Inspirasi Tanpa Batas

Perlukan Kudeta PKI diluruskan Sejarahnya?

0 0

Konten Sponsor

Perlukan Kudeta PKI diluruskan Sejarahnya. Sejarah selalu ditulis siapapun yang berkuasa, saat di mana peristiwa itu berlangsung. Mereka yang tidak pernah berkuasa, berarti tidak memiliki peluang untuk membentuk dan menuliskan sejarah. Karena itu, berkuasa menjadi kata kunci, agar ia hadir bersama sejarah dan menjadi absyah atas sejarah yang ditulisnya.

Indonesia hari ini, sedang disibukkan dengan cerita dan semangat pelurusan sejarah. Khususnya berkaitan dengan tragedi kemanusiaan yang menjadi cikal bakal berakhirnya kekuasan Soekarno. Suatu rezim yang baru beberapa tahun sebelumnya, ditetapkan sebagai Presiden Seumur Hidup oleh MPRS.

Peristiwa sejarah ini diawali oleh penculikan dan pembunuhan 7 Jenderal di lubang Buaya, Halim Perdana Kusuma, 30 September 1965 Jakarta. Peristiwa ini, diduga dilakukan DN. Aidit dan Kolonel Untung. Kedua tokoh ini, sering disebut sebagai petinggi PKI dan dalang utama tragedi berdarah atas para jenderal yang dianggap akan melakukan makar terhadap kekuasaan Soekarno.

Terminologi Pelurusan Sejarah

Kalimat Pelurusan Sejarah, menurut saya, perlu berhati-hati menggunakannya. Sebab melalui kalimat dimaksud, secara hermeneutik, secara langsung akan bermakna, bahwa dulu, berarti ada peristiwa yang ditulis secara dengan “sengaja bengkok”. Penggalan sejarah yang sengaja dibengkokan untuk kepentingan kekuasaan.

Bengkok dalam pengertian salah dimaksud, harus diluruskan seperti alur cerita yang sesungguhnya. Pertanyaannya, lalu bagaimana sejarah tentang Komunisme Indonesia itu sesungguhnya? Apakah benar cerita atau sejarah yang ditulis masa lalu, tentu komunisme Indonesia itu bengkok? Siapa yang memiliki otoritas ilmiah atas penelusuran sejarah masa lalu, tentu dalam konteks kekinian yang mampu mengabsyahkan bahwa peristiwa masa lalu yang tertulis dalam sejarah itu, dan dianggap belum lurus itu, sekarang menjadi benar-benar lurus?

Karena itu, cerita soal pelurusan sejarah, harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Mengapa? Sebab soal pelurusan sejarah, jangan sampai di kemudian hari memungkinkan dianggap perlu untuk dilakukan pelurusan ulang. Jangan sampai, pelurusan sejarah yang dilakukan hari ini, juga mengandung makna “berkepentingan” atas kekuasaan. Atau apalagi pelurusan sejarah demi memenuhi hasyrat demdam sejarah masa lalu yang belum lekang dan belum usang. Team lyceum Indonesia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar