Perkembangan ISIS (Negara Islam Irak Suriah) di Indonesia

2 164

Negara Islam Irak Suriah (Islamic State of Iraq Syria), alias ISIS, Negara Islam Irak Suriah merupakan kelompok teroris yang paling disegani. Kehadirannya tidak bisa dipisahkan dari serangkaian peristiwa terorisme dan radikalisme, yang mewarnai perkembangan kehidupan global saat ini.Organisasi kelompok radikal Islam ini merupakan fenomena baru, menggantikan Al-Qaeda yang sudah mulai pudar pamornya, setelah ditinggal mati oleh pemimpinnya, Osama bin Laden pada Mei 2011.

Awalnya, ISIS ini merupakan bagian dari Al-Qaeda, setidaknya pernah menyatakan diri bergabung, tetapi karena perbedaan orientasi dan pola gerakan, akhirna mereka berpisah, dan saling memusnahkan. Al-Qaeda sendiri merupakan kelompok terorisme Internasional yang fenomenal, setelah kelompok ini menyatakan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa ledakan yang merobohkan gedung kembar World Trade Center di jantung kekuasaan Amerika Serikat pada 9 September 2001. Sesaat setelah kejadian itu, dunia dalam komando Amerika, menyatakan perang terhadap terorisme.

Perkembangan setelah itu, terorisme bukan saja tidak hilang, melainkan seperti semakin menjadi. Seolah “mati satu, tumbuh seribu”. Setelah Al-Qaeda redup, muncullah ISIS, dengan tampilan yang tidak kurang radikalnya. Beberapa negara di dunia, seperti Perancis, German, Belgia, dan Saudi Arabia sudah pernah menjadi korbannya. ISIS di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Bagdadi, saat ini tengah memainkan perannya di Syria dan Iraq, bahkan pengaruhnya telah menyebar ke hampir semua kawasan Timur Tengah, Amerika, Eropa maupun negara-negara terdampak lainnya, termasuk Indonesia. Kemajuan teknologi informasi seolah dimanfaatkan untuk penyebaran ideologi ISIS (Negara Islam Irak Suriah).

Tak lama setelah ISIS menunjukkan aktivitasnya di kawasan Timur Tengah, bendera ISIS pun berkibar di beberapa negara lain, di laur negara asalnya, termasuk di Indonesia. Lebih jauh, terdapat ratusan warga Indonesia yang berusaha bergabung dengan kelompok itu di Iraq dan Syria, melalui jalur negara-negara di sekitarnya.

Di dalam negeri, juga sudah ada puluhan orang yang menyatakan baiat terhadap ISIS. Karena itu, fenomena perkembangan organisasi ISIS perlu mendapat perhatian, dalam kaitan dengan dampaknya terhadap keamanan nasional. Persoalannya, kewaspadaan nasional terhadap perkembangan organisasi dan ideologi ISIS saat ini masih rendah, sehingga keamanan nasional seringkali terganggu.  (Baca: Dampaknya ISIS Terhadap Keamanan Nasional)

ISIS, atau Islamic State in Iraq and al-Syam merupakan terjemahan dari Ad-Daulah al-Islamiyah fi al-Iraq wa asy-Syam. Tapi, Associated Press dan AS menyebutnya sebagai Islamic State in Iraq and The Levant (ISIL). Organisasi ini ada kaitannya dengan arus gerakan Salafiyah Jihadiyah, yang menghimpun berbagai unsur berbeda untuk bertempur di Irak dan Suriah. Di medan tempur, mereka terbagi-bagi di bawah sejumlah front.

Karena kondisi tersebut, dimunculkanlah nama organisasi yang menyebut istilah “Ad-Daulah Al-Islamiyah”  alias Islamic State. Nama ini sekaligus menjadi magnet yang menarik banyak pasukan dari berbagai daerah di medan perang, untuk menyatakan kesetiaannya di bawah organisasi ISIS yang semakin besar cakupan dan pengaruhnya.

Organisasi Daulah Islamiyah awalnya terbagi dua, yaitu:, Daulah Islamiyah fil Iraq, yang di media massa dikenal dengan nama “Daisy”, yang disandarkan pada Kelompok Tauhid wal Jihad, bentukan tokoh berkebangsaan Yordania, Abu Musa az-Zarqawi di Irak pada tahun 2004, pasca invasi militer AS ke Irak.

Pada tahun 2006, Zarqawi menyatakan kesetiaannya pada mantan pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden, dan meminta agar organisasinya menjadi bagian dari organisasi tersebut. Selanjutnya, pada tahun yang sama, dibentuk Dewan Syuro Mujahidin di bawah kepemimpinan Abdullah Rashed al-Baghdadi. Tapi, az-Zarqawi akhirnya tewas dalam serangan AS pada pertengahan tahun 2006 dan kepemimpinan Daulah Islamiyah beralih ke Abu Hamza al-Mohajir. Hanya 4 tahun kemudian, tepatnya tanggal 19 April 2010, tentara AS di Irak berhasil membunuh Abu Hamza al-Mohajir. Dalam waktu sekitar sepuluh hari, Dewan Syuro menyelenggarakan pertemuan untuk memilih Abu Bakr al-Baghdadi, sebagai pengganti kepemimpinan Daulah Iraq Islamiyah.

Tanggal 9 April 2013, muncul sebuah rekaman suara yang dikaitkan dengan suara Abu Bakr al-Baghdadi. Dia menyatakan bahwa Jabhah Nushra (Front Kemenangan) di Suriah merupakan perpanjangan dari organisasi Daulah Iraq Islamiyah. Dalam rekaman itu, nama Jabhah Nushrah dan Daulah Iraq Islamiyah dihapus, untuk kemudian diganti menjadi Daulah Islamiyah fil Iraq wa Asy-Syam. Inilah awal terbentuknya organisasi yang kemudian dikenal oleh media asing dengan istilah ISIS (Negara Islam Irak Suriah) atau ISIL. (Baca: Dampaknya ISIS Terhadap Keamanan Nasional) Sumber (dakwatuna.com)

 

  1. aqilla berkata

    Insya Allah para mujahidin Daulah khilafah islamiyah mampu menegakkan syariat islam di Indonesia. baqiyah!!

    1. Ali Alamsyah
      Ali Alamsyah berkata

      Amiiinn…….

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.