Perebutan Hilal dan Hisab Antara Muhamadiyah, NU dan Pemerintah

0 666

Perebutan Hilal dan Hisab Antara Muhamadiyah, NU dan Pemerintah, Metode Rukyat adalah cara untuk menetapkan awal bulan, Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya dapat dilihat sesaat setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Bulan tidak dapat dilihat jika cuaca mendung atau buruk, maka hendaklah menggunakan istikmal (menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari).

Teknik Rukyat sudah dipakai sejak Zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, hanya saja tidak memakai alat bantu seperti teleskop, karena memang saat itu belum ada. Baru bisa dikatakan awal bulan baru apabila tinggi hilal diatas ufuk mencapai minimal dua derajat. Oleh karena itu, apabila posisi hilal kurang dari dua derajat tidak imkan dirukyat dan tidak bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan dan awal Syawal, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal ditetapkan pada hari berikutnya.

Istilah hisab dalam dunia Islam sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan dijadikan patokan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini sangat penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Kemudian terjadi perebutan dan perbedaan antara Muhamadiyah dengan metode Hisabnya dan NU dengan metode Ru’yatul Hilalnya di Indonesia, sehingga pemerintah merasa bingung dengan hasil akhir yang selalu berbeda untuk memutuskan segala sesuatu, berikut penulis paparkan Perebutan Hisab dan Hilal antara Muhamadiyah, NU dan pemerintah.

Mengapa Pemerintah dan Muhammadiyah sering berbeda dalam menentukan Awal dan Akhir Ramadhan? perdebatan dan perbedaan dalam penetapan awal puasa ramadhan maupun awal Idul Fitri terjadi hampir setiap tahun. Hampir disetiap tahun kaum muslimin disibukkan dengan masalah “kapan memulai puasa dan kapan berhari raya?”. ormas-ormas Islam seperti NU, Persis, dan Muhammadiyah serta ormas – ormas lain disibukkan berijtihad untuk memastikan kapan puasa tahun itu dimulai dan berakhir, sementara masyarakat dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat oleh lembaga – lembaga Islam yang terkadang keputusannya berbeda-beda. Bahkan baru – baru ini masyarakat dibingungkan dengan seruan untuk memulai puasa atau berhari raya dengan berpedoman pada awal puasa dan idul fitri di Arab Saudi.

Tidak jarang karena perbedaan-perbedaan tersebut, timbul gesekan-gesekan di masyarakat. Masing-masing individu menganggap benar apa yang diputuskan oleh ormas yang diikutinya dan menganggap salah terhadap yang lain, tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang dijadikan ukuran sebagai penentuan awal dan akhir puasa oleh masing-masing ormas dan lembaga-lembaga Islam tersebut. Tak sedikit masyarakat yang kurang paham menjadi “bermusuhan” hanya gara-gara hal tersebut.
Mengapa Muhammadiyah dan NU sering berbeda dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal dengan Hilal dan Hisab nya? Ada beberapa alasan:

  1. Ormas Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan baru menggunkan metode hisab yang biasanya sudah bisa meramalkan jauh jauh hari. Sementara NU dan Pemerintah menggunakan metode rukyat, yang artinya bulan baru jika hilal berada di atas 2 derajat di atas ufuk, dan tidak bisa diramalkan jauh hari sebelumnya, alias mesti dilihat atau dipraktekkan pada hari yang dianggap hilal akan muncul.
  2. Metode Hisab yang digunakan Muhammadiyah tujuannya tidak lain agar kita selaku umat Islam tidak perlu direpotkan lagi dengan melihat hilal. ilmu astronomi sekarang sudah semakin canggih, sehingga pergerakan benda angkasa ataupun misalnya gerhana bulan dan matahari sudah bisa diramalkan waktu dan tempatnya dengan tepat. Selain itu, mereka beranggapan seandainya seluruh dunia misalnya gelap ataupun tertutup awan, mustahil hilal dapat dilihat, terlebih daerah-daerah yang sarana komunikasinya belum terjangkau dengan baik.
  3. Metode rukyat telah dipegang teguh oleh Pemerintah selama puluhan tahun. Dalam hal ini, Kementerian Keagamaan tentu memiliki alasan dalam pemakaian metode ini. Lihat saja alat astronomi sudah semakin canggih (misalnya teleskop atau teropong), rasanya tidak akan repot untuk melihat bulan baru. Bahkan masyarakat sekarang sudah memiliki Media komunikasi massal dan global seperti Handphone dan Televisi, sehingga berita dapat dengan cepat disosialisasikan.
    Dan ini adalah beberapa alasan mengapa NU menggunakan Hilal dan Muhamadiyah menggunakan Hisab sehingga sering terjadi perebutan dan perbedaan.

Nahdlatul Ulama (NU) Berbicara

Terdapat dua Metode dalam penentuan awal bulan qamariyah, yaitu metode hisab dan metode rukyah. Sedangkan NU sangat mengedepankan metode rukyatul hilal. Hal itu dikarenakan metode rukyah merupakan metode menentukan bulan baru dengan pengamatan atau observasi. Jika bulan terlihat pada waktu petang maka keesokan harinya adalah tanggal satu, namun jika tidak bulan tersebut digenapkan 30 hari. Dibandingkan dengan metode hisab, metode rukyat lebih akurat dalam penghitungan awal bulan, karena langsung mengamati keberadaan hilal atau bulan baru. Akan tetapi di Indonesia, hilal sering tidak terlihat akibat tertutup polusi, mendung dan lain sebagainya. Hal ini merupakan kelemahan dari metode rukyah yang sangat mengakibatkan perbedaan penetapan awal bulan qamariyah khususnya penetapan awal ramadhan atau penetapan awal syawal yang terus terjadi di Indonesia.

Hilal bisa dilihat pada malam hari minggu tanggal 29 juni 2014 karena ketinggian hilal sudah 11,210, dengan demikian dengan menggunakan metode rukyatul hilal NU diperkirakan akan menetapkan awal bulan ramadhan pada hari Ahad 29 Juni 2014.

Muhammadiyah Berbicara

Muhammadiyah masih bersikukuh dengan metode wujudul hilal yang murni dari perhitungan yang biasa disebut dengan metode hisab. Metode Wujudul Hilal bersifat obeservasi atau dugaan, dimana dalam metode ini tidak dapat mengamati secara langsung keadaan hilal. Oleh karena itu, Muhammadiyah dapat menetapkan awal Ramadhan atau awal Syawwal jauh jauh hari. Hal inilah yang menjadi faktor perbedaan penetapan awal Ramadhan atau awal Syawal di Indonesia.

Bulan baru terjadi 15:09 wib siang hari pada tanggal 27 juni 2014, ini terlalu muda untuk dirukyah sore harinya. Ketika matahari tenggelam pukul 17:49 wib ketinggian hilal 0,30 di jakarta. Bagi Muhammadiyah ini sudah memenuhi kriteria wujudul hilal.

Hilal bisa dilihat pada malam ahad 29 juni 2014 karena ketinggian hilal sudah 11,210, dengan demikian Muhammadiyyah diperkirakan akan menetapkan awal bulan Ramadhan pada hari sabtu 28 juni 2014.
Oleh karena itu, dengan adanya perbedaan maka keputusan ulil amri atau Kementrian Agama Republik Indonesia yang harus kita patuhi. Dimana keputusan tersebut merupakan hasil sidang isbath yang didiskusikan beberapa ahli falak atau ahli astronomi dan beberapa organisasi masyarakat islam. Sehingga seluruh umat muslim di Indonesia akan merayakan awal puasa Ramadhan atau hari raya Idul Fitri secara serempak tanpa adanya suatu perbedaan.

(penulis: Vidya Wiranti)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.