Perbedaan Tujuan Pendidikan Nasional dalam dalam UUSPN

0 138

Tujuan Pendidikan Nasional Indonesia, Sejak era reformasi bergulir, berubah. Perubahan orientasi itu terjadi khususnya sejak Undang-undangAi?? Nomor 20 tahun 2003 diberlakukan. Undang-undang ini, menggantikan UU sebelumnya tentang pendidikan, yakni UU Nomor 02 tahun 1989. Terdapat perubahan yang sangat substantif yang ditampilkan UU Nomor 20 tahun 2003, jika dibandingkan dengan UU sebelumnya.

Perubahan paling mencolok dari UU Nomor 20 tahun 2003, terlihat dari tujuan pendidikan Nasional Indonesia. Sebut misalnya, dalam UU Nomor 2 tahun 1989, core utamanya adalahAi??mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini diindikasikan dengan kemampuan satuan pendidikan dalam mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Manusia dimaksud adalah merekaAi??beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan dalam UU terbaru, keimanan dan ketakwaan justru menjadi core dan yang lain menjadi pembantu atas core dimaksud.

Ciri peserta didik yang beriman adalah mereka yang berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani. Ciri itu diperkuat dengan keberhasilan sekolah dalam menghasilkan output dengan kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Itulah mengapa dalam dalam UU Nomor 20 tahun 2003, Tujuan Pendidikan Nasional harus difahami sebagai pendidikan yang esensial. Maksudnya, ukuran keberhasilan itu, diukur dari sejauhmana sekolah mampu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ciri peserta didik yang beriman itu adalah mereka yang memiliki akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Letak Perbedaan dalam Tujuan Pendidikan

Core UUSPN Nomor 20 tahun 2003 adalah manusia yang beriman dan bertakwa. Sedangkan dalam UU Nomor 2 tahun 1989,Ai?? core-nyaAi??adalah manusia Indonesia seutuhnya. Terlihat dengan jelas bahwa di UU yang terakhir, ukuran keberhasilan pendidikan Indonesia diukur dari berhasil atau tidaknya satuan pendidikan dalam membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa.

Dengan demikian, jika di satuan pendidikan tidak berhasil membentuk manusia yang beriman dan bertakwa, maka, pendidikan dimaksud, sebetapapun mampu membuat peserta didik menjadi cerdas dan berprestasi, ia tetap harus dipandang gagal.

Sementara sebelumnya, keberhasilan satuan pendidikan diukur dari mampu atau tidaknya tingkat satuan pendidikan, menghasilkan output yang cerdas. Soal keimanan dan ketakwaan hanya menjadi salah satu alat ukur keberhasilan. Ia tidak menjadi puncak keberhasilan dari satuan pendidikan.

Problemnya adalah, seberapa besar satuan pendidikan mampu menyediakan guru yang beriman dan bertakwa, dengan kemampuan intelektual di atas rata-rata. Mengapa hypotesis semacam itu muncu? Sebab dengan tujuan pendidikan sebagaimana diurai dari UUSPN terbaru, satuan pendidikan harus mampu menyediakan pendidik yang bukan hanya piawai dalam menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga dituntut memiliki kemampuan keagamaan yang cukup baik.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.