Peran Guru dalam Pembentukan Moral Peserta Didik

0 290

Peran Guru dalam Pembentukan Moral Peserta Didik. Dengan tugas dan misi yang diemban guru sedemikian mulia untuk mengawal moral anak. Dalam bahasa UNESCO membawa misi pembelajaran, learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Sungguh sangat berat. Apalagi konstruksi moral yang dirancang di sekolah kadang tidak sebangun dengan kondisi di tengah-tengah masyarakat dan keluarga.

Sekarang ini ada kepungan yang laten dan sangat berbahaya lebih berbahaya daripada Narkoba. Berbahaya bagi kelangsungan moralitas anak yakni pornografi atau Narkotika lewat mata (Narkolema). Pornografi/narkolema ini mudah diskses kapanpun dan di manapun, “Kalau gempa bumi berpotensi tsunami, maka pornografi yang dilihat anak umumnya tanpa sengaja, lewat peralatan teknologi di tangannya berpontesi tsunami jiwa dengan kerusakan otak permanen”.

Pada pecandu pornografi, Dr. Mark menjelaskan, otak akan merangsang produksi dopamin dan endorfin yaitu suatu bahan kimia otak yang membuat rasa senang dan merasa lebih baik. Dalam kondisi normal, zat-zat ini akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan lebih baik. Tapi dengan pornografi, otak akan mengalami hyper stimulating (rangsangan yang berlebihan), sehingga otak akan bekerja dengan sangat ekstrem dan kemudian mengecil dan rusak.

Candu pornografi membuat orang menjadi dissensitifisasi. Gambar porno yang sudah dilihat tidak akan dilihat ulang karena sudah tidak berpengaruh lagi, yang ingin dilihat lagi adalah gambar porno yang lebih dari gambar sebelumnya, karena rasa senstifnya hilang. Oleh karena itu para pencandu pornografi akan selalu meningkat candunya seperti menaiki tangga, ia ingin lebih, lebih dan lebih lagi. Ketika anak melihat satu kali pornografi maka dia ingin dua, tiga, empat kali lagi. Ketika gambar pornografi sering melewati PFC, maka bagian yang menyimpan moral dan nilai, membuat perencanaan hidup, akan menciut dan mengecil yang mengakibatkan dorongan seks tidak terkendali.

Guru, HAM dan Moralitas Peserta Didik

Serbuan bahaya dari sisi moralitas bagi anak membawa konsekuensi terutama guru untuk menjadi garda terdepan ‘mengawal’ moralitas anak. Otoritas ini kadang ‘diganggu’ oleh pihak lain termasuk orang tua dengan atas nama HAM. Padahal reward and punishment yang dilakukan guru selalu saja bermuatan edukatif. Tidak ada guru yang mendidik dengan rasa dendam dan sakit hati tetapi banyak di antara guru yang mendidik berangkat dari cinta—teaching with love, teaching with heart. Ketulusan ini kadang diinterpretasikan yang berbeda oleh orang tua, lalu ketika ada guru yang ‘menghukum’ anaknya, alih-alih guru dibela dan didukung, malah dipukuli, dipotong rambutnya bahkan dipidanakan.

Komentar Prof. Mahfud MD. “Waktu saya sekolah dulu, saya sering datang berterima kasih kepada guru, jika guru menghukum saya. Sekarang moral anak rontok”. Di awal tulisan ini, memberikan warning jangan sampai guru bersikap apatis, masa bodo, ‘pujareng kono’, dengan kondisi moralitas anak. Guru akan beralih lagi pada paradigma lama, bukan mendidik tetapi hanya mengajar—transfer of knowledge—sangat memprihatinkan. Gus Sholah sampai berkomentar: “Keterlaluan …. hanya persoalan seperti itu jadi masalah hukum … guru adalah pahlawan bangsa”. Di sisi lain guru juga harus melakukan muhasabah, sehingga akan selalu meningkatkan kompetensi profesionalnya, di samping kompetensi pribadi, sosial dan pedagogisnya. Apa yang terjadi pada guru Dasrul, ibu Nurmayani Salam, dan beberapa guru yang lain menjadi pembelajaran dan mudah-mudahan terdapat hikmah yang positif bagi guru-guru yang lain. ** (Dr. H. Masduki Duryat, M. Pd.I)

Read More:

Peran Dan Tugas Mulia Guru Di Era Temporer

Moralitas Peserta Didik Indonesia Sangat Memperihatinkan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.