Perencanaan Pengembangan Manajemen Mutu Pesantren

0 55

Jalan dan tidaknya suatu kegiatan organisasi, termasuk dalam hal ini pengembangan manajemen mutu pesantren, diperlukan perencanaan, yang mapan. Perencanaan dimaksud menyangkut tugas-tugas masing-masing pihak yang terlibat di Pesantren. Dilihat dari kepentingan perencanaan, setidaknya ada empat macam segi mengenai besarannya (ruang lingkup yang jadi sasaran kebijaksanaan perencanaan), subjek pembuat perencanaan, rancangan sistem, dan dilihat dari sisi jangka waktu kegiatan pelaksanaan perencanaan. Dilihat dari ruang lingkup yang menjadi sasaran perencanaan, kegiatan ini terbagi menjadi tiga besaran, yaki makro, messo dan mikro.

Secara teoretik, dalam lingkaran makro, daerah jelajahan perencanaan meliputi besaran tertinggi dari sebuah kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan di Pesantren. Bila daerah atau wilayah “kekuasaan Pesantren dimaksud” tertingginya dunia, maka perencanaan pengembangan aktivitas pendidikan Pesantren harus bersifat global dengan sejumlah perencanaan yang bersipat makro. Namun bila sasaran perencanaan tersebut besarannya adalah negara, maka perencanaan makro tersebut dalam ruang lingkup negara. Perencanaan tingkat propinsi disebut messo. Sedangkan daerah kabupaten atau malah kecamatan disebut mikro.

Dilihat dari sisi subjek pembuat perencanaan, maka perencanaan dapat dibuat kategori kepada perencanaan strategik, manajerial, dan operasional. Perencanaan strategik adalah perencanaan yang bersifat program umum untuk mencapai tujuan yang komprehensif. Hal ini merupakan tugas dan kewajiban manajemen puncak. Turun setahap dari manajemen puncak terdapat perencanaan manajemen yang bersifat kebijakan pelaksanaan. Inilah yang disebut perencanaan manajerial. Sedangkan pengoperasiannya disebut perencanaan operasional. Kegiatan ini ditangani oleh personil yang menangani langsung operasional kegiatan pendidikan di Pesantren. Hal ini merupakan ujung tombak kegiatan pendidikan di Pesantren.

Jenis Perencanaan Mutu Pesantren

Jika suatu instansi sudah berjalan, maka pembuatan perencanaan berpijak kepada hal yang sudah ada tersebut, tanpa harus merubah sistem yang sudah dibuat sebelumnya. Namun apabila sistem yang sudah ada tersebut dirasakan kurang adaftif terhadap pengembangan situasi dan tantangan sasaran perencanaan, maka kalau tidak diperbaiki, alternatifnya sistem tersebut harus dikembangkan. Karena ada dua jenis perencanaan dalam hal ini, pertama, perencanaan perbaikan, dan kedua, perencanaan pengembangan.

Sasaran waktu perencanaan dibagi kepada tiga kategori. Kategori rentang di antara 1 – 25 tahun. Namun dalam kegiatan yang sifatnya besar, di mana untuk pengadministrasiannya memerlukan waktu berbulan-bulan, maka rentangan waktu tersebut dapat berubah yakni berkisar antara 5 – 25 tahun. Dalam rentang waktu yang demikian, maka perencanaan lima tahun masuk pada kategori perencanaan jangka pendek. Sementara rentang waktu sepuluh dan dua puluh lima tahun, masuk pada kategori jangka menengah dan jangka panjang. ***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Philip Wexler. Social Analysis of Education: After the New Spciology. London and New York: Routledge & Kegan Paul, 1987

Sukamto. Kepemimpinan Kiyai dan Pesantren. Jakarta: LP3ES, 1999.

Sodjoko Prasojo. Profil Pesantren Laporan Hasil Penelitian Pesantren di Bogor. LP3ES 1982.

Talcott Parsons. The School class as a sosial System: Some it’s function in America Society.  USA: Harvard Educational Review, vil. 29. No. 4

Suyadi Prawirosentono. Filosofi Baru tentang Manajemen Mutu Terpadu: Total Quality Management Abad 21, suatu Kasus dan Analisis, Kiat Membangun Bisnis Kompetetif Bernuansa “Market Leader”. Jakarta: Bumi Aksara, 2002

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.