Pergolakan Politik Kaum Muda Indonesia

0 139

PERGOLAKAN Politik Kaum Muda Indonesia. Menyebut kata pemuda, membuat diri saya merasa tak pernah ber umur 44 tahun. Saya merasa masih menjadi bagian dari kelompok muda yang berharap terhadap diri saya sendiri. Tentu saja, untuk mampu memposisikan diri sebagai bagian dari tulang punggung dan harapan atau masa depan bangsa Indonesia.

Suatu negara yang hampir tidak pernah dimiliki bangsa lain di dunia tentang keindahan dan kesuburan alam yang dimilikinya. Saya menyebut negeri ini dalam berbagai tulisan dan buku yang saya tulis.

Sebagai bagian dari citra Tuhan untuk memperlihatkan keberadaan Syurga di muka bumi. Hampir tak ada negara bangsa se-indah Indonesia. Karena itu, cintailah Indonesia dalam segenap kemampuan yang mampu kita miliki dan tentu yang mampu kita lakukan. Tulisan ini akan bercerita tentang pergolakan politik kaum muda Indonesia

Kaum muda Indonesia, sejatinya adalah mereka yang membuat Indonesia itu sendiri. Hampir tidak pernah ada, sejarah dan lakon pembentukan dan pergerakan Indonesia tanpa melibatkan kaum muda. Banyak contoh bagaimana peran kaum muda Indonesia dalam membangun bangsa ini berjalan dan berperan.

Berbagai tulisan tentang peran-peran kaum muda inipun, telah dirangkai banyak penulis baik di dalam maupun di luar negeri. Kita awali peran kaum muda Indonesia dalam membangun Indonesia dimaksud dengan sedikit cerita tentang peran Dokter Soetomo (Nganjuk, 30 Juli 1888) dan Dokter Wahidin Soedirohoesodo (Sleman, 7 Januari 1852) yang mendirikan organisasi Boedi Oetomo.

Khusus untuk Dokter Soetomo yang baru berusia 20 tahun, pada saat organisasi ini dibentuk, ia mampu mendampingi Dokter Wahidin Soedirohoesodo, yang bercita-cita membangunkan pemuda Indonesia melalui dunia pemberdayaan dan kesadaran tentang peran dan model keharusan membangun bangsa.

Pada 20 Mei 1908, kedua sosok ini berhasil mendirikan organisasi yang menjadi cikal-bakal lahirnya organisasi pergerakan modern di Indonesia. Pada saat itu, usia Soetomo baru 20 tahun dan dokter Wahidin berusia 56 tahun. Organisasi Beodi Oetomo yang dideklarasikan pada tanggal 20 Mei 1908 ini, kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia.

Suatu deklarasi kaum muda yang menyatukan Nusantara dengan satu sumpah, yakni: Tanah air satu, yakni tanah Air Indonesia; berbangsa satu yakni bangsa Indonesia; dan berbahasa satu yakni Bahasa Indonesia dapat menjadi contoh lain bagaimana kaum muda Indonesia merangkai mimpi tentang suatu bangsa yang ingin dibentuknya.

Sebuah organisasi nasional yang menyatukan seluruh pemuda, –setelah sebelumnya banyak berdiri organisasi pemuda kedaerahan– dalam suatu Ikrar bersama secara nasional yang kemudian dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Deklarasi sumpah pemuda ini dilaksanakan pada 28 Oktober 1928. Para pemuda yang saat itu berikrar adalah mereka yang rata-rata baru berusia 20-30 tahun.

Karena itu tidak salah jika disebutkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah kepemudaan. Bung Karno sendiri yang lahir di Surabaya, 6 Juni 1901, berhasil mendirikan Partai Politik Pribumi Indonesia di tengah cengkaraman kolonial Belanda pada tahun 1927 –yang berarti baru berumur 26 tahun—dalam sebuah organisasi yang kemudian dikenal dengan nama Partai Nasional Indonesia (PNI), yang anak cucu ideologi ini kemudian berafiliasi ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Di usia 44 tahun, seusia saya hari ini, dia bersama Bung Hatta yang saat itu baru berusia 43 tahun –lahir di Bukittinggi, tanggal 12 Agustus 1902, tentu juga atas desakan kaum muda, berhasil memproklamasikan kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bung Tomo, mengobarkan perang melawan kedatangan kembali Sekutu pada 10 November 1945 di Surabaya, saat berusia 25 tahun (lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920). Tanggal dimaksud kemudian diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan. Sumpah Pemuda kemudian berujung pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Sedemikian pentingnya kedudukan dan peranan kaum muda di Indonesia, sampai-sampai Bung Karno pernah berkata: “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”.

Dalam banyak pidato, Presiden pertama ini juga sering berkata: “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan dengan mereka aku akan mengguncang dunia”. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Kedudukan dan peran kaum muda, jika perhatikan dalam berbagai gerakan di atas, memang sangat vital dalam pembangunan sehingga masa depan bangsa berada di tangan mereka.

Presiden Republik Indonesia kedua yang dalam beberapa tahun sebelum lengser pernah diberi gelar Jenderal Besar, karena bintangnya ada lima, yakni Jenderal H. M. Soeharto, yang lahir di Yogyakarta, 8 Juni 1921, ia diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia di tahun 1968, atau pada usia dia yang ke 47 tahun. Soeharto yang sering disebut dengan “The Smiling General” — “Sang Jenderal yang Tersenyum”—itu, berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan tertentu di dunia internasional.

Gerakan reformasi 1998, persis seabad setelah kelahiran Organisasi Boedi Oetomo 1928, dipelopori pemuda dan mahasiswa Indonesia. Mereka dengan gagah berani berhadapan kuatnya cengkraman tentara, sampai ada yang tertembak lalu mati. Kaum mudalah yang menduduki Gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta. Yang menyebabkan Presiden Soeharto lengser keprabon dan menyerahkan tongkat kekuasaan kepada wakilnya, yakni BJ. Habibie.

Maka tidak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa pemuda adalah pilar kelima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setelah Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika dan Kaum Muda Indonesia. Bila pada 20 Mei 1908 para pemuda tampil sebagai aktor utama Kebangkitan Nasional, pada 28 Oktober 1928 sebagai aktor utama Sumpah pemuda, 1945 sebagai aktor dalam proklamasi kemerdekaan dan 1998, pemuda menjadi pemicu utama kebangkitan reformasi, maka, apa fungsi dan peran kaum muda Indonesia hari ini. Menurut saya inilah yang penting kita tampilkan.

Gerakan Kaum Muda Reformasi

Indonesia hari ini, menurut saya, tetap masih berada dalam satu situasi kritis yang jika tidak hati-hati mengamati dan melaksanakannya, maka, besar kemungkinan, bangsa ini akan kembali berada dalam dua pilihan yang masing-masing memiliki jurang berbahaya. Dalam tanda baca tertentu, jangankan cita-cita proklamasi, cita-cita reformasipun kelihatannya masih sangat sulit kita tampilkan, padahal gerakan dimaksud baru berlalu kurang lebih 17 tahun. Suatu waktu yang sangat pendek jika dibandingkan dengan lahirnya proklamasi kemerdekaan.

Cita-cita kaum muda dan bangsa Indonesia atas proklamasi dan bahkan lahirnya gerakan reformasi, sejatinya merupakan suatu perubahan catatan kehidupan yang telah dilakukan bangsa ini, untuk kemudian dibuat catatan-catatan kehidupan baru yang lebih baik. Proklamasi (1945) dan Reformasi (1998) adalah dua gerakan yang bertujuan untuk melakukan perubahan sekaligus pembaruan, terutama perbaikan tatanan kehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, dan sosial budaya.

Proklamasi dan Reformasi

Proklamasi dan reformasi. Karena itu menurut saya, memiliki formulasi atau gagasan tentang tatanan kehidupan baru menuju terwujudnya Indonesia baru atau terbarukan. Fakta menunjukkan bahwa, setiap terjadi gerakan perubahan, pengisi dari hasil perubahan itu, selalu tidak pernah beranjak dari faktor dan aktor lama. Mempengaruhi keputusan kebijakan baru dalam bidang apapun. Persoalan pokok yang mendorong atau menyebabkan lahirnya dua gerakan ini.

Jika kita mau jujur sebenarnya terletak pada kesulitan warga masyarakat dalam memenuhi sembilan kebutuhan pokok: seperti beras, terigu, minyak goreng, minyak tanah, gula, susu, telur, ikan kering, dan garam. Sementara situasi politik dan kondisi ekonomi Indonesia semakin tidak menentu dan tidak terkendali. Jatuhnya Orde Lama dan Orde Baru, sejatinya karena persoalan-persoalan dimaksud, tidak mampu ditunaikan dengan baik.

Harapan masyarakat akan perbaikan politik dan ekonomi semakin jauh dari kenyataan. Keadaan itulah yang menyebabkan masyarakat Indonesia semakin kritis dan tidak percaya terhadap setiap pemerintahan, baik di Orde Lama maupun Orde Baru. Ketidak percayaan ini, kemudian tampaknya masih belum total pulih meski Indonesia telah memiliki 5 presiden setelah gerakan reformasi ini berjalan. Padahal, jika kita mau jujur, kemakmuran dan keadilan adalah dasar monumental dalam falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Oleh karena itu, tujuan lahirnya reformasi adalah untuk memperbaiki tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika Orde Lama dan Orde Baru runtuh karena dianggap strategi pembangunan ekonomi Indonesia ini salah arah, maka, kemungkinan situasi hari inipun seperti tampak di depan mata.

Karena itu, kaum muda Indonesia, tampaknya perlu merekomendasikan perencanaan yang matang dalam menata dan mengelola perekonomian. Agar, misalnya angka pengangguran Indonesia tidak semakin membengkak. Situasi ini misalnya mengisyaratkan fenomena unik tentang kedatangan ratusan ribu tenaga kerja asing, di waktu yang sama, ratusan ribu tenaga kerja Indonesia di rumahkan para produsen bumi pertiwi.

Sebab Melambatnya Ekonomi Indonesia

Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi RI –salah satunya– terus mengalami penyusutan. BI sendiri memprediksi ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh di kisaran 4,8-4,9 % per tahun. Pelambatan ekonomi ini, oleh banyak ahli disebabkan karena:

  1. Rendahnya penegakan Hukum yang mengakibatkan menguatnya sikap dan karakter yang kurang dipercaya, disertai dengan perebutan wilayah hukum di antara para penegak hukum itu sendiri;
  2. Politik masih menjadi senjata yang paling ampuh dalam menentukan setiap kebijakan politik dan hukum itu sendiri;
  3. Menguatnya peran dan campur tangan asing dalam setiap pengambilan kebijakan ekonomi dan politik nasional, yang jika hal ini terus dibiarkan, ada kemungkinan bangsa ini, mungkin kembali menjadi kaum jongos di negerinya sendiri, dan;
  4. Kesulitan masyarakat membaca peta dan program pembangunan yang akan dijalankan pemerintah. Dari fenomena ini saja, mengutif pikiran Boediono (2015), bangsa ini sudah mulai penting dan bahkan mendesak kembali merumuskan suatu konsep yang mampu membangun prinsip stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi untuk seluruh warga masyarakatnya. Untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, tiga kunci utama tersebut nantinya harus diiringi sistem pertahanan terhadap krisis.

Kondisi ekonomi Indonesia

Kondisi ekonomi Indonesia yang demikian, diperparah dengan situasi kepemudaan dan keremajaan Indonesia yang cukup Hubble. Diketahui bahwa bangsa Indonesia memiliki tidak kurang dari 63 Juta Remaja dari total populasi Indonesia sebesar 237, 6 juta jiwa. Kondisi demikian diperoleh dari hasil sensus tahun 2010. Tahun 2015, saya belum tahu, tetapi yang pasti meningkat. Indonesia karena itu, diprediksi akan memperoleh bonus demografi dunia pada tahun 2017-2019. Artinya, komposisi jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencapai titik maksimal dibandingkan usia non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas).

Saat itu persentase warga usia produktif mencapai 55,5 persen. Jika penduduk usia produktif berkualitas, negara semakin maju. Sebaliknya, jika tidak berkualitas, kondisi itu akan menjadi bencana. Problemnya, seberapa mampu kita mengadaftasi semua ini. Mengapa? Sebab kaum remaja Indonesia dalam beberapa hal berada dalam krisis multi dimensi.

Seperti: meningkatnya jumlah drop out sekolah, meningkatnya jumlah wanita hamil di luar nikah. Dan masih banyaknya anak remaja yang menikah di bawah umur, keterlibatan kaum remaja dalam praktik-praktik judi, mabuk dan gangster, traficking, menjadi pekerja seks dan kebebasan seks yang menyebabkan meningkatnya jumlah mengidap HIV dan bahkan AIDS.

Peran yang harus dimainkan

Problemnya, mampukah situasi itu menjadi pembangun bangsa sementara salah satu pilarnya, berada dalam situasi penuh resiko dalam menjalani hidup. Karena itu, menurut saya, setidaknya ada tiga peran yang harus dimainkan pemuda Indonesia. Beberapa peran dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Pemuda mesti tampil sebagai aktor utama. Dalam proses-proses pembangunan bangsa khususnya. Dalam pembangunan politik santun dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu, apalagi pelaksanaan hukum balas jasa. Pemuda dituntut menjadi katalisator baik dalam posisinya sebagai askenden maupun sebagai descenden. Menjadi juru bicara rakyat sekaligus menjadi juru bicara pemangku negara.
  2. Kaum muda dituntut memiliki akar yang kuat. Tetap menyerap dimensi-dimensi kedalaman bathin bangsanya dalam segala dinamika kehidupan dan kebaikan yang tersedia. Grass root understanding but have world competence. Dalam bahasa ilmiah yang sering digunakan para ahli ilmu sosial. Dalam posisi ini, kaum muda dituntut tampil secara prima, sebagai pemegang panji Idealisme yang mengakar kuat dalam jiwa dan muncul ke permukaan sebagai pemilik integritas dan kredibilitas yang tinggi. Idealisme ini selalu berlaku tanpa ada masa kadaluarsa, selalu diwariskan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan perubahan yang dinanti. Idealisme ini muncul tanpa dipaksa, murni dari dasar nurani. Dengan kesadaran tinggi dan kecintaan yang mendalam terhadap keberlangsungan bangsa Indonesia itu sendiri.
  3. Pemuda dituntut tampil menjadi penjaga karakter bangsa yang dalam beberapa dekade terus menerus mengalami penurunan. Sejarah membuktikan, bahwa sebuah bangsa, suatu negara, sering kali bukan dihancurkan dengan kekuatan senjata, tetapi jutru karena hancurnya moral bangsa. Kehancuran negara bangsa karena persoalan senjata, akan cepat bangkit. Lihat saja apa yang dialami Jepang yang pada Agustus 1945 dibom atom tentara Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki. Meskipun wilayah dan rakyat Jepang mengalami kehancuran luar biasa, karena karakter serta para pemudanya tetap terjaga dan bersemangat. Maka, dalam waktu relatif singkat bangsa Jepang dapat bangkit, bahkan kini menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

Demikian, beberapa ulasan yang mampu saya sampaikan, semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amiin ….. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.