Peran dan Tugas Mulia Guru di Era Temporer

0 78

TUGAS Mulia Guru. Menganalisis UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, guru berkewajiban, paling tidak: Pertama, Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; Kedua, Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; Ketiga, Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; Keempat, Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan Kelima, Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa

 “Waktu saya sekolah dulu, saya sering datang berterima kasih kepada guru, jika guru menghukum saya. Sekarang moral anak rontok”. (Mahfud MD., Ketua MK periode 2008-2013)

Untuk kepentingan tersebut di atas dengan memperhatikan kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990), serta Yelon and Weinstein (1997) yang diadaptasi kembali oleh E. Mulyasa (2011) paling tidak dapat diidentifikasikan sedikitnya 19 peran guru yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaru (inovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet dan sebagai kulminator.

Peran Guru di Era Temporer

Di era pendidikan temporer, paradigma guru mengambil peran:

  1. Guru sebagai ustadz; Guru sebagai ustadz adalah orang yang berkomitmen terhadap profesionalisme yang melekat pada dirinya sikap deduktif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja atau guru yang harus mengajar bidang pengetahuan agama Islam;
  2. Guru sebagai muallim; Guru sebagai muallim adalah orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya serta transfer ilmu pengetahuan;
  3. Guru sebagai Mudarris; Guru sebagai mudarris ialah orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui keahliannya secara berkelanjutan dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan serta melatih kertrampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya;
  4. Guru sebagai Muaddib; Guru sebagai muaddib ialah orang yang mampu mempersiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan;
  5. Guru sebagai Murabby; Guru sebagai murabby ialah orang yang mendidik dan mempersiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur  dan memelihara hasil kreasi untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya;
  6. Guru sebagai Mursyid; Guru sebagai mursyid ialah orang yang mampu menjadi model dan sentral identifikasi diri atau menjadi pusat satuan teladan dan konsultan bagi peserta didik.

Dengan melihat perannya yang sedemikian mulia dan terhormat, maka posisi guru hendaknya benar-benar menjadi profesi yang berangkat dari hati, sehingga dalam melaksanakan tugas tidak hanya menggugurkan kewajiban tapi juga sebagai sebuah kehormatan, amanat Allah dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Di sisi lain juga harus ada upaya dari pemegang kebijakan—dalam hal ini pemerintah—supaya tetap ‘memuliakan’ guru dan ada keberpihakan, baik dari sisi peningkatan mutu dan profesionalismenya, maupun dari sisi finansial.

Sebagai seorang guru, rasulullah dalam sabdanya memberikan penghargaan:“Barang siapa berilmu dan beramal serta mengajar, maka orang itu disebut “orang besar” di segala penjuru langit.” Dan, “Sebaik-baiknya pemberian dan hadiah ialah kata-kata berhikmat. Engkau dengar lalu engkau simpan baik-baik. Kemudian engkau bawakan kepada saudaramu muslim, engkau ajari dia. Perbuatan yang demikian mempunyai ibadat setahun”. ** (Dr. H. Masduki Duryat, M. Pd.I)

Read More:

Moralitas Peserta Didik Indonesia Sangat Memperihatinkan

Peran Guru dalam Pembentukan Moral Peserta Didik

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.