Inspirasi Tanpa Batas

Peran Karl Marx dalam Membangun Komunisme | Sejarah Komunisme Part – 1

0 92

Konten Sponsor

Peran Karl Marx. Komunisme lahir atas gagasan filosofi Karl Marx. Sebuah faham yang sebetulnya biasa dalam konteks kajian ilmiah. Sebagai sebuah kajian ilmiah, tentu saja ia tidak mendorong orang untuk menjadikan kajian dimaksud sebagai sesuatu yang mengikat. Gagasan  Marx sama seperti gagasan lain, awalnya cair dan tidak terbekukan dalam doktrin yang kaku.

Filosofi Marx ini, secara ilmiah lahir sebagai  antitesis masyarakat Barat dan Eropa pada awal abad 19 yang menjunjung tinggi individualisme dan kapitalisme. Faham ini, dalam anggapan Marx hanya akan melahirkan jurang lebar antara kelompok Borjuis dan kelompok proletar.

Gagasan Marx yang secara ilmiah antitetik itu, dibantu sahabat dekatnya bernama Friedrich Engels. Karena Engel pula, Marx tumbuh menjadi idola; bukan saja di kalangan kaum ilmiah, tetapi juga di hadapan para artis. Di masa mudanya, ia sering dikunjungi artis-artis beken Eropa.

Pertanyaannya, mengapa para artis juga suka terhadap Marx? Sebab ternyata ia memiliki talenta khusus dalam bidang seni dan sastra. Marx muda yang kritis itu, dikenal memiliki kemampuan menulis esai dan puisi kehidupan. Karya seninya banyak menggunakan susunan teologi, yang secara teoritis tentu saja diwariskan ayahnya. Hal itu dapat dibaca dari karyanya berjudul ‘The Deity’. Namun dalam perkembangan selanjutnya, Marx malah banyak membuat karya sastra yang berkarakter ateis. Hal ini dapat dibaca misalnya dari karya puitisnya berjudul Young Hegelian yang di Berlin [Ibu Kota Uni Soviet] karya ini menjadi sangat terkenal.

Pemikiran Marx Diideologisasi Lenin

Setapak demi setapak, pemikirannya berkembang pesat. Sampai kemudian, pemikiran dimaksud memikat pemimpin Uni Soviet, bernama Lenin. Tentu saja, ketika pemikiran Marx masuk dalam bingkai kekuasaan, pertumbuhannya menjadi lebih pesat. Mengapa, karena Lenin membentuk menjadi sebuah ideologi negara. Karena itu, tidak salah jika ada sebagian pengamat yang menyebut bahwa komunisme sama dengan Marxisme atau Leninisme. Meskipun penyebutan ini, tidak selamanya benar.

Marx muda dan dewasa, sebenarnya lebih dikenal sebagai sosiolog, ekonom politik dan sejarawan kritis yang materialis. Sebelumnya, tokoh yang lahir 5 Mei 1988 di Trier, Prusia dan meninggal pada 14 Maret 1883 di London, Inggris ini, tidak menceriminkan dirinya sebagai Bapak sosialisme kiri [ateis]. Ia bahkan lebih menampilkan diri sebagai sejarawan dan sosiolog kritis yang dalam bangunan tertentu, dianggap membahayakan kekuasaan setempat. Pemikiran Marx sering menggugah kaum buruh dan tani [proletar] untuk melakukan pemberontakan terhadap kaum borjuis.

Pengakuan publik pada dirinya sebagai peletak ideologi kiri, baru terjadi ketika ia mendeklarasikan sebuah manifesto komunis yang membahas sejarah pertentangan kelas. Ayah Marx yang bernama Herchel adalah keturunan para Rabi Yahudi yang juga dikenal sangat taat. Terlebih ibunya. Namun di masa remaja Marx, ayahnya berpindah agama menjadi pengikut Protestan Lutheran. Pekerjaan ayahnya adalah pengacara. Sejak kepindahannya menjadi pengikut agama Protestan itu, ayah Marx mengganti namanya menjadi Heinrich.

Gelar Marx

Bapak komunisme yang menjadi gelar bagi Marx, menunjukkan watak ilmiahnya karena ia memang memiliki latar kaum akademik dan politikus tulen. Dalam posisinya sebagai ilmuan sosial dan politikus handal, ia berani memperdebatkan suatu analisanya di hadapan kelompok individualis kapitalis, bahwa kapitalisme hanya akan melahrkan kontradiksi sosial. Suatu pola kontradiksi yang akan menyebabkan terjadinya konflik sosial tanpa henti.

Menurut Marx, kapitalisme pasti hancur. Kapitalisme disebutnya akan berakhir bersamaan dengan kebangkitan komunisme. Kapitalisme akan berakhir karena akan menguatnya aksi [perlawanan] yang sipatnya terorganisir dari kaum kerja [proletar]. Karena itu, komunisme tidak mungkin ciptakan negara, tetapi ia akan menjadi cara ideal membentuk suatu negara. Ia akan lahir menjadi “pelawan” penting atas negara yang dikuasai para penguasa yang tidak peduli pada nasib rakyat. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar