Pergulatan Antara Syariah dan HAM

0 26

TUDINGAN kasar kaum sekular terhadap Islam masih belum reda. Tudingan yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun itu menyangkut berbagai aspek. Di antaranya persoalan syariah yang dikaitkan dengan hak-hak manusia (human rights) yang  lahir searah dengan perkembangan manusia.

Disertasi Dr. Adang Djumhur Salikin, MA – yang diterbitkan dalam bentuk buku “Reformasi Syariah dan HAM dalam Islam. Bacaan Kritis terhadap Pemikiran An-Naim” (Gama Media Yogyakarta, Januari 2004) menarik untuk ditelisik. Adang Djumhur mencoba membangun pandangan-pandangannya dari pemikiran seorang intelektual asal Sudan, Abdullahi Ahmed An-Naim mengenai konteks aktual saat ini, yakni syariah dan HAM.

Hukum sipil Hammurabi

Hammurabi’s Code of Law  (Ketentuan Hukum Hammurabi) yang terdiri dari 282 pasal merupakan hukum tertulis paling tua yang pernah dibuat manusia. Aturan hukum yang dibuat Kaisar Babylonia yang dikenal dengan sebutan “Raja adalah Saya” (1792 – 1750 SM) merupakan bentuk “keadilan” yang keras dan kejam. Di sini raja adalah pembuat hukum, sekaligus juga hakim yang menentukan seseorang bersalah atau tidak.

Ketentuan hukum Hammurabi tidak berisi  kaitan dengan agama. Mendasarkan hukum pidana yang menyamai pembalasan dendam, sebanding dengan hukum Semit “satu mata untuk satu mata.”. Hukum tersebut memberikan perlindungan terhadap seluruh kelas masyarakat Babylonia, mencoba untuk melindungi pihak yang lemah dan miskin, termasuk perempuan, anak-anak dan budak, menentang ketidakadilan atas kekuasaan kaum kaya dan kekuasaan. Kode tersebut terutama menyangkut kemanusiaan yang diumumkan secara resmi, menegaskan terhadap hukum dan keadilan kekuasaan Hammurabi. Teks akhir ditutup dengan sebuah epilog yang mengagungkan kerja yang kuat untuk melaksanakan perdamaian bagi Hammurabi dan secara eksplisit pemerintahannya disebut oleh tuhan “untuk masalah keadilan yang berlaku di seluruh negeri, terhadap kerusakan dan kejahatan.”(Encarta ® Reference Library 2003)..

Hukum pidana telah ditetapkan sejak saat itu. Pada pasal 1 Hammurabi’s Code of Laws dinyatakan : “If any one ensnare another, putting a ban upon him, but he can not prove it, then he that ensnared him shall be put to death.” (Barangsiapa menjerat orang lain, melanggar sebuah larangan, tetapi ia tak bisa membuktikannya, kemudian ia yang menjerat mereka akan dihukum dengan ditanam (dikubur) sampai mati (www.huquq.com).

Pada pasal akhir (pasal 282) dinyatakan : “Jika seorang budak mengatakan kepada tuannya : “Kamu bukan tuan saya,” jika budak itu narapadina, maka sang tuan harus memotong telinganya. (If a slave say to his master : “You are not my master,” if they convist him his master shall cut off his ear). – Hammurabi’s Code of Law, translated by L.W. King, www.huquq.com.

BACA : [Membongkar “Kuburan” Budaya Lokal]

Bisa dikatakan Ketentuan Hukum Hammurabi ini merupakan bagian dari hukum masyarakat Arab kuno yang ditetapkan raja. Ini mengingat Babylonia terletak di jantung wilayah Arab kuno dengan batas Laut Mediterania, Sungat Tigris dan Eufrat.

Nabi Muhammad saw membuat perjanjian tertulis yang dikenal dengan nama “Perjanjian Madinah” (sekira 622 M) Perjanjian yang terdiri dari 47 pasal itu menyertakan kalangan umat Islam, Nasrani, Yahudi, tokoh-tokoh suku terkemuka dan berbagai aliran politik yang ada saat itu. Perjanjain ini dianggap sebagai perjanjian modern tertulis yang pertama kali dibuat manusia. Bandingkan misalnya dengan Magna Charta di Inggris yang dibuat tahun 1213 M.

Memandang derajat syariah dan Hak Asasi Manusia (HAM) haruslah secara utuh. Tidak hanya dilihat dari sejarah masa lalu, tetapi juga faktor kekinian dan masa depan. Terhadap Islam, khususnya, media sering bersikap sangat kasar, terutama di Barat. Sementara orang-orang Barat dapat menyambut dengan baik agama Hindhu dan Budha, mereka masih saja memperlihatkan kebencian terhadap Islam. Sikap permusuhan ini telah begitu merasuk di dalam kebudayaan Barat. Ini dapat dirunut kembali ke masa Perang Salib, suatu masa ketika Barat mulai menemukan dirinya pada abad ke-11 dan ke-12. Para tentara salib telah membantai ribuan orang-orang Yahudi dan Muslim, dan sejak itu, Yahudi dan Muslim dipandang oleh Kristen Barat di Eropa sebagai musuh terhadap peradaban yang bermoral.

Barat terus memendam prasangka lama (terhadap Islam). Mereka mengatakan, bahwa Islam pada hakikatnya adalah agama kekerasan yang disebarluaskan dengan pedang. Itulah mitos yang terus dipropagandakan ketika orang-orang Kristen di Barat memaklumkan perang suci yang tak beralasan, brutal, dan kasar terhadap orang-orang Muslim di Timur Dekat. Potret stereotip tentang Islam ini sering lahir dari kecemaan tersembunyi terhadap perilaku Barat itu sendiri, yang kemudian dialihkan dan diarahkan kepada Islam.

BACA JUGA : Budaya Bangsa Yang Tertukar

Pada kenyataannya Islam memiliki catatan yang jauh lebih baik dalam hal toleransi dibandingkan dengan Kristen Barat. Islam selalu mampu mengakomodasi tradisi agama lain. Al-Quran merupakan dokumen yang pluralistik. Muhammad SAW tidak pernah mengajak orang-orang Yahudi dan Kristen untuk masuk Islam, kecuali jika mereka sendiri menghendakinya, karena mereka itu toh telah memiliki wahyu yang sah bagi diri mereka.

Egalitarianisme, spiritualitas yang mendalam, dan kepedulian pada keadilan social merupakan tujuan tertinggi dalam spiritualitas Islam. Pesan utama Al-Quran adalah bahwa kita tidak boleh hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi harus membagi-bagikan kekayaan mereka secara merata, membangun masyarakat yang berkeadilan dan bermoral, serta memperlakukan kaum miskin dan kaum lemah secara terhormat.

Sejak abad ke-18, Barat telah melakukan hal besar dengan memisahkan agama dan politik. Bagi orang Islam, politik adalah serupa dengan sakramen bagi orang Kristen. Di situlah Anda dapat menyaksikan kerja Tuhan di dunia. Islam memiliki semangat spiritual yang tegas terhadap keesaan Tuhan.

Dan baru sekarang inilah, di dunia modern, ketika dihadapkan pada tantangan sekularisme Barat, muncul berbagai pendapat tentang agama Islam. Tantangan yang dihadapi kaum Muslim adalah bagaimana mempraktikkan gagasan ideal Al-Quran tentang masyarakat adil, yang mencerminkan tatanan Illahi di atas bumi pada zaman modern. Keutuhan social merupakan salah satu symbol utama kaum Muslim, cara kaum Muslim mepraktikkan hal-hal yang illahiah. Oleh karena itu, Islam perlu terus memainkan fungsinya, terus kuat dan hidup. Jika tidak, kita semua akan ikut menderita.

Konteks HAM selalu berubah

Memperlakukan HAM harus diraba secara utuh, termasuk proses dan sejarahnya, baik pada masa lalu, kini dan masa depan. Sebab konteks HAM selalu ditafsirkan berbeda sesuai dengan kepentingan manusia yang ada saat itu. Hukum potong tangan, gantung, rajam dan sebagainya bisa jadi hanya terjadi pada masa lalu. Manusia menuntut perubahan agar hukuman mati ditiadakan dan diganti seumur hidup.

Di masa kini tuntutan yang dipandang tak etis muncul dari kalangan pelaku homoseksual dan lesbian. Mereka menuntut agar negara mereka bisa mengesahkan pernikahan sejenis. Kasus pernikahan sejenis yang menghebohkan dilakukan penyanyi Elton John dan David Furnish. Sejauh ini, hukum di Inggris masih melarang pernikahan sesama jenis. Namun mulai 5 Desember (2005), pasangan sesama jenis diperbolehkan memiliki civil partnerships. Setiap pasangan baru boleh mengumumkan hubungan mereka paling cepat 15 hari setelah hukum itu diberlakukan. Artinya, pernikahan Elton John – David baru mungkin dilaksanakan setelah 21 Desember 2005 (Media Indonesia, 26 April 2005).

BACA JUGA : Perbedaan Pandangan Dalam Pemahaman Agama

Hukum sekuler, termasuk Deklarasi HAM se Dunia, merupakan hasil kompromi manusia. Pensahan hukum perkawinan sejenis pun juga atas hasil kompromi. Di samping tuntutan pernikahan sejenis, manusia masa kini juga mulai menuntut pekerjaan yang berkaitan dengan kinerja seksual. Di beberapa negara Eropa, tuntutan agar melacur dianggap sebagai pekerjaan yang sah juga makin santer. Di Indonesia sebutan Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk pelacur merupakan bentuk pengakuan tak langsung terhadap jenis pekerjaan tersebut. Sebelum istilah PSK, mereka disebut Wanita Tuna Susila (WTS), pelacur, bahkan sebutan kasar dalam bahasa local, seperti ungkluk atau telembuk.

Tak mustahil ke depan tuntutan untuk pornografi juga akan makin santer dilengkingkan para pebisnis yang berkaitan dengan “dunia jorok” itu. Munculnya majalah Play Boy, Penthouse, L-Xpress di Amerika Serikat berpengaruh juga pada media massa di Indonesia. Film “Buruan Cium Gue” yang diprotes AA Gym atau aksi foto telanjang kalangan artis pada awal tahun 2000an mengindikasikan komersialisasi porno aksi dengan kedok HAM. Alasan mereka, ini karya seni yang menuntut setiap orang bebas mengekspresikannya. ***

Oleh : NURDIN M NOER

Wartawan senior,  pemerhati kebudayaan lokal

Komentar
Memuat...