Membaca Masa Depan

0 36

Tidak ada seorangpun di antara manusia yang mampu membaca masa depan hidupanya. Kenapa? Karena masa depan adalah hak mutlak Tuhan. Perspektif masa depan, tidak dimiliki makhluk apapun, tidak terkecuali manusia. Karena itu, menjadi wajar ketika para mursid dalam Tasawuf Falsafi, mengajarkan bahwa manusia, sesungguhnya hanya selalu memiliki satu tarikan nafas kehidupan. Lebih dari satu tarikan nafas kehidupan, atau sisanya, tidak pernah dapat diketahui. Bahkan, tidak dapat dimiliki siapapun, setinggi apapun ilmu yang dimiliki seseorang dalam perpektif kemanusiaan.

Karena masa depan selalu merupakan hak mutlak Tuhan. Maka, sesungguhnya, tidak ada satu makhlukpun di muka bumi ini, yang diberi otoritas untuk menentukan masa depan dirinya, atau menentukan masa depan  orang lain. Masa depan selalu bersipat ghaib. Karena masa depan selalu bersipat ghaib, maka, kita hanya dimungkinkan untuk menata kebaikan pada detik ini, saat ini, hari ini dan segenap kekinian lainnya agar memiliki ruang kebaikan dalam ruang dan waktu yang ghaib.

Masa Depan Menurut Fisikawan

Hawking (1991), Fisikawan ternama asal  Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa, jika manusia mampu meramal masa depannya, maka, hancurlah seluruh jagad raya ini. Mengapa? Karena manusia akan putus asa atau berbangga pada apa yang akan menimpa dirinya. Hanya karena manusia tidak memiliki kemampuan meramal masa depannya itulah, ia, akhirnya ditakdirkan untuk selalu menciptakan segenap kebaikan, segenap perubahan dan segenap kelebihan hidup lain. Dengan harapan, kebaikan-kebaikan alami lainnya, akan datang menghampiri dirinya.

Karena itu, menjadi aneh jika manusia terdidik atau mentahbiskan dirinya sebagai kaum terdidik. Manusia harus rela mengantri dalam sebuah antrian panjang di pelataran rumah para dukun klenik. Atau mengantri di pelataran padepokan yang dianggap hebat, hanya sekedar ingin membaca masa depannya. Padahal masa depan tidak mungkin diramal. Yang wajib dilakukan manusia, sesungguhnya hanya beriman dengan cara yang akurat dalam bentuk menanam kebaikan dalam setiap tarikan nafas kehidupan. Lebih dari itu, biarlah Tuhan yang menjadi penentu. Tanaman itu harus terus kita semai tanpa henti meski buahnya tak lagi mampu kita nikmati. … By. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.