Perbedaan Etika dan Moral Menurut Sebagian Ahli

0 445

Perbedaan Etika dan Moral: Sebagian ahli ada yang membedakan antara  etika  dan  moral. Di dalam filsafat, kata “ethos/etika” juga disinonimkan dengan kata moralis. Etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas. Dengan demikian, yang dihasilkan oleh etika secara langsung bukan kebaikan, melainkan pengertian yang lebih mendasar dan kritis, yang selalu didasarkan pada  affirmasi “untuk apa pengertian ini dicari”?  Sementara,  moral  lebih dekat dengan sebuah ajaran, mulai dari wejangan, khotbah, patokan, kumpulan aturan baik yang berbentuk lisan maupun tulis tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik. Jika etika sumbernya dari sikap kritis dari sebuah ajaran, moral bersumber langsung  dari orang (orang tua, guru, tokoh masyarakat), tulisan, dan sumber ajaran agama.

Baca Juga: Memahami Etika, Moral dan Agama

Etika bukan merupakan sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Dengan demikian, etika adalah sebuah ilmu bukan ajaran. Yang mengatakan bahwa, bagaimana manusia harus hidup bukan etika, melainkan ajaran moral. Etika mau memberikan pengertian dan pandangan mengapa manusia harus mengikuti ajaran moral atau bagaimana manusia dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab ketika berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. Dengan demikian, etika bisa dikatakan sebagai “kurang” dan “lebih” ajaran moral.

“Kurang” karena etika tidak berwewenang untuk menetapkan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh, karena wewenang tersebut diklaim oleh kelompok yang memberikan ajaran moral.

“Lebih” karena etika berusaha untuk mengerti mengapa, atau atas dasar apa manusia harus hidup menurut norma-norma tertentu. Dengan analogi yang sederhana, ajaran moral seperti buku petunjuk bagaimana cara memperlakukan sepeda motor dengan baik, sementara etika memberikan pengertian tentang struktur dan teknologi sepeda motor itu sendiri.

Sebagai makhluk hidup yang bertubuh, berbudi, berjiwa, dan berruh, manusia tidak hanya terkurung dalam tubuhnya sendiri. Ia mampu bertransendensi atas diri dan lingkungan hidupnya. Dari dimensi  ini manusia dapat dilihat dari beberapa aspek di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sebagai subjek moral

Keunikan manusia yang terletak pada akal budinya menjadikan ia mampu mengambil keputusan dan menentukan dirinya sendiri, sekaligus menjadi tuan atas semua tindakan yang berasal dari dirinya sendiri. Sebagai subjek moral, manusia adalah subjek hak dan kewajiban karena dialah pemegangnya. Sebagai pemegang hak dan kewajiban, manusia mampu melakukan sesuatu, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Wan prestasi yang dilakukan manusia, diakibatkan karena mereka terlalu mementingkan dirinya sehingga melupakan kewajiban terhadap yang lain. Kealpaan ini yang akhirnya menjadi sumber konflik dan bencana.

2. Sebagai makhluk menyejarah

Manusia adalah makhluk dinamis, hidup, tumbuh dan berkembang dalam dinamika sejarah. Manusia hidup dalam sejarah, menyejarah dan bahkan menjadi pelaku sejarah yang dapat mempengaruhi manusia lain melalui sejarahnya. Kesejarahan manusia merentang di antara keberadaan manusia kini dan proses “sedang menjadi”. Dengan demikian, manusia sebagai citra Ilahi tidak bersifat statis, tetapi dinamis, dinamikanya terletak pada akal budinya. Manusia sebagai makhluk yang menyejarah, panggilan sejarah atasnya adalah panggilan Tuhan baginya. Sebagai konsekuensi dalam memberikan penilaian moral terhadap tindakan seseorang, perlu diketahui latar belakang dan sejarah tindakannya. Dengan demikian, penilaian moral terhadap tindakan seseorang lebih utuh, objektif, dan menyeluruh.

3. Sebagai totalitas

Pandangan terhadap manusia sebagai suatu kesatuan atau totalitas, merupakan titik tolok pandangan moral. Subjek moral adalah manusia yang integral dan total. Dengan demikian, tindakan manusia harus dipandang sebagai ungkapan kepribadiannya secara totalitas. Tindakan manusia yang disadari dan disengaja mencerminkan kepribadiannya. Ketika seseorang mengatakan “ya” sebagai “ya” dan “tidak” sebagai “tidak” adalah manusia yang mengungkapkan diri dan kepribadiannya dalam kejujuran yang tulus sebagai cermin dari totalitas kepribadiannya. Totalitas tersebut harus selalu dipertimbangkan bahwa manusia adalah makhluk yang bertubuh, berjiwa, dan berruh, yang memungkinkan pendekatannya melalui pelbagai disiplin ilmu seperti biologi, psikologi, dan antropologi. Pelbagai sudut pandang pendekatan manusia tersebut akan membantu manusia untuk mengenali dan memahami kepribadian sesamanya.

Manusia sebagai subjek dan objek moral   dapat dinilai dari berbagai dimensi. Ada yang berangkat dari dimensi empirik biologik yang disebut dengan tindakan manusia (actus hominis). Ada yang berangkat dari dimensi kepribadian dan kemanusiaan yang disebut juga tindakan manusiawi (actus humanus). Penilaian moral adalah penilaian manusia sebagai manusia secara utuh yang mengacu pada baik dan buruk perilaku dan perangainya, bukan sebagai pelaku atau peran terbatas. ** Oleh: Drs. Ahmad Munir

Sumber Bacaan:

Lorens Bagus, Kamus,… h. 672.  Departemen, Kamus Besar…., h. 754.

William Chang, Pengantar Teologi Moral (Yogyakarta: Kanisius, 2001), h. 52.

Komentar
Memuat...