Pertanggungjawaban Ideal Seorang Guru

0 184

Tidak semua guru lahir karena pilihan dan keinginan yang utama dan pertama. Banyak di antara mereka yang menjadi guru, justru karena takdir yang sebelumnya tidak diimpikan. Misalnya, harapan sebelumnya tinggi, namun tidak terealisasi. Dalam keadaan seperti itu, maka, pilihan akhirnya ia memilih menjadi guru. Menjadi guru dalam terminologi ini, sering hanya menjadi pilihan akhir yang tidak disadari dan tidak dikehendaki sebelumnya.

Harus juga disebutkan bahwa, banyak sekali di antara mereka yang menjadi guru karena impian ideal. Kelompok ini, biasanya lahir karena Ia menyaksikan bagaiamana sosok guru menampilkan dirinya dalam wujud yang sangat ideal dalam kehidupan sehari-hari. Ia hendak meniru idealisme semacam itu, dengan atau tanpa dibayar sekalipun.

Apapun latar belakang yang mengitari mengapa seseorang menjadi guru, pada akhirnya harus difahami sebagai tugas agung dan mulia. Karena ia merupakan tugas agung dan mulia, maka, sepak terjang seorang guru, haruslah menjadi sosok yang agung dan mulia juga. Tanpa karakter keagungan dan kemuliaan itu, guru tidak mungkin memperoleh kedudukan yang tinggi di mata umat.

Karena menjadi guru adalah tugas agung dan mulia, maka, keagungan dan kemuliaan, harus diperjuangkan dengan baik. Mengapa? Karena disadari sepenuhnya bahwa diri kita, tidak dilahirkan dalam keagungan dan kemuliaan. Hanya jika kita belajar mencari keagungan dan kemuliaan itulah, kemungkinan dua kata itu dapat terinternalisasi ke dalam diri kita yang paling hakiki.

Guru adalah Pekerjaan Luar Biasa

Menjadi guru bukan profesi biasa. Ia memiliki tanggung jawab; dunia dan akhirat. Ia bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi, juga mentransformasi nilai ideal. Menjaga dan melindungi nilai-nilai ideal; agama dan kemasyarakatan, harus dipandang sebagai tanggung jawab guru. Karena itu, pertanggungjawaban seorang guru, bukan hanya sekedar dalam perpektif administratif kemanusiaan, tetapi, juga administratif ketuhanan.

Karena profesi guru akan dipertanggungjawabkan; dunia dan akhirat, maka, sosoknya bukan hanya sekedar menjadi figur intelektual, tetapi, juga dituntut menjadi figur nilai keumatan. Ia dituntut memiliki watak dan karakter yang sepak terjangnya menjadi contoh bagi perilaku masyarakat yang lain. Sulit dibayangkan, bagaimana seorang guru jika tampil dalam kedudukannya yang tidak ideal. Ia hanya akan “figur buruk” bagi kehidupan masyarakat yang lain. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.