Take a fresh look at your lifestyle.

Pentingnya Toleransi dalam Merawat NKRI | Mahasiswa Menulis Part – 1

0 104

Isu toleransi, radikalisme dan terorisme di Indonesia, tidak bisa dianggap sebelah mata. Mengapa? Sebab intoleransi adalah faham yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Gejala intelransi bahkan sudah mulai masuk ke generasi muda Indonesia. Masyarakat yang selama ini dikenal dengan murah senyum, ramah, dan suka menolong antar sesama, justru mulai dikotori dengan sikap intoleran kelompok radikal.

Akibatnya, toleransi yang dikenal menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, pelan-pelan mulai pudar. Dalam kasus penodaan agama misalnya. Tidak hanya secara nasional, dunia internasional juga menyoroti Jakarta, yang mulai dipenuhi dengan kelompok radikal dengan mengatasnamakan agama.

Beberapa waktu lalu, pemerintah juga telah membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia. Organisasi ini dianggap telah menyebarkan bibit intoleransi dan radikalisme, dengan mengusung ideologi khilafah. Dengan dibungkus lembaga dakwah, pergerakan HTI dianggap telah mengarah ke politik.

Meski katanya mengakui Pancasila, tapi pada prakteknya kelompok ini selalu berusaha ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Padahal, konsep ini sama sekali tidak tepat diterapkan di negeri yang beragama seperti Indonesia. Tapi faktanya, mereka tetap memaksakan dan telah mempunyai anggota yang mencapai ribuan.

Sulitnya Merawat Toleransi

Sejak kemunculan kelompok radikal di Indonesia, merawat toleransi sepertinya menjadi hal yang sulit di Indonesia. Padahal, negeri ini besar dari sikap toleransi antar umat beragama. Indonesia tidak hanya mengakui Islam, tapi juga mengakui Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan.

Meski dalam perkembangannya, penduduk Indonesia mayoritas memilih muslim, tapi pemeluk agama yang lain juga menjadi fakta yang tidak bisa dibantah. Karena itulah, para pendidi negeri ini mengusung nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Kenapa tidak mengusung nilai-nilai Islam? Karena Indonesia memang bukan negara Islam. Tapi Indonesia merupakan negara beragama.

Jika mengacu pada fakta diatas, sudah semestinya tidak ada lagi perdebatan mengenai latar belakang agama. Karena meski berbeda agama, kita semua tetap satu, yaitu Indonesia. Apalagi, semua agama mengajarkan kedamaian dan tidak ada satupun yang mengajarkan kekerasan. Sudah semestinya pula, jika memang kita mengklaim sebagai masyarakat yang religius, segala perkataan dan perilaku kita seharusnya juga mencerminkan nilai-nilai agama. Dalam Islam misalnya, mengajarkan untul saling mengenal satu dengan yang lainnya. Karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, maka kita dianjurkan untuk saling mengenal .

Meski demikian, masih saja ada diantara kita yang saling membenci hanya karena perbedaan pandangan ataupun keyakinan. Masih saja ada perselisihan, hanya kerena perbedaan pilihan pada saat pilkada DKI Jakarta. Akibatnya, ujaran kebencian dengan dibumbui isu SARA merebak dan mengancam persatuan yang telah terbangun. Dan faktanya, praktek intoleransi masih terus terjadi meski pilkada DKI telah usai. Paska vonis Ahok, semua orang menyuarakan pentingnya menjaga kebinekaan. Pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama.

Mari kita saling introspeksi diri. Jangan biarkan menjadi pribadi pembenci. Jadilah pribadi yang ramah, agar nilai-nilai toleransi itu tetap terjaga. Jangan biarkan radikalisme merusak toleransi yang sudah berjalan di negeri ini. Indah Virginia Rahman –Mahasiswa IPS IAIN Cirebon

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar