Perkawinan Perspektif Humanistik

0 22

Perkawinan Perspektif Humanistik. Sering terdengar ungkapan bahwa jodoh di tangan Tuhan. Namun ungkapan ini masih membutuhkan tafsir yang lebih spesifik. Masyarakat memandang bahwa  jodoh bagi anak pria merupakan urusan Tuhan, sedang untuk wanita hal ini menjadi urusan orang tua. Di masyarakat pedesaan, seorang gadis yang akan yang akan dikawinkan belum mengenal siapa calon pendampingnya sebab keyakinan yang telah menjadi ‘lumrah’ bahwa orang tualah yang menentukan secara sepihak calon suami anak gadisnya. Dalam istilah fiqh, hak orang tua ini disebut hak ijbâr.

Sebagai orang tua, selazimnya menginginkan kebahagiaan anak yang telah dikandung, dilahirkan dan diasuhnya dengan susah payah serta disayangi sejak dalam kandungan dan dibesarkannya. Keikutsertaan orang tua dalam memilihkan jodoh bagi anak tidak dapat dipermasalahkan atau disalahkan. Apabila menengok masa lalu, kaum wanita tidak dapat disamakan dengan wanita masa sekarang, baik dari segi pendidikan, pengalaman, pergaulan dan kondisi lingkungan. Menjadi wajar apabila orang tua mereka ikut menentukan pilihan bagi anak-anaknya, bahkan menjadi tanggung jawab umat Islam untuk memilihkan atau mencarikan jodoh baik bagi pemuda ataupun pemudi (siapa saja yang belum bersuami atau beristri). Demikian ini akan, akan terlihat adanya kesejajaran dalam Islam mengenai “memilih” ini.[1] Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat al-Nur (24): 32, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian yang tidak beristri atau tidak bersuami di antara kamu”.

Pria ataupun wanita mempunyai hak yang sama dalam pemilihan jodoh untuk menentukan siapa yang akan menjadi pendampingnya di masa depan, demi keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan keluarga (al-Rum 30;21). Karena itu, ajaran Islam memberi tuntunan dalam menentukan pilihan.[2] Dalam kehidupan, hak ijbâr ini tidak lagi dapat dipertahankan, apalagi hal ini bertentangan dengan prinsip kemerdekaan. Kemerdekaan  dalam memilih jodoh telah ditegaskan dalam Islam melalui pernyataan Rasulullah SAW. ketika beliau didatangi oleh seorang gadis sambil mengadukan tentang ayahnya yang telah memaksanya untuk kawin dengan seseorang yang tidak ia senangi, Rasulullah memutuskan agar urusan perkawinan tersebut dikembalikan kepada anak gadis itu untuk memilih.[3]

Islam bercita cita untuk menciptakan suatu masyarakat religius yang penuh damai dan rukun. Hal ini tidak mungkin tercapai kecuali bila masing-masing keluarga hidup dengan rukun dan tenteram. Kesakinahan di dalam keluarga baru terwujud bila antara masing-masing pihak (suami dan istri) terjalin cinta, kasih sayang yang tulus dan mendalam. Hal ini tak mungkin datang dengan tiba-tiba, melainkan harus diawali sejak dini, yakni jauh sebelum melangkah ke perkawinan, para calon suami-istri perlu ada kesesuaian. Untuk mendapatkan kesesuaian tersebut maka Islam memberikan hak yang sama dalam menentukan jodoh. Dengan demikian, wanita bebas menerima atau menolak pinangan seseorang atau pilihan orang tuanya, jika pria yang disodorkannya tidak cocok dengan harkat dan martabat si wanita tersebut terutama dalam bidang agama.[4] 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.