Perbedaan Qira’at yang Tidak Berpengaruh Terhadap Istinbath Hukum

0 97

Perbedaan Qira’at yang Tidak Berpengaruh Terhadap Istinbath Hukum: Dalam hal istinbath hukum, qira’at dapat membantu menetapkan hukum secara lebih jeli dan cermat. Perbedaan qira’at al-Qur’an yang berkaitan dengan substansi lafadz atau kalimat, ada kalanya mempengaruhi makna dari lafaz tersebut, adakalanya tidak. Dengan demikian, maka perbedaan qirâ’at al-Qur’an adakalanya berpengaruh terhadap istinbâth hukum, dan adakalanya tidak.

Adapun perbedaan qirâ’at al-Qur’an yang terdapat dalam qirâ’at sab’ah, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap istinbâth hukum, dapat penulis kemukakan contoh sebagai berikut:

Firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ  

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya. Menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai had-nya yang dibawa sampai ke ka’bah. Atau (dendanya) membayar kifarat dengan memberi makanan orang- orang miskin. Atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu. Supaya ia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. (Qs AL-Maidah/5: 95)

Ayat di atas menjelaskan, bahwa bila seseorang yang sedang ihram membunuh binatang buruan dengan sengaja. Maka salah satu alternatif dendanya yaitu, memberi makan orang-orang miskin (أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ ). Seimbang dengan harga binatang ternak yang akan digunakan untuk mengganti binatang ternak yang dibunuhnya.

Sehubungan dengan ayat di atas, Ibn Katsîr, ‘Âshim, Abû ‘Amr, Hamzah, dan al-Kisâ’i, membaca  أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ. Sementara Nâfi’ dan Ibn ‘Âmir membaca او كفارةُ طعامِ مسا كين , dengan cara meng-idhâfah-kan lafadz كفارةُ  kepada lafadz طعامِ. Tanpa terjadi perubahan maksud atau ketentuan hukum yang terkandung di dalamnya. Dalam pada itu, lafadz طعامٌ  dalam versi qirâ’at pertama, berkedudukan sebagai khabar dari mubtada’ mahzûf dengan perkiraan اوالواجب عليه كفارة طعام مسا كين .

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Ibn Mujâhid, Kitâb al-Sab’ah fî al-Qur’ân (Mesir: Dâr al-Ma’ârif, t.t.)

al-Zamakhsyarî, al-Kasysyâf (Mesir: Mushthafâ al-Bâbi al-Halabi, t.t.), juz I

Komentar
Memuat...