Perkembangan Sosio Emosional Pada Anak

0 1.012

Perkembangan Sosio Emosional atau Sosial Emosi adalah proses berkembangnya kemampuan anak untuk menyesuaikan diri terhadap dunia sosial yang lebih luas. Dalam proses perkembangan ini anak diharapkan mengerti orang lain, yang berarti mampu menggambarkan ciri-cirinya, mengenali apa yang dipikirkan, dirasa dan diinginkan serta dapat menempatkan diri pada sudut pandang orang lain tersebut, tanpa “kehilangan” dirinya sendiri.

Pada masa ini juga banyak sekali yang mempengaruhi sosial anak-anak, di antaranya adalah keluarga, teman sebaya, sekolah. Dan di luar itu juga seperti media, termasuk televisi, internet, dll. Saat anak berusia 4-5 tahun, yaitu usia-usia persiapan masuk sekolah, hampir sebagian besar dari mereka mempercayakan pada orang tuanya tentang informasi dunia sekitarnya. Baru ketika mereka masuk sekolah, hubungan dengan orang lain lebih diperluas dan kompetensi mereka makin bertambah.

Pada masa ini, hubungan antar teman menjadi sangat penting. Diterima oleh kelompok dan menjadi anggota kelompok merupakan tujuan utama. Kemudian antara umur 7-9 tahun membentuk persahabatan yang erat dengan kelompoknya yang sejenis.

Selama tahun-tahun sekolah, anak-anak juga mempercayakan kelompok mereka sebagai sumber informasi dan mungkin menggunakannya sebagai standar untuk mengukur diri mereka sendiri. Pada umur 7-8 tahun, anak-anak cenderung untuk melihat kelompok mereka sebagai model tingkah laku dan sebagai social reinforcement, seperti yang sering mereka lihat pada keluarga mereka sendiri. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak telah mempercayakan teman-temannya sebagai sumber sosial dan sebagai pemberi dukungan moral.

Peniru yang Handal

Anak usia ini sedikit demi sedikit memang mulai menepis ketergantungannya pada orang tua, dan belajar untuk mulai menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia seperti menemukan dunia lain yang lebih menarik dan menantang untuk diekplorasi dibanding dunia masa kecilnya bersama ayah dan ibu di rumah. Perlahan-lahan tapi pasti ia mulai asyik bermain denagn teman-temannya dan mengurangi jatah waktunya bersama ibu, ayah maupun saudara-saudaranya.

Walaupun waktu dengan kedua orang tua semakin terbatas, bukan berarti anak tidak membutuhkan orang tua lagi. Anak usia sekolah masih sangat membutuhkan figur kedua orang tuanya. Ia tetap peniru cilik yang andal, yang selalu memperhatikan tingkah laku orang-orang yang dibanggakan dan dicintainya untuk dijadikan model. Apa yang mereka lakukan adalah cara terbaik yang dibutuhkan anak untuk memahami dan menjawab tuntutan orang-orang di sekelilingnya, sehingga ia mempunyai modal yang cukup untuk dapat berinteraksi dengan lingkungannya.

Proses selanjutnya, hubungannya dengan dunia luar tidak hanya menjadi cermin yang dapat membantu anak untuk makin mengenali dirinya, namun juga untuk lebih mengenal dan mengerti kebutuhan dan perasaan orang lain.

Berawal dari Pembentukan Konsep Diri

Kesadaran anak usia sekolah terhadap dirinya sendiri mulai meningkat, dimulai dengan pengenalan diri melalui karakteristik eksternal, seperti ciri-ciri fisiknya, beralih pada pengenalan diri melalui karakteristik psikologinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara meminta anak menjelaskan tentang dirinya sendiri.

Anak yang lebih muda biasanya menjawab dengan menekankan pada karakteristik fisik: “Saya berambut keriting dan berbaju merah”. Anak usia sekolah memiliki jawaban yang berbeda, yang berkembang secara bertahap sesuai dengan kedalaman pengenalan diri sendiri, mengikuti perkembangan usia. Contoh jawaban anak usia 8 tahun:”Saya anak yang pintar dan punya banyak teman”.

Pemahaman diri pada akhirnya berkembang pada pembentukan konsep diri atau evaluasi terhadap diri sendiri secara lebih spesifik. Misalnya, anak sudah dapat memberi keterangan tentang dirinya dari sisi penampilan fisik, prestasi akademis ataupun prestasi-prestasi lain.

Kesadaran Peran Jenis Kelamin

Sesuai dengan perkembangannya, maka kesadaran anak akan adanya perbedaan jenis kelamin semakin kuat. Anak makin menyadari adanya pembagian peran yang sesuai dengan perbedaan jenis kelamin. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh budaya maupun hasil dari imitasi orang-orang disekelilingnya. Harapan lingkungan terhadapnya, yaitu anak perempuan harus bertingkah laku feminin dan anak laki-laki harus maskulin, makin membuka mata anak terhadap adanya perbedaan. Hal ini membuat mereka mulai memisahkan diri dan melakukan pengelompokan berdasarkan jenis kelamin masing-masing.

Bergesernya Sudut Pandang

Sudut pandang anak pada awalnya berpusat pada dirinya sendiri (egosentris). Anak presekolah mempersepsikan orang lain melalui prespektif dirinya tanpa menghiraukan pendapat orang lain. Cara pandang seperti ini mengesankan bahwa dia egois. Banyak tindakan atau ucapan anak usia prasekolah yang menyinggung perasaan orang lain. Karena, walaupun sudah dapat membedakan ekspresi marah, sedih dan gembira pada orang lain, ia belum melihat hubungan antara ekspresi tersebut dengan penyebab orang  berekspesi seperti itu. Ia belum dapat memahi bahwa orang lain juga punya pikiran dan perasaan, yang kadangkala berbeda dengan dirinya.

Pada usia sekolah, dengan berkembangnya pengenalan diri seorang anak, ditambah dengan pengalamannya yang makin beragam, sudut pandang anak mulai bergeser. Ia mulai mengerti orang lain dan dapat menempatkan diri pada sudut pandang orang lain tanpa “kehilangan” dirinya sendiri. Ia mulai mengalami konflik dalam berhubungan dengan teman sebaya. Dari konflik-konflik tersebut ia belajar bahwa orang lain bisa memiliki sudut pandang yang berbeda. Ia mulai mengerti bahwa perbedaan sudut pandang ini didasari oleh perbedaan penalaran. Kesadaran baru ini membuat anak lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain.

Terbentuknya Harga Diri

Dengan semakin terlibatnya anak dengan orang-orang di lingkunganya. Ia mulai melakukan perbandingan-perbandingan antara dirinya dengan mereka. Hal ini mendorongnya untuk mempelajari dan menguasai berbagai kemampuan dan keterampilan yang bisa meningkatakan perasaan “mampu bersaing”.

Erik Erikson, seorang psikoanalis asal Jerman kelahiran Amerika yang juga tertarik pada perkembangan aspek sosial, menyatakan bahwa perkembangan anak usia sekolah merupakan pertentangan antara dua kutub, yaitu industry versus inferiority. Industry (mencapai keberhasilan) adalah tema dominan pada tahapan usia ini, ketika anak menjadi sangat tertarik untuk mencoba berbagai bidang dan menguasainya sekaligus. Kegagalan berulang yang dialami dapat membuat anak merasa inferior, rendah diri. Seyogyanya, anak mengalami kegagalan dan keberhasilan secara berimbang. Kegagalan, selain dapat memotivasi anak untuk bangkit, sekaligus juga dapat menjadi pengalaman berharga yang mengajarkannya untuk menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang berhubungan dengan kegagalan tersebut. Sedangkan keberhasilan dapat meningkatkan citra positif anak terhadap dirinya sehingga meningkatkan harga dirinya.

Selain hubungan dengan orang tua, identitas berkelompok yang dimiliki anak juga mempengaruhi harga diri mereka. Anak usia ini memang mulai mengidentifikasikan dirinya pada kelompok tertentu dan menganggap dirinya bagian dari kelompok tersebut. Jika kelompoknya memiliki “nilai lebih” dibanding kelompok lain, hal ini akan ikut menghasilkan citra positif  pada diri anak.

Harga diri anak terbentuk melalui berbagai pengalaman yang dialaminya. Pada dasarnya harga diri anak dapat ditingkatkan melalui:

  • Dukungan emosional

Dukungan emosional dari orang-orang terdekat meningkatkan harga diri anak. Anak yang tidak mendapat dukungan emosional karena bermasalah dengan orang tuanya, biasannya bisa mendapatkan dukungan ini dari guru, pelatih orang dewasa lain yang dipercayainya.

  • Pengakuan terhadap prestasi

Prestasi yang dicapai juga dapat meningkatkan harga diri anak. Karenanya, perlu diupayakan suatu kegiatan, misalnya acara pementasan seni seperti pertunjukan tari, musik dan lain sebagainya. Keikutsertaan dalam pagelaran semacam itu memberi kesempatan kepada anak untuk menunjukan kemampuannya.

  • Belajar menyelesaikan masalah

Biasakan anak untuk menyeleisaikan masalahnya sendiri. Keberhasilan anak memecahkan suatu masalah menimbulkan perasaan positif dalam dirinya.

  • Menggalang hubungan dengan teman sebaya

Sejalan dengan kegiatanya bersekolah, perlahan-lahan anak mulai melepaskan ketergantungannya pada kedua orang tuanya. Anak mulai membutuhkan ruang gerak yang lebih luas. Ia membutuhkan kebebasan untuk mencoba hal-hal baru. Inilah saat yang tepat untuk memperluas jaringan pergaulannya keluar lingkup keluarga batihnya untuk bersiap-siap menghadapi pergaulan yang lebih luas kelak. Pada saat inilah anak membutuhkan dorongan orang tua yang memotivasinya untuk memperluas pergaulannya.

Anak usia 6 hingga 9 tahun biasanya belum berhubungan terlalu erat dengan teman-temanya. Oleh karena itu janganlah heran kalau bulan ini ia asyik bercerita tentang temanya yang bernama Desi, dua bulan kemudian ia lebih antusias bercerita tentang Tina atau Anto. Hubungan anak dengan temannya biasanya didasari kegiatan yang dijalani anak. Anak-anak ini biasanya saling membutuhkan untuk sama-sama menjalankan suatu kegiatan. Sedangkan untuk kegiatan yang lain mereka berhubungan dengan anak-anak yang lain lagi, sehingga semakin banyak kegiatan seorang anak, semakin bercabang-cabang pula jaringan teman anak tersebut. Pada umumnya hubungan yang lebih dalam baru dimulai setelah anak memasuki akhir usia sekolah (10-12 tahun).

Hubungan anak dengan teman-temannya memang belum begitu erat pada awal usia sekolah. Namun hubungan tersebut mempunyai beberapa segi positif yang membantu perkembangan psikologi.

Belajar dari Teman

Dengan demikian fungsi teman hampir menyerupai fungsi orang tua, yaitu dapat memberikan anak perasaan aman, sehingga kehadiran teman secara tidak langsung dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dalam menghadapi masalah. Selain itu melalui teman, anak dapat belajar banyak hal. Hal inilah yang sering digunakan pihak sekolah untuk membuat program tutoring.

Hal lain yang perlu disimak pada usia ini adalah, anak juga mulai memperluas hubungan dengan orang dewasa lain selain orang tuanya. Misalnya, kepala sekolah, guru, pelatih olahraga, yang masing-masing mempunyai karakteristik dan kewenangan yang berbeda-beda. Pengalaman anak berhubungan dengan banyak orang disebut akomodasi sosial. Melalui cara ini anak belajar bahwa setiap orang adalah individu yang berbeda dengan dirinya. Mereka juga belajar menjaga hubungan dan mengatasi masalah yang timbul dari hubungannya dengan oran-orang dalam lingkup pergaulannya ini.

Oleh Wawan Ahmad Ridwan

Bahan Bacaan

Sriwandono Sri Esti Wuryani, Psikologi…..op.cit. hal92

Sobur, A Psikologi Umum, Bandung, PT Pustaka Setia, 2003

Majalah Ayahbunda…..op.cit hal 58

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.