Inspirasi Tanpa Batas

Penyebab Disintegrasi Ilmu dan Agama di Dunia Islam

Tulisan ini mengkaji tentang mengapa disintegrasi ilmu dan agama terjadi, termasuk di kalangan masyarakat Muslim. Kajian ini mendeskripsikan tentang peran penting yang menyebabkan tidak menyatunya dunia ilmu dengan agama. Coba disimak dengan utuh

3 144

Konten Sponsor

Terdapat beberapa faktor utama yang menjadi sumbu terjadinya disintegrasi ilmu di dunia hari ini, termasuk di dunia Islam. Khusus mengenai dunia Islam, saya melihat ada beberapa faktor yang menjadi sumbu utama. Faktor dan dampaknya dapat terlihat dalam tulisan berikut:

Al-Qur’an mengutif Harun Nasution (1995) seolah lahir untuk dua kepentingan Masyarakat; Madani dan Badawy. Dalam istilah M. Quraish Shihab (1993), al Qur’an berhasil menampilkan dirinya seperti cermin. Cermin selalu setia memancarkan apapun dan siapapun yang datang kepadanya sesuai dengan persepsinya.

Keragaman berfikir terhadap teks nash, pada awalnya dapat diselesaikan oleh suatu mimbar bersama. Wujud mimbar itu adalah sistem khalifah Islamiyah yang secara figuritas mampu menampilkan diri sebagai penerjemah titah Nabi. Khalifah umumnya menguasai dimensi duniawi dan ukhrawy secara bersama dalam dirinya yang tunggal.

Fase Perbedaan

Fase berikut, khusus setelah khalifah al Rasyd (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein), figuritasnya berubah. Khalifah “hanya menguasai dimensi duniawy bahkan hanya menguasai dimensi politik ketatanegaraan. Akibatnya, pemimpin Islam yang semula dapat dinisbatkan sebagai “perwujudan Tuhan” di muka bumi, kehilangan makna artifisialnya.

Di sisi lain, pergulatan pemikiran di kalangan masyarakat Muslim, terus terjadi. Pergulatan itu, lebih khusus tampak ketika kekuasaan Islam menyebar ke wilayah-wilayah yang sebelumnya telah mapan. Mapan dalam pengertian konteks falsafah maupun dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi. Bertemunya dunia Islam dengan kekuatan Romawi, Parsia dan Iskandaria sejak jaman khalifah Umar bin Khatab sampai dengan akhir masa kekhalifahan daulah Abbasiyah misalnya, telah melahirkan kontroversi keilmuan yang secara nalar masing-masing tetap memberikan landasannya pada al Qur’an dan sunnah.

Dalam waktu yang cukup panjang, diskursus yang sebetulnya dapat melahirkan watak keilmuan baru, berubah menjadi pergulatan-pergulatan yang cenderung ideologis dan bahkan saling mengkafirkan. Hal ini, diperparah ketika konseptualisasi keilmuan Yunani Kuna yang Aristotalian sebagaimana diperagakan Ibnu Thufail, Ibnu Sina, Al Razi, Al farabi memapankan diri sebagai ideologi negara dalam wadah teologi Mu’tazilah.

Diskursus Politik dan Teologi

Problem pertama tadi, akhirnya melahirkan diskursus baru yang semula bergerak dalam bidang teologi seperti spektrum Abu Hasan al Asy’ari (yang ahlu sunnah) dengan al Juba’I (Mu’tazilah) ke disparitas baru yang bukan hanya berada dalam tataran teologis tetapi juga dalam bidang keilmuan.

Hal ini, diperagakan dengan munculnya Antitesis Ilmu yang dibawa al Ghazali (1058 M) yang bukan hanya menolak paradigma Filsafat Ibnu Sina dkk, tetapi juga merumuskan konsep keilmuan dalam apa yang disebut dengan rumusan ulum al din dan ulum al dunya. Ilmu agama dipandang sebagai fardu ain, sementara ilmu dunia dipandang sebagai fardu kifayah.

Konsep al Ghazali yang membawa rumusan keilmuan dalam dua bingkai tadi, oleh ghazalian semestinya diterjemahkan ke dalam rumusan yang datar namun filosofis. Misalnya: konsep dan praktek ketauhidan, ibadah, muamalah dan perilaku Islami, itu harus menjiwai semangat ketasliman. Tetapi, kefakaran dalam bidang-bidang keislaman (Fiqih, Ushul Fiqih, tauhid, tafsir dan hadits) misalnya, adalah sama-sama fardu kifayahnya.

Fakta tidak demikian adanya. Ghazalian yang telah memperoleh sokongan politik dari khilafah islamiyah setelah Harun al Rasyd, yakni al Mutawakil dan seterusnya, di daulah Abbasiyah sering disalahartikan. Ketika al Ghazali menyebut fardu kifayah pada ulum al dunya, seolah ilmu-ilmu dunia itu adalah bukan ilmu Islam.

Pengakuan Ilmuan Barat pada Islam

Di letak itu, menjadi dapat difahami ketika muncul banyak pihak yang menyebut bahwa setelah umat Islam berhasil menjalankan peranan yang cukup penting dalam ilmu pengetahuan dan filsafat, akhimya ia pun meninggalkan tradisi leluhumya justru setelah konsep al Ghazali ini mapan. Sebagian intelektual Muslim menyebut bahwa menurunnya minat masyarakat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, terutama setelah al-Ghazali (1111 M) merumuskan teologi filsafatnya Abu Hasan al-Asy’ari yang terang-terangan menolak filsafat yang dihasilkan filosof Muslim dengan kitabnya tahafut al-Falasiyah.

Penolakan terhadap gagasan al Ghazali oleh Ibnu Rusyd melalui karya Magnum Ovusnya tahafut ala tahafuti al-Falasiyah al Ghazali yang berupaya membangun kembali tradisi keilmuan awal Islam yang integrated dimaksud, justru kalah pamor dibandingkan dengan corak pemikiran al-Ghazali.

Namun jika diselidiki lebih lanjut, “kegagalan” Ibnu Rusyd ini tampaknya lebih didasari oleh sifat konfrontatif Ibnu Rusyd yang cenderung Aristotalian Sedangkan al-Ghazali menyerang pemikiran Ibnu Sina dan al-Farabi yang cenderung Platonian. Sehingga wajar jika karya Ibnu Rusyd ini tidak memperoleh dukungan dari berbagai kalangan Muslim. Karya Ibnu Rusyd sendiri dapat diselamatkan oleh dunia Eropa yang berkat karyanya ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya telah melahirkan renaissance dan aufaklarung di Eropa dan Barat (Muhammad Muslih, 2004).

Seiring dengan menurunnya minat masyarakat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan melakukan penolakan terhadap filsafat, dunia Barat mengambil manfaat dari kekalahannya pada Perang Salib untuk mengambil ilmu dan peradaban yang dibangun masyarakat Muslim.

Buku-buku Filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan ilmu kreatif geniun masyarakat Muslim yang prosesnya dibiayai Negara, khususnya pada masa khalifah Harun al-Rasyd dan al-Makmun, diterjemah ulang masyarakat Eropa dan Barat ke dalam bahasa mereka dan membawanya ke negerinya sendiri.

Awal Barat Mengenal Filsafat

Selain itu, potret sejarah juga menunjukkan bahwa berkat usaha mereka dalam merespon pemikiran Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat yang berkembang di Eropa telah menjadi ilmu penting bagi munculnya gerakan renesaince (abad ke-16) dan aufklarung (abad ke-18). Sehingga jika mau sedikit jujur, peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang di Barat saat ini, adalah suatu proses penting yang telah dilintasi dunia Islam.

Dunia Islam bahkan menjadi “transmisi” yaang cukup signifikan dan cukup efektif bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat Modern (A. Khudori Sholeh, 2004: xxii).

Saya melihat bahwa masuknya filsafat Averros (Ibnu Rusyd) yang Aristotelian ke Eropa melalui Cordova, telah diwarisi kaum Partistik Kristen dan Skolastik Muslim. Warisan itu bersifat kualitatif dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Wels dalam karyanya yang masyhur, The Outline of History (1951) menyimpulkan bahwa:

“Jika orang Yunani menjadi Bapak Metode Ilmiah, maka orang Muslim adalah Bapak angkatnya”. Masuknya filsafat Averroes ke Barat dengan demikian, secara historis telah melahirkan Renaisance (abad ke-16) dan gerakan Aufklarung (abad ke-18). Melalui dua gerakan ini, filsafat masuk ke masa revolusioner dengan tahapan baru yang sangat modern meski terkesan vulgar-positivistik dan cenderung ateistik. Sarton menjelaskan posisi Yunani Kuna dan Islam dalam peradaban Barat dengan lukisan cerita berikut:

“….intinya sebagaimana yang setidaknya nampak jelas, bahwa prestasi yang diraih di masa pertengahan adalah terobosan berupa semangat bereksperimen dan ini semua terjadi untuk pertama kali disebabkan oleh runtuhnya kejayaan orang-orang Islam pada abad ke dua belas.”

Kepeloporan revolusioner yang dilakukan umat Islam telah menyebabkan lahirnya “anak kandung” renaissance dan aufklarung. Tanda-tandanya terlihat dari munculnya Nicholas Covernicus (1473-1543 M) yang telah melahirkan ilmu astronomi dengan menyelidiki putaran benda-benda angkasa yang sebelumnya telah dikerjakan secara ilmiah oleh masyarakat Muslim seperti telah saya terangkan sebelumnya.

Pemikir Barat Awal Pertengahan

Pemikiran ini dikembangkan Galileo Galilei (1564-1642 M) dan Jhohanes Kefler (1571-1630 M) yang telah melahirkan revolusi tidak saja dalam persoalan hubungan agama (Kristen) dengan ilmu pengetahuan, akan tetapi dalam kehidupan masyarakat yang berimplikasi sangat jauh dan mendalam karena sudah memasuki fase dan tahap sain serta teknologi yang lebih praktis dan mengutif Ernest Gelner (1992) cenderung atesitik.

Tokoh dan pemikiran lainnya terlihat dari gagasan Versalinus (1514-1564 M) yang telah melahirkan pembaharuan persepsi dalam bidang anatomi dan biologi. Issac Newton (1642-1727 M) telah mengembangkan bentuk definitive bagi mekanika. Descartes dan Immanuel Kant telah pula menyumbangkan pemikiran praktis.

Kedua memberi implikasi luas dan mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat modern. Keduanya juga diakui mengarahkan hidup manusia ke dunia sekular. Suatu kehidupan pembebasan dari kedudukannya yang semula merupakan sub koloni agama dan gereja kepada kehidupan baru yang berbeda. Kehidupan yang sama sekali harus lepas dari nilai-nilai agama (Ernes Gelner, 1992: 39-52).

Kritik terhadap Barat

Kondisi demikian dalam waktu yang panjang telah melahirkan kritik pedas terhadap perkembangan sains moderen. Hal ini terlihat misalnya dari pemikiran Ernes Gellner (1992: 39-52). Ia menyebut bahwa, masyarakat moderen hampir tidak memiliki pedoman dan nilai terikat dalam seluruh aktivitasnya. Implikasi penting sikap dan keilmuan Barat Modern yang secular dan ateistik, muncul karena epistemologi keilmuan Barat cenderung berbasis kepada epistemologi kealaman.

Epistemologi ini menyandarkan kebenaran hanya pada corak teleleologis yang natural, dinamik, teratur, runtut dan dapat dibuktikan secara empirik rasional.

Dengan latar belakang situasi dan kondisi pemikiran filosofi semacam itu, maka wajar jika dalam tahap perkembangan berikut, sains dan teknologi, berbasis pada ilmu alam. Ilmu alam dianggap sebagai suatu yang akurat dan dapat dibuktian secara empiris yang nilai benarnya harus dibuktikan secara factual.

Perkembangan yang demikian, mencapai bentuknya secara definitive dengan lahirnya tokoh semacam Auguste Comte (1798-1857 M). Melalui grand theory-nya yang digelar dalam karya Course de Philosophic Positive, ia mengajarkan cara baru. Ia menyebut bahwa cara berpikir manusia harus berlandaskan pada tahap positif. Yaitu menerangkan tentang yang benar itu adalah yang nyata, konkret, eksak, akurat. Selain tentu memberi nilai manfaat secara langsung kepada kehidupan umat manusia.

Besarnya Jasa Islam terhadap Ilmu

Revolusi ilmu pengetahuan yang dihasilkan ilmuwan dan filosof Modern, terus berkembang. Perkembangan ini semakin memperlihatkan hasil yang maksimal terutama ketika Albert Einstein merombak kerangka filsafat Newton yang sudah mapan. Melalui teori quantum-nya, ia merubah persepsi dunia, ilmu dan sifat-sifat dasar. Selain tentu perilaku materi sedemikian rupa. Akhirnya para pakar dapat melanjutkan penelitiannya.

Melalui karya Einstein ini, manusia modern dapat mengembangkan ilmu dasar seperti astronomi, fisika, kimia, biologi dan molekuler. Semua itu pada tahap tertentu telah dibangun di Yunani dan Dunia Islam. Dunia Barat menjadikan ilmu pengetahuan yang demikian luas dan mendalam. Akibatnya, capaian ilmu dan teknologi yang demikian, tidak hanya mengglobalkan dunia, tetapi juga telah melahirkan revolusi besar dalam berbagai tatanan sistem kehidupan manusia. Termasuk dalam soal di mana seharusnya Tuhan dan nilai intrinsiknya harus diletakkan.

Sulit bagi saya membayangkan bagaimana manusia modern mampu menciptakan bio teknologi yang sekarang ini ada, jika tidak ada peran sebelumnya. Misalnya soal pembuatan bayi tabung dan bahkan menciptakan manusia jenis kloning. Kabarnya telah dilahirkan di Korea Selatan bernama Eva. Hal ini tidak mungkin terjadi, tanpa pernah ada sekelompok manusia yang secara spekulatif filosofis, merumuskan gagasan kefakarannya dari jaman ke jaman. Revolusi bio teknologi tidak hanya dapat diterapkan pada tumbuhan dan binatang, tetapi juga pada diri manusia sendiri.

Peran Ibnu Rusyd di Dunia Barat

Memang agak sedikit berbeda dengan tradisi Muslim, Barat membangun peradabannya dengan mengabdikan “keperkasaan” Yunani Kuna . Nama Planet di luar angkasa, nama roket ruang angkasa, desain arsitektur mutakhir, drama popular, ide umum tentang filsafat dan politik, selalu berakar dari cerita Yunani. Bahkan nama-nama penyakit yang sudah umum, sering dinisbatkan pada cerita-cerita yang berkembang di Yunani Kuna.

Yunani Kuna menurut Akbar S. Ahmed terus mempengaruhi peradaban Barat, karya seni, desain dan karya sastra yang vulgar sehingga filsafat yang tinggi, dan terus dihasilkan bangsa Barat. Mereka, memperlihatkan adanya pengaruh yang adikuat dari bangsa Yunani.

Namun demikian, bukan berarti bahwa Islam tidak memberi apresiasi terhadap pengaruh Adikuat Yunani. Islam mengakui supremasi peradaban dan ilmu, hanya saja, dimensi teknologi di masa keemasan Barat modern, tidak dapat dilepaskan dari ide-ide normative yang dibangun masyarakat Muslim. Dengan bahasa lain, Barat memiliki hutang budi pada dunia Islam ketika mereka melahirkan peradaban.

Hatta hari ini, ide-ide Plato dan Aristoteles, sebagai tokoh dan figure kunci dalam pemikiran Yunani, tetap mempengaruhi cukup signifikan terhadap perkembangan peradaban Barat Modern.

Rumusan Plato

Konsep Plato terhadap hirarki alamiah dalam masyarakat, tentang Negara ideal yang diperintah sekelompok “garda” yang di India hampir sama seperti kasta Brahmana yang statusnya tinggi, atau kelas penguasa seperti terjadi di Inggris masih menjadi patokan dasar dalam pembangunan sistem politik kenegaraannya. Foseter menyebut Plato sebagai pembimbing hidup bagi masyarakat Eropa dan Barat. Kondisi ini sekali lagi menyiratkan bahwa betapa besarnya pengaruh Yunani Kuna terhadap peradaban Barat kontemporer.

Karya Shakespeare, Troilus and Cressida, telah memberikan wawasan yang cukup penting tentang politik dan masyarakat Yunani. Akbar S. Ahmed menyebut karya Shakespeare ini sebagai orang yang paling gamblang dalam memberikan gambaran tentang Yunani. Cerita Rambo yang selalu berhasil mengalahkan pasukan musuh di Vietnam, juga sebenarnya merupakan terjemahan baru dunia Barat modern terhadap karya sastra yang pernah dihasilkan masyarakat Yunani. Sastra dan seni dunia Barat modern, ternyata banyak juga dipengaruhi oleh pikiran-pikiran Yunani Kuna.

Peran Yunani dalam Peradaban

Jika penelusuran pengaruh Yunani terhadap dunia Barat modern terus berkembang, munculnya fasisme Eropa dan Barat pada umumnya, dalam banyak analisa, adalah pengaruh Plato juga. Apa yang terjadi dengan Nazi di Jerman atau penolakan masyarakat kulit putih terhadap masyarakat kulit hitam di Barat, menurut Toynbee, Russel dan Popper adalah bukti pengaruh pemikiran Plato. Dia mengidamkan pembentukan Negara Kota ideal yang dikuasai orang-orang ideal. Meski menurutnya, melakukan kritik terhadap pemikiran Plato yang berakibat fasis itu, akan berakibat fatal terhadap sikap pandang masyarakat Barat dan Eropa terhadap para kritikus itu sendiri.

Gambaran singkat tentang perkembangan filsafat, ilmu dan teknologi tadi, sengaja saya ungkapkan agar pembaca dapat melihat secara jelas lintasan sejarah pengetahuan yang pernah berkembang dalam sejarah manusia. Manusia modern diharapkan dapat memberi apresiasi terhadap sejumlah komunitas yang telah berusaha menyelamatkan filsafat dan ilmu. Sehingga kecongkakan dengan mengabaikan peran serta komunitas lain dalam melahirkan ilmu menjadi tidak mungkin dilakukan.

Dunia Islam misalnya, meski hari ini jauh tertinggal dibandingkan dengan dunia Barat yang Kristen, Ia tetap memiliki warisan luar biasa. Bahkan ketika ketertinggalan jauh kalah dibandingkan dengan penganut agama lain, peran itu tetap sulit diabaikan. Peran Islam dalam menata ilmu politik, ekonomi, kebudayaan dan peradaban, pengaruhnya, sekali lagi tetap besar.

Islam mampu melahirkan kembali ilmu pengetahuan dunia pasca kevakuman dunia yang “dimatikan” sebagian kaum Gerejawan dan kaum mitologis. Di era Islam ini, filsafat yang berkembang di Yunani, dalam beberapa hal bahkan telah “dibumikan” ke dalam teori-teori pengetahuan yang praksis dan mapan. Selain tentu mengandung nilai spritualitasnya.

Analisa Thomas Kuhn

Jika pelacakan ini diteruskan, dunia Barat dengan semboyan dan kesombongan modernitasnya, sebenarnya merupakan lanjutan logis dari perkembangan pemikiran Islam. Perkembangan itu berjalan dalam irama sendiri, item demi item secara berkelanjutan. Tidak ada sekelompok komunitas masyarakatpun yang berhak untuk mengklaim bahwa modernitas secara tunggal hanya dihasilkan sekelompok dirinya sendiri. Orang atau sekelompok komunitas masyarakat, tanpa sedikitpun memperoleh sumbangan dari kelompok lain.

Thomas S. Kuhn (1970) menyadari pentingnya soal ini. Ia mengislustari bahwa setiap komunitas masyarakat, setiap fase hidup dalam manusia, selalu tersedia paradigma sesuai dengan konteks waktu dan tempat. Satu paradigma sesuai dengan paradigma lain, selalu sering sejalan dan saling melakukan antitetik. Yang terjadi, dialektika keilmuan sebenarnya sudah ada, bahkan sejak manusia pertama, Adam lahir. Atau setidaknya ketika Adam memfungsikan dirinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Selain itu, lintasan sejarah ini memberi kita sejumlah pengertian dan sekaligus alasan. Alasan untuk disebut bahwa setiap lakon sejarah, pasti memberi warna tersendiri serta back ground-nya sendiri yang khas. Dialektika ini terus berlanjut dari dulu sampai sekarang. Contoh, ketika filosof Yunani yang dikawal Socrates, Plato da Aristoteles mengembangkan prinsip empiric-rasional. Corak ini sebenarnya akan menjadi antitesis dari corak Yunani awal yang mistis. Artinya, semangat empirik-rasional sensual yang lahir di Yunani, merupakan respon dari corak sebelumnya.

Simpulan

Karena itu, upaya melakukan integrasi adalah respons ilmiah. Saham terbesarnya justru karena kuatnya semangat keilmuan yang basisnya murni positivistik. Problemnya, bagaimana upaya sintesa ini, kembali dilakukan seperti pernah diperagakan para pendahulu Muslim awal?

Era ini, patut dianggap mampu “mengquduskan” ilmu Yunani Kuna setelah vonis sebagian besar masyarakat kristen atas paganisme Yunani. Di letak ini, Integrasi ilmu, harus diakui bukan hanya ilusi atau mimpi, tetapi, memiliki ruang historis yang cukup luas diimplementasikan. Meski catatan kecilnya harus diakui agak sulit dilakukan. Prof. Cecep Sumarna

  1. Danty Adi Sudarno Jafar berkata

    Menurut Harun Nasution dalam bukunya “Filsafat Agama” mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan epistemologi adalah “Ilmu yang membahas apa pengetahuan itu dan bagaimana memeperolehnya”.
    Fudyartanto mengatakan bahwa epistemologi berarti ilmu filsafat tentang pengetahuan atau dengan kata lain filsafat pengetahuan. Rumusan lain diberikan oleh Anton Suhono mengatakan bahwa epistemologi adalah teori mengenai refleksi manusia atas kenyataan.
    Integrasi adalah sebuah sistem yang mengalami pembauran hingga menjadi suatu kesatuan yang utuh. Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.

  2. Mana rul berkata

    jadi yang di maksud khalifah menguasai dimensi duniawi dan ukhrowi secara bersama dalam dirinya yang tunggal itu mungkin adalah islam datang pada keadaan asing Maka kembali juga pada keadaan asing, dan islam datang pada awal adanya khalifah. Dan sebai baiknya khalifah di bumi yaitu nabi Muhammad saw, yang di beri mu’jizat oleh Allah SWT berupa Alquran, dimana Alquran dijadikan sebagai petunjuk, hidayah atau pegangan hidup umat muslim. Khalifah di bumi besar kemungkinan tidak akan bisa melakukan apa apa tanpa petunjuk atau hidayah, jadi khalifah di bumi pasti membutuhkan petunjuk yang jelas,yang disimpulkan dalam satu wadah yaitu Alquran, Alquran mengajarkan semua tentang kehidupan, khabar berita, kisah hidup dan lain lain, sehingga islam datang dengan politik, atau islam akan jaya, islam akan menyebar luas hanya melalui kekuasaan.

  3. Fakhira Alifatunnisa berkata

    Menurut Algahzali ilmu itu terbagi ke dalam dua bingkai yaitu ilmu agama dipandang sebagai fardu ain, dan ilmu dunia dipandang sebagai fardu kifayah. Dan pada saat itu masyarakat berkeyakinan bahwa ilmu dunia tidak penting. Dan dibantah oleh ibnu rusyd karena semua ilmu itu suci dan berasal dari Tuhan. Maka terjadilah disintegrasi ilmu artinya tidak bersatu. Sebenarnya penemuan ilmu ilmu tentang penyakit, obat-obatan, pesawat terbang, matematika, dan yang lainnya itu merupakan orang-orang dari Islam tetapi sayangnya sekarang masyarakat beranggapan bahwa yang menemukan semua itu bukanlah orang Islam. Sebenarnya perkembangan ilmu yang terjadi di eropa berasal dari Islam, tetapi akibat kejadian perang salib umat Islam mengalami kekalahan dan banyak orang-orang jenius Islam yang meninggal, dan mereka mengambil buku-buku yang ada di perpustakaan terbesar di dunia kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa mereka dan dibawa ke negara mereka. Pada saat sebelum perang salib sebenarnya mereka mengalami kemunduran perkembangan ilmu dan setelah kejadian perang salib akhirnya mereka hidup kembali dalam perkembangan ilmu. Pada hakikatnya penggabungan ilmu agama dan ilmu dunia secara ilmiah itu harus diimplementasikan agar dapat bermanfaat.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar