Perlu Perubahan Mindset Yayasan| Kajian Sosial Pendidikan Part – 2

0 23

Perlu Perubahan Mindset Yayasan. Jika mindset pemilik Yayasan bergerak sebagaimana dimaksud dalam nalar UU  Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, maka, sebenarnya tidak akan ada apa yang disebut dengan  istilah konflik Yayasan. Para pendiri Yayasan seharusnya adalah mereka yang memiliki uang tak berseri atau paling tidak memiliki jaringan dengan pemilik kapital yang tidak terbatas. Jika suatu yayasan didirikan dengan semangat menjadi pengumpul uang, maka, besar kemungkinan konflik yayasan di kemudian hari, akan terjadi. Khususnya ketika yayasan dimaksud, tumbuh menjadi sebuah raksasa ekonomi.

Di anatara Para pendiri Yayasan, sering merasa ada ketidakadilan pembagian “keuntungan”, yang seharusnya dalam konteks yayasan, tidak ada apa yang disebut dengan keuntungan tadi. Inilah yang melahirkan konflik. Para pendiri yayasan seharusnya mereka yang selalu menginisiasi bagaiaman kebutuhan masyarakat, justru terpenuhi atas berdirinya yayasan dimaksud.

Hari ini, sering disaksikan dan terdengar banyak di antara pendiri yayasan yang berujung pada konflik di antara para pendiri itu sendiri. Tidak sedikit bahkan di antara pendiri dan pengelola Yayasan yang membawa konfliknya ke ranah hukum. Konflik bahkan berakhir dengan penjara. Mengapa bisa demikian? Salah satu sebabnya, menurut kami karena apa yang kami tulis tadi, pendiri yayasan tidak memiliki ketercukupan modal. Mereka menempatkan yayasan sebagai lahan usaha kehidupan dirinya dan keluarganya.

Perubahan Konsep Nir Laba menjadi Lahan Usaha

Para pendiri yayasan, banyak di antaranya yang bergerak justru dari ketidaktercukupan modal. Dalam bahasa lain, banyak juga di antara mereka yang mendirikan yayasan itu, justru untuk mengadu nasib dalam konteks penguasaan ekonomi. Mereka banyak yang mendirikan yayasan itu, karena tidak terserap dalam lapangan kerja formal, padahal mereka adalah kaum terdidik. Mereka yang mendirikan Yayasan tersebut, berawal dari kehampaan modal dirinya baik dalam konteks akes dunia kerja maupun modal usaha. Kebimbangan mereka kemudian ditumpahkan dengan mendirikan Yayasan dengan maksud justru untuk mengumpulkan modal dari masyarakat.

Tujuannya awal memang pasti mulia. Tetapi, sipat mulia ini harus berakhir ketika perjalanan yayasannya mulai menanjak. Coba jika kita bayangkan bagaimana misalnya Ford Foundation atau Habibie Center yang memiliki ketercukupan modal. Rasanya, sampai saat ini belum terdengar isu konflik yayasan dengan latar belakang pembagian hasil keuntungan ekonomi.

Inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kita. Tentu tulisan ini tidak dimaksudkan pada seluruh yayasan yang ada. Banyak juga di antara para pendiri dan pemilik yayasan justru mendirikan yayasan dengan kepentingan keumatan yang cukup mulia dan tetap menjalankannya dengan baik. Mereka menjadikan seluruh amal usaha yang dimiliki yayasan, bukan untuk bagaimana mereka mendistribusikan kekayaan yang mereka miliki, tetapi, justru bagaimana yayasan dapat mengumpulkan koin-koin keuntungan tadi untuk membantu umat yang banyak.

Ada di mana posisi yayasan kita. Analisa saja sendiri. Team Lyceum Indonesia.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.