Take a fresh look at your lifestyle.

Perayaan Maulid Nabi Menurut Pandangan Islam

0 365

Perayaan Maulid Nabi sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat. Berbagai acara di laksanakan, pawai obor, do’a bersama yang di lanjut dengan makan bersama, mengadakan lomba-lomba dan lain sebagainya. Lalu bagaimana sebenarnya hukum merayakan maulid Nabi?

Kita tidak pernah tahu pasti kapan pertama kali maulid Nabi dilaksanakan. Jika di lihat dari sejarahnya, menurut Al-Maqrizy ahli sejarah Mesir dalam kitabnya Al-Khathat, menyatakan bahwa maulid Nabi mulai ada ketikan zaman Daulah Fathimiyah yaitu daulah syiah yang berkuasa di Mesir. Mereka banyak melaksanakan maulid, mulai dari maulid Nabi SAW, maulid Ali, maulid Fatimah, hingga maulid Hasan dan Husain.

Dari sumber yang lain pun sama, bahwa yang pertama kali mencetuskan perayaan ini ialah Bani ‘Ubaid  al-Qaddah yang menamakan diri dengan kelomok Fatimiyah pada abad ke-4 H. mereka meisbatkan diri kepada putra Ali bin Abi Thalib r.a. padahal mereka adalah pencetus aliran kebatinan. Ibnu Dishan adalah nenek moyang mereka yang dikenal dengan Al-Qaddah. Salah satu pendiri aliran Bathiniyah di Irak. Sumber: konsultasisyariah.com

Para ulama dan pembesar nya bersaksi bahwa mereka adala orang-orang munafik zindiq. Menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Jika ada orang yang bersaksi bahwa mereka adalan orang beriman, berarti mereka belum mengetahui sesuatu. Banyak hal yang menunjukkan kemunafikan dan kezindiqkan mereka.

Inilah alasan mengapa para ulama ahlus sunnah mengingkari keberadaan perayaan ini. Sebab pada hakikatnya, siapa saja yang merayakan peringatan mauled, sama saja dengan melestarikan kebudayaan daulah Fatimiyah yang beraqidah syiah batiniyah.

Selain alasan tersebut, dalam al-Qur’an pun tidak ada penjelasan mengenai mauled Nabi. Nabi tidak mengajarkannya pada umat. Para sahabat Nabi pun tidak melakukannya.

Alasan ditolaknya Perayaan Maulid Nabi

  • Keterangan Tajuddin al-Fakihani (ulama Malikiyah wafat 734 H) Beliau mengatakan saya tidak mengetahui adanya dalil al-Qur’an dan sunnah tentang mauled. Dan tidak ada nukilan dari seorangpun ulama umat ini, yang mereka adalah panutan dalam agama, berpegang dengan prinsip pendahulunya. Bahkan peringatan mauled adalah perbuatan bid’ah yang dibuat ahli bathil. (Risalah Al-Maurid fi Hukmi al-Maulid, hlm 1)
  • Khulafaur Rasyidin dan para sahabat Nabi SAW lainnya tidak pernah mengadakan peringatan Maulid Nabi dan tidak pernah mengajak untuk melaksanakannya. Padahal mereka adaah sebaik-baiknya umat setelah Nabi SAW.
Nabi Muhammad bersabda : “maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap yang bid’ah ialah kesesatan”.
Peringatan Maulid tidak perna dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jikapun perbuatan itu baik, maka mereka telah melakukannya terlebih dahulu. Sebab mereka tidak pernah mengabaikan suatu kebaikan. Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Alus sunnah wal jamaah berpendapat bahwa setiap perkataan dan perbuatan yang tidak berdasar dari Nabi dan sahabat adalah bid’ah.
  • Peringatan hari kelahiran adalah kebiasaan orang-orang sesat dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Seperti keterangan diatas bahwa yang pertama kali melakukannya ialah penguasa generasi Fathimiyah Ubaidiyah. Mereka sebenarnya berasal dari kalangan Yahudi, bahkan ada pendapat mereka berasal dari kalangan Majusi. Orang yang pertama menciptakannya ialah al-Mu’iz Lidinillah al-Uaidi al-Maghribi yang keluar dari Maroko menuju Mesir pada bulan Ramadhan tahun 362 H. sumber almanhaj.or.id

Dari berbagai keterangan dan berbagai alasan diatas sudah mampu mewakili bagaimana hukum memperingati Maulid Nabi. Masih banyak lagi keterangan yang membahas hal ini. Bisa pembaca cari dari berbagai sumber dan berbagai kalangan tokoh ulama. Cara mencintai dan mengningat Nabi cukup dengan melaksanakan sunah-sunahnya, wahyu yang diberikan kepada beliau, dan ajaran-ajarannya. Wallhua’lam bish-shawab. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar