual adaptation adalah bagian peting dalam pengembangan kurikulum tidak hanya aspek penerapan yang diperhatikan, tetapi juga bagaimana kurikulum dapat dikembangkan agar berperan dalam proses pembelajaran.

Merancang Desain Isi Kurikulum Pendidikan

Menurut pendekatan ini, desain dan isi kurikulum dirancang di luar konteks pembelajaran, kemuadian diadaptasi oleh guru sebagai sebuah pengembangan dengan lokal. Adaptasi juga dapat dilakukan selama proses implementasi berlangsung.  Berdasarkan karakteristik kurikulum mutual adaptif guru bukan hanya sebagai tenaga pengajar, melainkan  memiliki otoritas dan tunggung jawab penuh (full outhority and repondsibility) melakukan rekayasa kurikulum sehingga kurikulum memiliki nilai adaptabilitas yang bermakna dan relevan sebagai alat untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, dan karakter peserta didik.

Rekayasa kurikulum yang dilakukan guru sebagai pengembang kurikulum (curriculum developer) selain pada isi (content) kurikulum  juga mencakup pengembangan karakter peserta didik aspek: pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan bermoral (moral feeling), dan tindakan bermoral (moral action).  Dalam konteks proses pendidikan karakter di lembaga sekolah, tahapan moral knowing disampaikan guru dengan berbagai media, metode dan pendekan sesuai perkembangan kognitif peserta didik.

Moral feeling dikembangkan guru melalui pengalaman langsung para peserta didik dalam konteks sosial dan personalnya. Artinya, pengembangan nilai-nilai karakter agar dimiliki peserta didik seluruh personal sekolah (terutama guru) sebagai pembimbing peserta didik mengamalkan nilai-nilai moral seperti, berlaku jujur, sopan, tanggung jawab, disiplin, berlaku murah senyum, sapa, salam dan perilaku yang menyentuh perasaan lainnya dilakukan secara kontinuitas.

Moral action dalam Penyusunan Kurikulum

Sedangkan moral action meliputi setiap upaya yang dilakukan sekolah dalam rangka menjadikan pilar pendidikan karakter rasa cinta kepada Allah dan segenap ciptaan-Nya diwujudkan menjadi tindakan nyata (action).  Tindakan moral ini seperti menjalan perintah agama diwujudkan melalui ibadah makhdah (ritual), ibadah gahiri makhdah (hubungan dengan sesama). Ibadah makhdah meliputi: shalat wajib dilakukan secara berjamaah, membiasakan membaca Al-Qur’an, berdoa. Ibadah ghairi makhdah:  memperingati hari bersar Islam (Maulid Nabi Muhammad saw), lomba baca puisi Islami, lomba Al-Quran (MTQ), perayaan ibadah qurban, membiasakan sadaqah, menengok teman yang sakit, dan perilaku sosial keagamaan lainnya termasuk membiasakan perilaku spontanitas yang seperti ucapan Basmallah, Hamdallah dan ucapan lainnya ketika sebelum dan sesuadah melakukan berbagai aktivitas.

Lagkah pengembangan moral action dilakukan dengan cara habituasi (pembiasaan). Pembiasaan penanaman nilai-nilai karakter moral action ini sebagai fondasi pembentukan karakter yang akan membekas pada pikiran. Perasaan dan tindakan peserta didik yang tidak mungkin mudah dilupakan Jhon Dewey menyakatan omong kosong pengetahuan diperoleh tanpa belajar sambil melakukan (learning by doing). Ungkapan ini menujukkan pendidikan karakter menuntut dilakukan/diraktekan bukan hanya sekedar hafalan. Dr. H. Anda Juanda, M.Pd

Komentar
Memuat...