Peran Sastrawan dalam Membangun Bumi

0 12

Tulisan ini akan menjelaskan tentang peran dan pentingnya Sastrawan dalam Membangun bumi. Tulisan ini akan diawali dari suatu pertanyaan tentang: Tahukah anda kalau ternyata, enginer dan employee tidak pernah membangun bumi? Kedua profesi ini, ternyata hanya mampu menjadi partikelir atas gaya arsitektur atau model bangunan, yang didesain secara imaginer oleh ahli susastra. Peran Sastrawan 

Tahukah juga anda kalau tata kelola negara, selalu disusun dalam rumusan kreatif ahli seni yang mengidamkan suatu tata letak kota berdasarkan prinsip imaginer susastra? Tata kelola negara sejak zaman Yunani Kuna di Athena dan beberapa negara bagian lain lima atau empat abad sebelum masehi, pada dasarnya lahir atas kreativitas berpikir kaum demagog (para ahli cerita) yang tidak lain sebagai sastrawan? Para susastralah yang pertama mengawali pentingnya pembuatan kota dan bahkan negara yang ideal menurut cita rasa kesenian mereka. Ahli hokum dan ahli politik, lahir hanya menjadi partikelir atas prakarsa para susantra.

Sastrawan Menyadarkan Dunia

Sampai di manakah kesadaran kita bahwa ternyata, kota-kota dalam sebuah negara, seringkali dipopulerkan bukan oleh para arsitektur dan teknisi yang membangun kota dimaksud, apalagi oleh para kyai dan murabbi yang secara pribadi jauh dari dunia seni? Dunia dan berbagai artefak kejayaannya, selalu tercipta karena karya imaginasi ahli seni dan sastrawan yang kemudian diejawantahkan oleh para engineer yang dimiliki bangsa itu. Karena itu, susastra dapat disebut sebagai pembuka kemajuan, meskipun ia akan segera mengambil jarak ketika kemajuan bangsanya mulai terurai. Ia kembali bersila, duduk dan merenungkan segala hal.

Kesan apa yang muncul ketika Amerika Serikat dianggap digjaya oleh public dunia, ternyata bukan oleh George Washington, apalagi oleh George Walker Bush, tetapi, justru oleh mereka yang memilki kemampuan susastra? Misalnya terlihat dari kasus film Rambo dan penyanyi sekelas Mariah Carry atau Jhon Lenon dan Scorpion.

Saya menyimpulkan, tidak ada negara besar tanpa peran susastra didalamnya. Negara sebesar apapun tidak mungkin dianggap besar, jika negara dimaksud tidak memiliki perhatian serius untuk mengembangkan dunia seni dan dunia sastra. Negeri kecil nan gersang yang hampir tidak mungkin ada penghuni seperti Arab Saudi sekalipun, yang jika tidak dilahirkan para Nabi dan Shalihin di tempat itu, agak sulit untuk dikenal dunia. Yang membesarkan negara yang kecil dimaksud, perannya justru lebih banyak diperagakan oleh seniman dan sastrawan religius yang membingkai dakwah ke dalam irama seni yang sangat seimbang.

Peran Sastrawan  dan Ruang Padat Kemanusiaan

Sastrawan adalah manusia yang selalu berada dalam ruang padat penuh pesona. Ia bukan hanya menyentuh dimensi-dimensi ragawi manusia, tetapi juga dimensi bathiniyah manusia. Sastrawan mampu menyedot perhatian manusia sampai ke ruang tanpa batas. Sastrawan bukan hanya memikat manusia karena olahan struktur bahasa yang dibuatnya, tetapi makna-makna yang dikandungnya memiliki kepadatan isi yang menyinggung siapapun yang jauh dari dimensi kemanusiaan untuk bergerak menuju titik kulminasi kemanusiaan.

Adalah Heurmeus yang secara historis dipandang sebagai manusia pertama yang mendesain Kota Athena dan beberapa kota lain seperti Babylonia menjadi kota dunia. Hermeus membangun kota-kota besar melalui karya demagognya. Ia melantunkan bait-bait suci ilahiyat ke dalam bahasa manusia. Ia menyusun kerangka nalar melalui pendekatan hati, sehingga jika diiBarratkan persis seperti tenunan indah dalam desain pakaian yang cukup mempesona. Melalui dunia sastra yang dimilikinya, Hermeus mampu memintal bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia, sehingga tutur katanya dianggap memiliki nilai magnetik yang bukan hanya memikat orang, tetapi juga mendorong manusia untuk memiliki kesadaran kemanusiaan. Karena itu, iapun kemudian sering disebut Dewa yang membumikan bahasa Maha Dewa ke dalam Bahasa Bumi. Dengan posisi Hermeus yang  demikian, masyarakat Yunani Kuna menyebutnya dengan istilah Dewa. Saya sendiri lebih senang memanggil Heurmeus sebagai Idris, Nabi kedua yang wajib diimani umat Muhammad dari 25 Nabi yang lainnya.

Melompat terlalu jauh ke alam abad pertengahan, kita juga disuguhi informasi tentang kemampuan Leonardo Davinsi yang mampu mendesain sebuah lukisan Monalisa. Karya terbesar abad pertengahan yang tampaknya belum banyak tandingnya sampai hari ini sekalipun. Karya imaginer seniman abad pertengahan ini memang sangat kontroversial dan cenderung ditinggalkan para pengikut Nasrani yang shaleh karena kedalaman maknanya. Banyak orang memandang bahwa lukisan dimaksud cenderung berbau sex materialisme. Bagi saya, karya ini adalah kesadaran pertama yang membangunkan manusia bahwa Monalisa bisa jadi adalah Magdalena of Isa.

Karya lukis Davinsi ini, seperti hendak menyembunyikan Magdalena yang sesungguhnya. Magdalena ingin digambarkan sebagai pewaris keturunan Isa al Masih sebagaimana dilukiskan dalam Novel The Davinci Code, The Jesus Family, atau dalam buku The Holly Blood and The Holly Grail karya termasyhur Dan Brown. Davinsi ingin berkata bahwa Magdalena bukan saja cantik, tetapi juga menarik.

Magdalena adalah satu-satunya wanita yang bukan hanya sekedar mewarisi keturunan Isa melalui rahiemnya, tetapi, juga pemegang kunci rahasia keturunan Isa. Ia adalah satu-satunya wanita yang kakinya dicuci oleh Isa, lalu air hasil pencucian itu diminum Isa sebagai bentuk ketakjuban dan penghargaan yang besar terhadap seorang wanita yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai wanita tanpa susila. Ia adalah wanita suci sepanjang sejarah seperti sucinya Maryam yang menjadi ibu kandung syah bagi Isa.

Peran Sastrawan dan Lakon Historis Manusia

Apapun itu, Hermeus, davinsi dan jutaan sastrawan lain dalam lakon historis manusia di bumi, yang jelas, pikirannya hanya dapat difahami sedikit orang. Ia selalu tetap misteri. Karena karakternya yang demikian, maka, mereka kemudian menjadi legenda. Legenda kemanusiaan yang mengabadikan diri dalam hati mereka yang mencintainya.

Apa yang ingin aku tulis dari cerita di atas? Saya hanya ingin mengajak, mari kita bersastra agar hati kita lembut dalam hidup dan lebih perennial dalam bersikap. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.