6 Kriteria Perbedaan Social Entrepreneur Dengan Pebisnis Murni

0 230

Anda yakin mau menjadi seorang social entrepreneur? Ada beberapa kriteria yang membedakan seorang wirausahawan sosial dengan pebisnis murni pada umumnya.

Pengorbanan

Pertama, menjadi seorang social entrepreneur haruslah mau berkorban dan segera bertindak. Pengorbanan bukan hanya harta benda, melainkan juga naluri untuk bersenang-senang, waktu, tenaga serta pikiran.

Bekerja Dengan Diam

bekerja dengan diam

Kedua, kesediaan untuk bekerja dengan diam – diam. Social Entrepreneur memulai karyanya dari berbagai hal kecil di daerah yang tidak dikenal. Butet bekerja di pedalaman Sumatera dengan anak-anak suku Kubu. Atau Yayasan yang berkubang lumpur di desa-desa. Ada juga yang bekerja dengan berbagai buruh kasar dan tukang becak di Bangladesh. Biasanya mereka baru dikenal setelah seluruh karyanya menjadi kenyataan dan ramai dibicarakan khalayak orang banyak.

Energi Penuh

Ketiga, Bekerja dengan energi penuh. Orang yang berenergi penuh ’takkan ada matinya’. Ia melakukan banyak hal sekaligus dengan menembus berbagai dinding-dinding penyekat. Dia tak mengenal batas-batas yang dibuat manusia untuk membatasi ruang gerak tersebut. Tanpa berpikir keuntungan yang akan didapat, wirausahawan sosial meledakkan segala ide kreatif mereka demi peningkatan kualitas hidup di masyarakat luas.

Established Structures

Keempat, ia menghancurkan the established structures. Ia benar-benar bekerja independent dan tidak mau terbelenggu oleh struktur yang seakan-akan mewakili kebenaran. Mereka bisa saja ditemukan di antara pegawai-pegawai pemerintahan atau para dosen di universitas, namun yang adalah kebebasannya dalam bertindak dan berpikir. Mereka punya kecerdasan yang luar biasa dalam mengambil jarak untuk melihat ”beyond the orthodoxy” dalam bidang atau pekerjaan mereka. Untuk melakukan hal tersebut, mereka mengambil resiko yang terlihat aneh, bahkan adakalanya dimusuhi oleh orang banyak.

Koreksi Diri

Kelima, kesediaan melakukan koreksi diri. Kewirausahaan sosial memerlukan kejernihan dalam berpikir dan sikap-sikap yang positif. Artinya, jika suatu langkah tidak bekerja dengan baik, mereka harus rela mengkoreksinya. Pada tahun 1990-an berbagai orang sudah meyakini karya besar Muhammad Yunus yang sukses dengan Grameen Bank-nya untuk melayani segmen mikro, namun ia melihat tetap ada kelemahan yang merepotkan debitur untuk melunasi hutangnya. Kemudian tahun 2002, Yunus meluncurkan Grameen Bank II untuk melayani nasabah-nasabah mikro-nya dengan lebih baik lagi.

Berbagi Keberhasilan

Keenam adalah kesediaan berbagi keberhasilan. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati, yang bekerja dengan prinsip, ”sukses ini bukan karena semata-mata karya Saya.” Lebih dari sekedar berkarya dan berbisnis, para social entrepreneur membangun sebuah kekuatan, yaitu kekuatan perubahan yang berkelanjutan. Andapun bisa melakukannya.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.