Inspirasi Tanpa Batas

Peran Guru dalam Dinamika Kebangsaan Indonesia

0 75

Konten Sponsor

Guru sering diterjemahkan dengan digugu dan ditiru. Mereka dikenal berwibawa di mata masyarakat, terlebih di hadapan murid-murid mereka. Dalam kasus tertentu, guru bahkan sering dianggap sebagai lambang kesucian dan keagungan. Lambang keluhuran bangsa dan sekaligus penentu nasib bangsa itu sendiri.

Suatu adagium yang menyatakan: “Bangsa yang hebat dan besar adalah mereka yang menghormati guru”, selalu menjadi ciri nyata kehebatan bangsa itu sendiri. Artinya, mereka yang tidak pernah menghormati guru, maka, hal itu dapat menjadi lambang, runtuh dan rendahnya kualitas bangsa dimaksud.

Di masa lalu, penghormatan terhadap guru, meski terkesan berlebihan, tetapi nyatanya itu menjadi lambang kehebatan guru. Misalnya, jika ada seorang guru yang lewat, bukan hanya murid mereka yang membungkuk. Masyarakat pada umumnya, juga sama! Mereka membungkuk sebagai lambang penghormatan atas kehebatan guru dimaksud.

Penghormatan masyarakat terhadap guru, bukan lantaran mereka memperoleh uang yang banyak. Bukan pula karena derajat kekuasaan mereka tinggi. Mereka dihormati justru karena kesahajaannya. Mereka dihormati karena keluhuran budi pekerti dan karena keluasaan pengetahuannya. Mereka selalu tampil menjadi problem solver bagi dinamika umat yang bertumbuh didalamnya.

Beberapa Contoh Kehebatan Guru

Beberapa bukti atas keluhuran budi dan keluasan ilmu guru di masa lalu, terlihat misalnya, ketika mereka harus menyelesaikan keluarga anak yang orang tuanya meninggal. Mereka menjadi problem solver, bukan hanya menjadi pemimpin tahlil, tetapi, juga menjadi orang yang ahli dalam berbagi persoalan yang ditinggal orang mati dimaksud. Misalnya, soal pembagian warisan, atau menghitung zakat yang belum ditunaikan jika yang meninggal itu meninggalkan kekayaan.

Begitupun saat di lingkungan para guru itu, misalnya ditemukan berbagai deviasi social. Guru tampil menjadi wasit dan problem solver umat. Misalnya, jika di lingkungan di mana guru tinggal itu, terjadi prostitusi, hamil di luar nikah, keterlibatan sebagian masyarakat terhadap Miras, perjudian dan lain-lain, guru itulah yang menjadi hakim sosial. Gurulah yang diundang rakyat dimaksud untuk memecahkan masalah-masalah tadi. hasilnya cukup baik karena masyarakat puas. Ketertiban sosialpun terjamin.

Dengan berbagai dinamika dan potensi guru tadi, maka, meski guru itu tidak kaya atau tidak berkuasa, mereka tetaplah hebat. Mereka menjadi pembimbing umat dan selalu mengawal perubahan masyarakat.

Guru Hari Ini

Hari ini, guru mengalami krisis. Krisis yang terjadi bukan lantaran melemahnya ekonomi mereka. Tetapi, justru krisis moral. Suatu krisis yang seharusnya tidak terjadi pada guru. Mengapa? Sebab krisis dalam sektor ini, telah menyentuh dimensi-dimensi psikologis umat.

Seperti apa krisis guru dimaksud? Sebut misalnya, banyak guru yang terlibat perjudian, Narkoba dan bahkan korupsi. Kondisi ini, secara langsung telah membuat melemahnya posisi tawar guru di hadapan rakyat banyak. Misalnya, hari ini peran-peran guru dalam persoalan kebangsaan tadi, menjadi berkurang kalau bukan hilang sama sekali. Mengapa? Menurut saya karena guru dianggap tidak lagi memiliki kompetensi sehebat guru di masa lalu. Lalu salah siapa semua ini terjadi? Hanya rumput yang bergoyang yang mungkin bisa menjawab. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar