Peran BM Diah dan F Wuz dalam Pemberitaan Kemerdekaan RI

Peran BM. Diah dan F. Wuz dalam Penyebaran Berita Kemerdekaan
0 1.752

Beberapa jam setelah Soekarno membacakan teks proklamasi dan bendera merah putih telah berkibar, Soekarno memanggil Burhanudin Mochammad [BM] Diah. Ia meminta jurnalis kawakan milik Indonesia asal Kutaraja [Banda Aceh] itu, untuk terus menyebarkan berita tentang kemerdekaan Indonesia. BM. Diah diminta untuk menggandakan teks proklamasi sebanyak-banyaknya dan menyiarkannya secara langsung ke seluruh dunia.

Meski dalam jumlah yang sangat terbatas, BM. Diah juga diminta untuk menggunakan semua alat komunikasi yang ada. Ia diminta untuk menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan yang baru beberapa jam dibacakan Soekarno-Hatta. Karena itu, tidak heran jika pada pukul 15 sore, teks proklamasi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio Kantor Waidan bernama F. Wuz.

F Wuz adalah seorang Markonis. Adakah di antara kita yang tidak tahu makna markonis? Arti kata markonis adalah dia yang biasanya melayani telekomunikasi di kapal. F Wuz menerima laporan teks proklamasi dari Kepala Bagan Radio Kantor Domei, Weidan B. Palenewen. Syahrudinlah yang memintanya untuk terus menyiarkan berita tentang kemerdekaan Indonesia dalam waktu setengah jam sekali.

F. Wuz secara langsung menyebarkan berita proklamasi dimaksud dan tidak berhenti. Berturut-turut, setiap setengah jam sekali sampai pukul 16.00, ia memberitakan pembacaan teks proklamasi. Ia mengambil peran besar meski berhadapan dengan pihak tentara Jepang.

F. Wuz akhirnya dikenal sebagai tokoh Pembaca Berita Proklamasi di Radio. Pengalaman ini juga yang membuat dia bersama Yusuf Ronodipuro, dalam perkembangan selanjutnya, menjadi perintis lahirnya siaran RRI. Berkat pengungkapan yang tidak ada hentinya oleh F. Wuz ini, teks proklamasi akhirnya sampai ke banyak negara.

Sikap Jepang terhadap kemerdekaan

Jepang mengetahui kemerdekaan itu dari berbagai sumber berita, salah satunya pada apa yang dilakukan BM. Diah dan F. Wuz. Jepang kemudian melakukan penyegelan terhadap seluruh pemancar radio. Sikap Jepang yang demikian, membuat kaum muda Indonesia, malah terus mengawal proklamasi kemerdekaan.

Mereka kemudian menggunakan media-media koran Nasional seperti Suara Asia [Surabaya], Cahaya [Bandung], Sinar Matahari [Yogyakarta], Sinar Baru [Semarang]. Melalui koran-koran ini pula berbagai kejadian tentang prosesi kemerdekaan dan kondisi nusantara setelah merdeka, terus terberitakan.

Tidak hanya sampai di situ, Soekarno juga meminta kepada para Gubernur untuk melakukan hal yang sama. Misalnya ia meminta Tengku Moh. Hasan [Sumatera], Sam Ratulangi [Sulawesi], Ktut Puja [Nusa Tenggara] dan Moh. Noor [Kalimantan]. Para Gubernur yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Jepang sekalipun, turut serta menyebarluaskan berita tentang kemerdekaan Indonesia.

Di luar itu semua, kaum muda kemudian menyusun suatu gerakan untuk mempertahankan kemerdekaan. Antusiasme dimaksud terlihat dari dibentuknya beberapa kelompok aksi, yang antara lain: [1]. Kelompok pemuda Menteng 31 dengan Sukarni sebagai pemimpinnya. Kelompok ini dikenal dengan sebutan Komite Van Aksi Menteng 31. [2]. Kelompok mahasiswa Ika Daingaku yang bermakas di prapatan 10. [3]. Kelompok mahasiswa Islam di Balai Muslimin Jl, Kramat 19. [4]. Kelompok Mahasiswa Cikini 71. [5]. Kelompok Syahrir di Jl. Maluku; [6]. Peta rumah, Heiho, seinendan, BKR, dan; [7]. Kelompok Barisan Pelopor.

Kelompok-kelompok inilah, yang dalam beberapa hari kemudian, melancarkan gerakan pelucutan senjata tentara Jepang dan mengambil alih tempat-tempat strategis. Mereka akhirnya berhasil merebut seluruh jaringan Radio Jepang pada 11 September 1945. Karena itu, pada tanggal dimaksud kemudian dikenal dengan Hari Lahir Radio Republik Indonesia. Prof. Cecep Sumarna –sumber berita ANTARA

Komentar
Memuat...