Perbedaan Qira’at yang Berpengaruh Terhadap Istinbath Hukum

0 562

Perbedaan Qira’at yang Berpengaruh Terhadap Istinbath Hukum: Adapun perbedaan qirâ’at al-Qur’an yang khusus menyangkut ayat- ayat hukum, dan berpengaruh terhadap istinbâth hukum, dapat penulis kemukakan contoh sebagai berikut:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ  

Artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.   (Al-Baqarah: 222)

Ayat tersebut merupakan larangan bagi seorang suami, dari melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang sedang dalam keadaan haid. Sehubunngan dengan itu, para ulama telah sepakat tentang haramnya (seorang suami) melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang sedang mengalami haid. Sama halnya dengan kesepakatan mereka, tentang bolehnya melakukan istimâ’ (bercumbu) bagi seorang suami dengan istrinya yang sedang mengalami menstruasi. Adapun batas larangan yang disebutkan dalam ayat tersebut yaitu, sampai mereka (para istri yang sedang mengalami haid) itu, dalam keadaan suci kembali  (حتى يَطْهُرْنَ) .

Sementara itu, dalam qirâ’ah sab’ah, Hamzah, al-Kisâ,î, dan ‘Âshim riwayat Syu’bah, membaca kata  يطهرن dengan يطَهَّرْنَ . Sedangkan Ibn Katsîr, Nâfi’, Abû ‘Amr, Ibn ‘Âmir, dan ‘Âshim riwayat Hafsh, membaca يَطْهُرْنَ.

Berdasarkan qirâ’at يَطْهُرْنَ, sebagian ulama menafsirkan ayat وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ dengan “janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sampai mereka suci atau berhenti dari keluarnya darah haid mereka الطُّهْرُ. Sedangkan qirâ’at يطَهَّرْنَ menunjukan, bahwa yang dimaksud dengan ayat وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطَهَّرْنَ yaitu, “janganlah kamu bersenggama dengan mereka, sampai mereka bersuci التَّطَهُّر.

Berbagai Penafsiran Ulama

Namun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang pengertian التَّطَهُّر, sebagian ulama menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah mandi (الإغتسال باالماء). Sebagian dari mereka berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah wudhu (الوضوء). Sebagiannya lagi mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah membersihkan farj (غسل الفرج). Sementara ulama yang lainnya menyatakan, bahwa yang dimaksud adalah, membersihkan farj tempat keluarnya darah haid dan wudhu (سل الموضع والوضوء) .

Sehubungan dengan ini, Imam Mâlik, Imam Syâfi’I, dan al-Awzâ’i berpendapat, bahwa seorang suami haram hukumnya bersetubuh dengan istrinya yang sedang dalam keadaan haid, sampai ia (isteri) berhenti dari, dan mandi karena, darah haidnya.

Pandangan Imam Syafi’i

Dalam hal ini Imam Syâfi’i, sebagaimana dikutip Hasanuddin, mengemukakan argumentasi sebagai berikut:

1) Bahwa qirâ’at mutawâtirat (dalam hal ini qirâ’at sab’ah), dapat dijadikan hujjah secara ijma’. Oleh karena itu, apabila ada dua versi qirâ’at mutawâtirat (يطهرن dan يطهرن) dan keduanya dapat digabungkan dari segi kandungan hukumnya, maka kita wajib menggabungkannya. Yaitu “sampai ia (isteria) berhenti dari, dan mandi karena, darah haidnya”.

2). Firman Allah (فاذا تطهرن قأتو هن ) dalam rangkaian ayat tersebut menunjukkan, bahwa seorang suami dibolehkan bersetubuh dengan isterinya yang telah menjalani haid. Apabila telah memenuhi persyaratan (التطهر) yaitu, bersuci dengan cara mandi.

Dalam pada itu, Imam Abû Hanîfah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan (ولا يقربوهن حتى يطهرن) dalam ayat tersebut yaitu, janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sampai mereka suci, dalam arti, telah berhenti dari darah haid mereka. Dengan demikian, para suami dibolehkan bersetubuh dengan isteri meraka, setelah darah haid mereka berhenti.

Dari uraian di atas tampak sekali, bahwa pendapat qirâ’at dalam hal ini dapat berpengaruh terhadap cara istinbâth. Serta ketentuan hukum yang dihasilkannya. Sebagaimana cara serta hasil istinbâth hukum dari Imam Syâfi’i misalnya. Bila dibandingkan dengan cara serta hasil istinbâth hukum dari Imam Abû Hanîfah. Sehubungan dengan ini penulis cenderung berpendapat bahwa batas keharaman seorang suami untuk ‘mencampuri’ istrinya yang sedang haid adalah sampai wanita tersebut suci dalam arti, telah berhenti dari darah haidnya, dan telah mandi dari hadas besarnya. Hal ini mengingat pengertian (التطهر) dalam rangkaian ayat tersebut yaitu (فاذا تطهرن فأتوهن ) .

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Hasanuddin AF, Anatomi al-Qur’an: Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum dalam al-Qur’an (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995)

3Al-Qurthubî, Al-Jâmi’ Lî Ahkâm al-Qur’ân, t.tp.:t. pn., t.t.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.