Peradaban Manusia Modern

0 405

Peradaban Kemanusiaan Di Era Modern: Orang-orang yang akan memasuki era global yang akan datang –dari kalangan individu dan bangsa- dan menjadi materi satu umat global yang memiliki satu peradaban kemanusiaan adalah dua golongan.

Golongan Peradaban Kemanusiaan

Golongan pertama yang tandanya menonjol di tangan sedikit orang yang bertebaran di muka bumi. Seperti Maurice Bukady dan Raja Jawardi dari kalangan Muslim. James Baker, Jonas Solk dan Rene Dubos dari kalangan Kristen. Abraham Maslow dari kalangan Yahudi dan Alvin Tofler dari kalangan futuris. Dari era kebudayaan yang sama untuk melawati masa depan yang berawan.

Sedikit individu perintis ini –saat ini- berbeda-beda derajat perasaan mereka terhadap masa mendatang. Watak dan keyakinan yang akan dihadapinya. Sebagian dari mereka -seperti Bukady dan Jarwadi- mencapai derajat kesadaran akan era ini. Dan sebagiannya masih dalam tahapan ketinggian yang berkabut melalui benang-benang fajar masa depan.

Adapun golongan kedua yang akan diikuti tanda yang dominan. Maka pembukaan dan materinya yang belum diolah muncul dalam kelompok ini –yang tidak sedikit- yang bertebaran di muka bumi. Yang sempit dengan sekumpulan era yang dijalaninya. Ia menggambarkan kesempitan dan penolakannya dengan teknik yang mentah; tidak sadar dan bersifat berlebih-lebihan; aneh dan tidak memiliki kecenderungan. Ia sendiri, pada dasarnya, mencari petunjuk dan orientasi untuk keluar dari era yang telah berakhir waktunya dan melewati era yang permulaannya telah banyak ditemui.

Para Pengikut Leluhur

Adapun “para pengikut leluhur” yang akan menghentikan gerak sejarah. Mereka tetap berada dalam era kebudayaan fanatisme kesukuan; mazhab; wilayah; ras dan buta akan sinar masa mendatang. Mereka mempraktekkan peran sewenang-wenang. Lambat di hadapan waktunya dan mencari penghidupan pada kegaduhan pendengaran dengan teriakan:

 إِنَّا وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 23)

Mereka akan tetap haus dan menendang-nendang hingga datang pemimpin mendatang dan bala tentara era baru untuk melemparkan kebusukan dan “kebapakan” mereka dalam sumur seperti sumur yang Rasulullah SAW melemparkan ke dalamnya kebusukan para pemimpin “kebapakan” jahiliah seperti Abu Jahal dan Umayah bin Khalaf dan akan roboh kebudayaan mereka seperti robohnya konsep pengabdi, peramal dan penyelamat Persia dan Romawi.

Dunia modern berinteraksi dengan sangat cepat dan bersiap-siap akan kelahiran baru sesuai dengan hukum sosial yang intinya adalah “Kelestarian bagi yang Paling Sadar dan Bijak” atau apa yang disebut oleh Jonas Solk dengan “The Survival of the Wisest”.

Generasi Al Fuqaha Al Alamin

Pendidikan Islam harus meningkat ke taraf yang dipersiapkan untuk mengeluarkan generasi al fuqaha al alamin yang akan meninggikan penglihatan roman era global mendatang dan membantu elemen-elemen utamanya, kemudian menyerahkan -kepemimpinan dakwah- seruan kepadanya dan peringatan dari keterbelakangan di perlintasannya.

Nalar Muslim tidak boleh terus menerus terpenjara dalam keterasingan yang masih dijalaninya sejak waktu yang lama dan melihat semua interaksi dengan peristiwa dan kebudayaan Barat sebagai bahaya atas kesucian dan kemurniaannya, dan komplotan yang bertujuan membunuhnya.

Kita harus memasuki pergulatan pemikiran global modern dalam global village dengan meminta petunjuk kepada pengarahan Qur`an yang mengajak kepada adaptasi dengan urusan-urusan ketuhanan yang baru, كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ “Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (Qs. Ar-Rahman [55]: 29) dan yang menyerukan kepada persiapan akan masa depan وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” (Qs. Al Hasyr [59]: 18)

Dan hendaknya kita percaya bahwa akhir yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa yakni orang-orang yang menjauhi kebodohan dan dampaknya. Kita harus melihat perkembangan yang terjadi di muka bumi seluruhnya dengan penglihatan yang bebas dari ikatan negatif, stagnasi dan horizon yang sempit, dan menjadi penengah antara manusia, menjadi saksi atas kebenaran, kita mengatakan kepada pemilik kebenaran: Ini benar dan kami mengucapkan selamat kepadanya. Dan kita mengatakan kepada pemilik kesalahan: Ini salah, dan kita mendebatnya dengan cara yang baik terhadap apa yang ia miliki berupa pemikiran, kejelasan dan kebenaran.

Dengan begitu kita tidak mengurangi manusia dari segala sesuatunya dan kita mencari kemuliaannya –jika kita tidak mencari cinta mereka- sehingga kita menjadi orang yang dipercaya atas kebenaran sebagaimana Allah inginkan terhadap orang-orang yang beriman dan sebagaimana Rasulullah SAW janjikan kepada para sahabatnya dari kalangan penakluk pertama.

Oleh Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...