Perkembangan Moral Manusia Perspektif Psikologi

Perkembangan Moral Manusia Perspektif Psikologi
0 1.543

Manusia menjadi objek dalam pembahasan psikologi khususnya psikologi perkembangan. Cabang ilmu ini mengkaji tentang perilaku manusia ditinjau dari sudut pandang tertentu. Adapun pembahasanya meliputi perkembangan fisik dan psikis manusia baik secara, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi kepribadian, psikologi abnormal, psikologi kesehatan, psikologi olah raga, psikologi berfikir, psikologi kepribadian dan lain sebagainya.

Manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik ataupun secara psikologis. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut telah dimulai sejak calon manusia berada pada kandungan seorang ibu hingga manusia meninggal dunia. Pertumbuhan itu sendiri merupakan suatu perubahan fisik manusia baik perubahan kearah negatif ataupun positif. Misalnya perubahan dari postur tubuh yang kecil (usia bayi) berubah menjadi postur tubuh yang semakin besar sesuai dengan bertambahnya umur seseorang.

Perkembangan merupakan suatu kemampuan manusia untuk melakukan perubahan baik ke arah yang positif maupun ke arah negatif dari segi psikis. Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai adalah mempelajari dan menerapkan apa yang ada dilingkungan informal, formal dan non-formal harus sesuai dengan norma/nilai yang berlaku. Selain itu, perkembangan manusia menuntut agar perilakunya sesuai dengan harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didororng dan diancam hukuman. Adanya kesadaran dari setiap individu untuk mentaati aturan – aturan di lingkungnya sesuai dengan moral yang berlaku.

Moral dan Lingkungan

Moral tidak terlepas dari lingkungan hidup manusia, karena manusia tidak bisa terlepas dari interaksi terhadap sesamanya dan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam hubungan tersebut dibatasi oleh nilai sosial yang terkandung dalam masyarakat. Moral menjadi salah satu bidang yang diteliti dalm ilmu psikologi karena memiliki berhubungan erat dengan perilaku manusia didalam masyarakat.

Dalam perkembangan moral yang dialami oleh manusia baik ke arah yang positif maupun ke arah yang negatif sangat mudah dipengaruhi oleh faktor – faktor yang dialami manusia tersebut baik yang timbul dari diri sendiri maupun dari lingkungan. Untuk melakukan perubahan atau perkembangan moral, kita harus mengetahui fase – fase atau tahap – tahap yang sesuai dengan proses kematangan berfikir manusia. Apabila manusia itu sendiri tanpa dapat mengendalikan masalah yang dialaminya maka hal itu bisa menjadi faktor yang mempengaruhi moral manusia ke arah yang negatif.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis menganggap bahwa mengetahui tahapan dan fator – faktor yang mempengaruhi perkembangan moral adalah sesuati hal yang penting. Sebagai sala satu upaya untuk senantiasa memahami tentang nilai – nilai yang ada di lingkungan serta melaksanakan perkembangan moral sesuai tuntutan masyarakat.

Definisi Moral

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan moral adalah aklak, budi pekerti, atau susila.[1] Sedangkan Masnur Muskich menyebutkan moral berasal dari bahasa latin yakni mores yang berarti adat kebiasaan.[2] Kemudian Heri Gunawan dalam bukunya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan moral adalah sesuatu yang sesuai dengan ide-ide umum yang diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas.[3]

Berdasarkan beberapa pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa moral merupakan nilai perilaku yang harus dipatuhi oleh manusia, karena moral  merupakan norma yang mengatur baik-buruk individu dalam suatu lingkungan masyarakat. Kepribadian sesorang sangat erat kaitannya dalam kegiatan sehari-hari, moral diperlukan demi kehidupan yang damai dan harmonis sesuai dengan aturan.

Sedangkan menurut Santrock mengungkapkan bahwa perkembangan moral adalah perubahan penalaran, perasaan dan perilaku tentang standar benar salah.[4] Artinya bahwa moral berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral juga mendasari dan mengendalikan seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku.

Aliran Perkembangan Moral Manusia

Menurut Haidt dalam Abdul Rahman menyebutkan bahwa ada dua aliran besar dalam perkembangan psikologi moral. Pertama aliran yang dimotori oleh Piaget, Gilligan, Turiel dan lainya. Aliran ini meyakini bahwa pentingnya fungsi rasio dan otonomi dalam melakukan penilaian keputusan moral. Sedangkan aliran lainya menganggap penting peran emosi dan intuisi dalam menjelaskan perilaku moral. Adapun tokoh yang mendukung tentang teori ini antara lain Wilson sebagai tokoh penting dan dikembangkah oleh Berkowitz, Hoffman, Eismberg, Bargj, Damasio dan Haidt. [5]

Tahapan Perkembangan Moral

Menurut Kohlberg dalam Santrock mengungkapkan bahwa ada 6 tingkatan perkembangan moral manusia. Keenam tahapan perkembangan moral dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan antara lain pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.[6]

Pra-Konvensional

Tingkat pra-konvensional adalah tingkat terendah dari penalaran moral. Para tahap ini moral baik dan buruk diinterpretasikan melalui hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Menurut Kholberg tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal antara lain sebagai berikut :

  • Tahap pertama moralitas heteronom

Pada fase ini penalaran moral terkait dengan hukuman (punishment). Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Misalnya seorang anak harus patuh kepada ayah dan ibunya ketika di rumah, karena mereka takut hukuman.

  • Tahap dua Individualisme, tujuan instrumental dan pertukaran

Pada fase ini menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, maka akan kugaruk juga punggungmu. Dalam tahap dua perhatian kepada orang lain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja.

Konvensional

Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Pada tingkatan ini, individu memberlakukan standar tertentu, tetapi standa yang ditetapkan oleh orang lain, misalnya orang tua atau pemerintah. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.

  • Tahap Tiga Ekspektasi Interpersonal Mutual, Hubungan Dengan Orang Lain Dan Konformitas Interpersonal

Pada fase ini, individu menghargai kepercayaan, perhatian dan kesetiaan terhadap orang lain sebagai dasar penilaian moral. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka sering mengadopsi standar moral orang tua dan mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal yang diinginkan orang tua.

  • Tahap Empat Moralitas Sistem Sosial

Dalam tahap empat ini, penilaian moral didasari oleh pemahaman tentang keteraturan di masyarakat, hukum, keadilan dan kewajiban. Artiya pemenuhan kewajiban, rasa hormat terhadap otoritas merupakan hal penting yang harus dijalani. Hukum dan tata tertib bermasyarakat adalah sesuatu yang dijunjung tinggi dan memelihara ketertiban sosial yang sudah ada demi ketertiban itu sendiri. Maka individu selalu berusaha untuk mematuhi segala aturan agar dirinya diterima.

Kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Sebagai contoh remaja mungkin berfikir, supaya komunitas dapat bekerja dengan efektif perlu dilindungi oleh hokum yang diberlakukan terhadap anggotanya.

Pasca Konvensional

Pada tingkatan pasca konvensional, individu menyadari adanya jalur moral alternatif, mengeksplorasi pilihan ini lalu memutuskan melalui kode moral personal. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.

  • Tahap Lima Kontrak atau Utilitas Sosial Dan Hak Individu

Individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak.  Artinya iimbul kesadaran bahwa setiap orang tidak harus memiliki nilai -nilai dan pendapat yang sama. Nilai – nilai, aturan, norma hukum mempunyai arti yang relatif bagi masing – masing orang. Oleh karenanya hukum dapat diubah melalui cara yang demokratis. Hukum bukan sesuatu yang absolut dan kaku.

  • Tahap Enam Prinsip Etis Universal

Pada fase ini, seseorang telah mengembangkan standar moral berdasarkan hak asasi manusia universal. Penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil.

Maksud dari pernyataan diatas adalah kebenaran dihayati sebagai hasil dari suara hati yang logis dan sesuai dengan prinsip – prinsip etika universal yaitu prinsip keadilan, pertukaran hak, keseimbangan, dan kesamaan hak asasi manusia serta penghormatan terhadap martabat manusia. Konformitas dilakukan bukan berdasar perintah tetapi karena hasrat dan dorongan dari dalam diri sendiri.

Analisa Psikologi

Berdasarkan enam tahapan diatas setiap tahapan ini menggambarkan pola ciri yang berbeda dari hubungan antara diri (self) dan aturan – aturan masyarakat serta harapan. Perkembangan moral setiap individu ini mengikuti pola urutan yang tidak dapat dilompati sehingga bila terdapat perbedaan disebabkan masing – masing individu  mempunyai kesempatan yang tidak sama dalam mencapai tahap tertentu.

Melihat dari sisi usia Kholberg dalam Fatimah Ibda menjelaskan bahwa tingkatan pra konvensional adalah tingkatan penalaran moral yang kebanyakan dicapai oleh anak di bawah usia 9 tahun dan sebagian remaja dan para pelaku tindak kriminal baik remaja maupun orang dewasa. Pada tahap ini aturan-aturan dan harapan lebih didasarkan pada luardiri individu atau eksternal.

Sementara itu tingkatan konvensional adalah tingkatan penalaran moral yang kebanyakan telah dicapai oleh remaja dan orang dewasa. Pada tahap ini individu telah menginternalisasikan aturan -aturan dan harapan masyarakat. Tingkatan pasca konvensional adalah tingkatan penalaran moral yang biasanya dicapai oleh orang dewasa awal yaitu setelah usia 20 tahun atau pada tahap remaja akhir. Pada tahap ini individu sudah membedakan antara diri mereka dan aturan – aturan serta harapan -harapan orang lain, lebih mendefinisikan nilai – nilai mereka se cara rasional, dikenal dengan prinsip – prinsip pilihan diri.[7]

Faktor yang mempengaruhi perkembangan moral

Menurut Prayetno ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan moral seseoorang yaitu orang tua/guru sebagai model, disiplin yang diberikan orang tua dan induksi dari teman sebaya.[8] Untuk lebih jauhnya penulis akan membahas faktor – faktor tersebut antara lain sebagai berikut :

Orangtua/guru sebagai model

Menurut Freud dalam Prayitno baik  pria maupun wanita meniru tingkah laku orangtua (yang sejenis) adalah karena keinginan untuk menjadi seperti orangtua. Artinya ada kecenderungan pada anak untuk meniru orang tua baik dari segi penampilan, pekerjaan, gaya dan lain sebagainya. Maka dari itu orang tua dijadikan sebagai model.

Disiplin yang diberikan orangtua

Menurut Hoffman dan Saltztein dalam Prayitno mengemukakan bahwa orangtua yang mempergunakan teknik disiplin induksi (memberikan alasan mengapa seseorang boleh atau tidak boleh bertingkah laku tertentu) cenderung menyebabkan perkembangan moral remaja sangat baik, sedangkan penggunaan disiplin berkuasa dan otoriter cenderung menyebabkan perkembangan moral yang rendah. Artinya pola asuh yang diberikan oleh orang tua memiliki peranan yang sangat besar pada perkembangan moral anak. Jika orang tua menanamkan sikap disiplin sejak dini kepada anak, maka hal itu akan berlanjut hingga ia dewasa.

Induksi dengan teman sebaya

Teman sebaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang. Interaksi ini akan meransang anak atau orang dewasa terbawa oleh sudut pandang temanya. Istilah “role taking” kerap muncul, yaitu kemampuan memahami sesuatu atau peristiwa dari sudut pandangan orang lain. Dengan meningkatnya interaksi dengan teman sebaya, maka kemampuan “role taking” pun makin mahir dan sempurna dan ini merupakan jalan bagi perkembangan moral.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan diatas penulis menyimpulkan beberapa hal antara lain sebagai berikut :

  1. Perkembangan moral dapat didefiniskan sebagai kemampuan seseorang untuk melakukan perubahan kearah positif maupun negatif sesuai dengan proses interaksi sosial perseorangan dengan orang lain. Dengan kata lain manusia akan berkembang moral dan baik apabila dalam sejarah kehidupan ia dapat meniru orang lain dilingkungannya.
  2. Terdapat dua aliran perkembangan moral antara lain aliran yang dimotori oleh Piaget, Gilligan, Turiel dan lainya. Aliran ini meyakini bahwa pentingnya fungsi rasio dan otonomi dalam melakukan penilaian keputusan moral. Sedangkan aliran lainya menganggap penting peran emosi dan intuisi dalam menjelaskan perilaku moral yang Wilson sebagai tokoh penting dan dikembangkah oleh Berkowitz, Hoffman, Eismberg, Bargj, Damasio dan Haidt.
  3. Menurut Kholberg perkembangan moral manusia terdapat beberapa fase – fase tertentu yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi kematangan manusia. Ada 3 tingakatan perkembangan manusia dan didalamnya terdapat fase – fase perkembangan moral manusia. Tingkat pertama pra konvensional membahas tentang dua tahap : (1) tentang hasil dari tindakannya, (2) apa untungnya bagi saya. Tingkat konvensional (kedua) adanya tahap (3) pandangan terhadap ada atau tidaknya persetujuan orang lain, (4) pemahaman tentang aturan / norma yang ada. Tingkatan pasca konvensional (ketiga) juga terdapat dua tahap yaitu : (5) prnsip pentingnya harga diri, (6) prinsip universal tentang keadilan.
  4. Terdapat lima faktor yang mempengaruhi perkembangan moral seseorang yaitu orang tua/guru sebagai model, disiplin yang diberikan orang tua dan induksi dari teman sebaya. By. [email protected]. Aldy Nurcahya

 DAFTAR PUSTAKA 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Prayitno, Elida. 1992. Psikologi Perkembangan. Padang: Universitas Negeri Padang.
Fatimah, Ibda. 2011. Perkembangan Moral Anak dan Relevansinya dengan Pendidikan. IAIN Ar-Raniry : Jurnal Ilmiah Dialektika.
Gunawan, Heri. (2012). Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasinya, Bandung : Alfabeta.
Masnur, Muslich. 2006. Pendidikan Karakter : Menjawab Tantangan Krisis Multidimendiontal. Jakarta: Bumi Aksara.
Rahman, Agus Abdul. 2013. Psikologi Sosial (Integrasi Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan Empirik). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Santrock, John W, 2002. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.

Catatan Kaki

[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
[2] Masnur Muslich, Pendidikan Karakter : Menjawab Tantangan Krisis Multidimendiontal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 74
[3] Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasinya, (Bandung: Alfabeta, 2012)., h.14
[4] John, W. Santrock. Perkembangan Anak Jilid 2. ( Jakarta : Erlangga, 2007). Hal. 117
[5] Abdul Rahman Saleh. Psikologi Sosial. (Jakarta : PT. Grafindo Persada, 2013). Hal. 183
[6] John, W. Santrock. Perkembangan Anak Jilid 2. ( Jakarta : Erlangga, 2007). Hal. 119
[7] Fatimah Ibda. Perkembangan Moral Anak dan Relevansinya dengan Pendidikan. Jurnal Ilmiah Dialektika, IAIN Ar-Raniry
[8] Prayitno, Elida. Psikologi Perkembangan. (Padang: UNP, 1992). Hal. 26 – 27

Komentar
Memuat...