Inspirasi Tanpa Batas

Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pencapaian Tujuan Nasional

Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pencapaian Tujuan Nasional
0 171

Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI), termasuk di antara mereka yang berada dalam kelompok profesional. GPAI patut dianggap dapat menjadi domain penting dalam mentranformasi nilai-nilai agama Islam kepada siswa khususnya dan kepada masyarakat pada umumnya.  Apa yang disebut dengan nilai Islami harus selalu melekat pada sosok guru PAI. Karena itu, peran GPAI sebenarnya sedemikian penting dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan. Karena, selain ia dituntut memiliki pengetahuan luas agar mampu melakukan proses transformasi dan perubahan kognisi masyarakat juga dituntut memiliki kehalusan budi. Tujuannya, agar GPAI mampu “menjembatani” prinsip-prinsip moderenitas yang terus berkembang dan dianggap jauh dari nilai-nilai agama dengan nilai-nilai agama itu sendiri yang dalam kasus tertentu sering disebut  normatif sekaligus dogmatif.

Ada trend baru dalam dunia pendidikan hari ini. Trend dimaksud mengisyaratkan bahwa pendidikan harus kembali menjadi pengawal perubahan yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Tampaknya perlu diakui bahwa dunia pendidikan, belakangan ini, sering kali tidak mampu menjawab tantangan, bahkan meski hanya sekedar mengikuti perubahan. Arus transformasi yang dinakhodai teknologi informasi, telah mengalahkan apapun, termasuk mengalahkan peran dunia pendidikan dalam menstranformasi apa yang disebut dengan nilai-nilai Islami.[1]

Di Indonesia, keadaan ini dijawab dengan perubahan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003. UU dimaksud lahir sebagai koreksi terhadap UU Nomor 02 tahun 1988 tentang Sisdiknas, yang dianggap tidak cukup memadai untuk menjawab tantangan global yang cenderung sekular. Lahirnya UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, dengan demikian dapat dipandang sebagai langkah revolutif untuk mendorong perubahan paradigma pendidikan yang sebelumnya dianggap sekular dimaksud, menuju trend baru yang lebih religius.

Perbedaan mencolok antara UU Nomor 02 tahun 1988 dengan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terletak pada kata kunci tujuan pendidikan. UU Nomor 02 tahun 1998, hanya menempatkan iman takwa sebagai sub ordinate dari manusia sempurna, sedangka UU Nomor 20 tahun 2003, justru menempatkan iman dan takwa sebagai tujuan utama dari pelaksanaan pendidikan.

Saya melihat bawa sejak saat itu, dunia pendidikan di Indonesia terus menerus mengalami perubahan. Tahun 2005 misalnya, lahir UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang mengatur bagaimana pendidikan ditingkatkan dari sisi pembiayaan dan peningkatan profesionalisme tenaga pendidiknya yang berbasis pada empat kompetensi dasar. Empat kompetensi dimaksud adalah: 1). Kompetensi Profesional; 2). Kompetensi Pedagogik; 3). Kompetensi Kepribadian, dan; 4). Kompetensi Sosial. Belum kalau berbicara mengenai Peraturan Pemerintah sebagai turunan dari dua UU dimaksud. [2]

Berbagai kecenderungan dengan nalar perubahan UU di atas, trend dunia pendidikan sekarang, bukan hanya terjadi dalam cakupan kurikulum yang skalanya bersifat nasional, tetapi, juga dalam cakupan kurikulum yang bersifat lokal. Perubahan juga terjadi dalam model pengembangan lembaga pendidikan, mulai dari yang mengelompokan sebagai “kaum mapan” seperti selama ini ada, sampai kepada pendidikan yang mengelompokkan diri sebagai lembaga pendidikan modern.

Tujuannya sama, yakni bagaimana dunia pendidikan mampu menjadi pengawal perubahan yang saat ini cenderung dikuasai dunia maya, termasuk di dalamnya dikuasai dunia televisi. Padahal, dalam banyak hal, dunia maya, cenderung membawa manusia pada cara kerja meniru yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. [3]

Perubahan yang terjadi dalam dunia penddikan, karena itu, dalam kacamata tertentu, lebih disemangati dari satu asumsi bahwa secara sosiologis, manusia terus berubah dan sekaligus pengubah manusia, harus dimulai atau serendahnya dikawal dunia pendidikan. Banyak soal yang sebelumnya tidak ada dalam dunia pendidikan, kini menjadi ada. Sesuatu yang sudah ada, diharapkan terus berkembang menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Proses perubahan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini, secara tidak langsung  menyebabkan terjadinya pegeseran wawasan dalam masyarakat.

Dunia pendidikan kontemporer dituntut mampu menciptakan manusia yang dapat mengimplementasikan makna kependidikan. Alat ukur kemampuan itu dapat dilihat dari kemampuan output melakukan kerjasama, melakukan kompetisi dengan dunia luar dan kemampuan output untuk mengimplementasikan makna keberagamaan, sebagai tujuan akhir dari pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Keinginan ini tidak dapat dilakukan begitu saja oleh lembaga pendidikan formal- Sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, harus mampu menanamkan sikap-sikap dimaksud dengan melakukan perubahan yang demikian kompleks dalam institusi pendidikan.

Saya melihat bahwa titik tekan sekolah, dimanapun dalam jenjang apapun, seharusnya, selain ditutntut mampu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam bidang-bidang umum seperti: Matematika, Sains dan Bahasa Asing khususnya bahasa Inggris dan Bahasa Arab, juga dituntut untuk menjadikan pelajaran PAI sebagai core pencapaian tujuan pendidikan institusional di lingkup sekolah. Jika hal ini mampu dilakukan suatu sekolah, maka menurut saya, dapat disebut sebagai pionir dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional karena, telah menempatkan iman dan takwa sebagai kunci utama pencapaian tujuan pendidikan Nasional.

[1] Arini Hidayati. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998. Sebagai bahan bandingan lihat juga tulisan Dedy Mulyana dkk. Bercinta dengan Televisi. Bandung: Rosdakarya, 1997. Lihat juga Jalaludin Rakhmat. Catatan Kang Jalal: Visi Media Politik dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997.

[2] Peraturan Pemerintah dimaksud dapat terlihat misalnya dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru, Dosen dan Tunjangan Kehormatan Guru Besar, Perpres Nomor 52 tahun 2009 tentang tambahan Penghasilan bagi Guru PNS, Permendiknas Nomor 39 tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan, Permendiknas Nomor 58 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Program Sarjana (S1) Kependidikan bagi guru dalam Jabatan dan  Penerbitan Permendiknas Nomor 7 tahun 2010 tentang Pemenuhan Kebutuhan, Peningkatan Profesionalisme dan Peningkatan Kesejahteraan Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas di kawasan perbatasan dan Pulau Terpencil.

[3] Ignus Sumarya SJ. Pendidikan Nilai/Budi Pekerti: Mata dan Telinga. http://re-searchengines.com/sumarya-sj2.html. Tanggal: 2 Desember 2002. Ignus menulis: Hasil penelitian di Amerika Serikat ditemukan bahwa: “seorang anak yang menonton televisi satu jam saja, sudah akan berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari mereka”. Anak memilih siaran-siaran yang diminati seleranya. Mengikuti selera dalam tulisan Ignus berarti memuaskan keinginan pribadi, dapat pula dikatakan “memuaskan nafsu”. Dalam pendidikan menurut Ignus, soal selera persis seperti seorang dokter yang diminta menjaga kesehatan tentara ketika berperang. Tugas itu, antara lain menyediakan makanan yang memadai demi kesehatan. Perhatian terhadap mutu gizi dan banyaknya makanan akan mempengaruhi kualitas kesehatan tentara. Demi kesehatan apa disediakan dokter harus dimakan habis, mereka tidak boleh makan menurut selera sendiri. Karena kalau tentara makan menurut selera sendiri, mereka tidak akan sehat dan dengan demikian tidak layak menjadi prajurit yang siap tempur. Kalau makan menurut selera tidak sehat untuk pertumbuhan dan perkembangan phisik, bagaimana jika pergaulan dan bekerja hanya mengikuti selera? Bukankah juga tidak sehat? Anak yang cenderung mengikuti selera atau akan cenderung menjadi egois dan jika ia menghadapi tantangan ia akan cepat marah dan bahkan mencelakakan orang lain. Dr. Hj. Ety S. Tisnawati

Komentar
Memuat...