Pertarungan Ekonomi Etnis China dengan Pribumi di Era Penjajahan

Pertarungan Ekonomi Etnis China dengan Pribumi di Era Penjajahan
0 404

Pertarungan Ekonomi Etnis China dengan Pribumi di Era Penjajahan. Kedatangan orang china ke Indonesia dan Asia Tenggara bertujuan untuk mencari peruntungan nasib. Mereka dating untuk mempertahankan hidup mereka dengan cara berdagang, menjadi kuli dan menjadi petani. Hal tersebut dilakukan etnis china karena didorong factor ekonomi yang serba sulit, karena didaerah asal mereka lapangan pekerjaan sedikit akibat padatnya penduduk.

Awal Kedatangan Orang China Di Indonesia

Terdapat beberapa pendapat terkait kedatangan bangsa china ke Indonesia khususnya Jawa. Ada pendapat yang mengatakan Sebelum kedatangan belanda ke Indonesia pada tahun 1596 M belum terdapat perkampungan orang china di Jawa. Perkampungan China mulai ada setelah belanda kembali ke banten. Wang Gungwu mengatakan bahwa perkampungan China muncul atara tahun 1405 – 1430 M.

Sejak dahulu, telah terkenal daerah “Nanyang” sebagai suatu daerah dimana menurut mereka sangat ideal untuk kehidupan yang menyenangkan. Nanyang itu sendiri berarti Lautan Selatan, tepat sekali yang sekarang kawasan Asia Tenggara. Kemudian daerah Nanyang itu menjadi daerah operasi perekonomian yang memberikan mereka hidup senang. Di pantai utara Jawa, pedagang – pedagang China memegang peranan yang penting sebagai pemula dan penggagas usaha diberbagai bidang kegiatan ekonomi. Mereka umumnya berdagang kain atau barang – barang kelontong, namun ada pula yang menjadi pengrajin atau pedagang besar antar pulau dan antar negeri.

Sebelum emigran China datang ke Indonesia, kehidupan penduduk pribumi tergantung dari hasil bumi pertanian dalam struktur masyarakat feodalis. Penduduk pribumu tidak menyukai usha perdagangan. Oleh karena itu, orang China menempati kesempatan ini. Sehingga dengan modal tekun dan teliti, orang china dapat menguasai sector perdagangan di semua lapisan masyarakat.

Sejak saat itu pola kehidupan orang China di Indonesia cendrung kepada usaha ekonomi, khususnya perdagangan dan usaha industry. Hal tersebut sesuai dengan tujuan awal mereka datang ke daerah Nanyang khususnya Indonesia. Disamping itu, pemerintah jajahan sengaja mendatangkan mereka dengan tujuan dipergunakan untuk kaum buruh pada perkebunan dan pertambangan.

Dominasi Etnis China Dalam Kegiatan Ekonomi di Indonesia Periode Tahun 1930

Orang Cina di Indonesia kebanyakan tinggal di Jawa. Pada tahun 1930 jumlah orang Cina di Jawa mencapai hampir 50% dari seluruh orang Cina yang terdapat di Indonesia. Di Jawa tempat tinggal mereka terpisah dengan pribumi. Hampir pada setiap kota di Jawa terdapat daerah yang disebut “pecinan” yang berarti tempat tinggal orang Cina (Markhamah, 2000:2).

Pada dasawarsa 1930-an etnis China sudah mendominasi perdagangan perantara, dan mereka sudah memiliki dua pabrik pengelola karet terbesar di Palembang. Salah satunya adalah Kiang Gwan, sebuah perusahaan dari Oei Tong Ham, yang merupakan kelompok usaha etnis China terbesar di Asia Tenggara. Kiang Gwan memiliki cabang dibeberapa wilayah, seperti Bombay, Kalkuta, Karachi, Shanghai, Hong Kong, Amoy, Singapura, dan London. Sementara pedagang karet pribumi terpuruk menghadapi pengusaha etnis China yang jaringan dagangnya menyebar dari desa ke desa sampai ke kota pelabuhan Palembang dan Singapura.

Dalam (Hidajay 1984:83) dijelaskan bahwa jenis usaha etnis China adalah sebagai pengusaha bank, perdagangan indusrti dan pertanian. Pada tahun 1930 tercatat penduduk etnis China sebanyak 1.233.000 orang, dari jumlah tersebut 470.000 orang sebagai pengusaha dalam berbagai bidang, diantaranya:

  1. Produksi bahan mentah (145.000 orang)
  2. Bidang indusrti (94.000 orang)
  3. Perdagangan (185 orang)
  4. Pegawai pemerintah (3.000 orang)

Dominasi Etnis China Dalam Kegiatan Ekonomi di Indonesia Periode 1941 – 1958

Menjelang masa masa Revolusi etnis China tidak melepaskan tujuan usahanya, terutama dalam Perdagangan. Orang orang China tetap menjalankan usahanya, baik mereka yang berada didaerah kekuasaan RI maupun yang berada di daerah Kekuasaan belanda. Bahkan pada masa revolusi etnis China masih sempat melakukan kegiatan ekonomi, sudah sangat jelas bahwa kedatangan mereka hanya mencari keuntungan semata dan tidak terlalu peduli dengan urusan negara.

Usaha orang China semakin lancar dan semakin luas pasca massa kemerdekaan, sedangkan orang pribumi baru akan membangun usaha ekonominya, bahkan baru menyadari akan ketinggalannya dalam bidang industri, perdagangan, dan dlam bidang perbankan. Disamping itu pula, hubungan dengan pedagang – pedagang luar negri sedikit sekali pengalamannya. Itulah suatu kondisi yang menghasilkan mental sosio-ekonomis orang Cina, yang berpegang pada keyakinan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam situasi apapun, serta dengan jalan apapun, bahkan kalau perlu dengan jalan ilegal dan main manipulasi serta kegiatan-kegiatan subversi (Hidajat 1984:139-140).

Dominasi Etnis China Dalam Kegiatan Ekonomi Di Indonesia Periode Tahun 1959 – 1986

(Husodo, 1985:70) menjelaskan bahwa orang-orang non pribumi keturunan Cina dengan cepat menguasai kegiatan ekonomi yang semula dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Belanda, ini karena mereka mempunyai hubungan langsung dengan orang-orang Cina di Honkong, Singapura, dan mereka tidak mempunyai saingan yang berarti dari Perusahaan Negara.

Akhirnya pemerintah mengeluarkan peraturan RI No. 10 tahun 1959, yakni tentang larangan orang non pribumi khususnya WNA untuk tidak bertempat tinggal dan berwirausaha di desa – desa atau daerah pedalaman, mereka hanya diperkenankan disekitar ibu kota daerah tingkat I dan II. Hal itu menyebabkan terpusatnya semua modal mereka di kota yang kemudian kesan kota – kota tersebut perekonomiannya dikuasai golongan non pribumi.

Sedangkan pasca keluarnya peraturan pemerintah RI No. 10 tahun 1959, perdagangan di desa – desa menjadi kosong. Karena tidak adanya persiapan mengenai siapa yang akan menampung kegiatan – kegiatan perdagangan dan distribusi di desa, yang pada akhirnya kembali di kuasai oleh orang – orang China.

Pada waktu waktu selanjutnya, orang orang China telah sedemikian maju dan kuat dalam sector perekonomian. Sekitar tahun 60-an orang – orang non pribumi mulai memasukan modal modal mereka ke Perbankan Swasta. Bahkan modal – modal mereka mulai memasuki pemukiman. Ketika Belanda kembali ke negerinya, meninggalkan tempat-tempat tinggal serta toko-toko mereka di Indonesia, orang Cina langsung menguasai tempat-tempat tinggal dan toko-toko strategis seperti di Braga Bandung, Pasar Baru dan Harmoni di Jakarta (Husodo, 1985:70).

Memasuki masa Orde Baru pertumbuhan ekonomi etnis China mulai kondusif, hal itu didorong banyaknya usaha dan modal swasta yang dimiliki etnis China dan ditunjang oleh kemampuan teknis dan hubungan perekonomian pihak luar negeri, terutama dengan sesame etnis China yang berada di luar negeri, seperti yang ada di Hongkong dan Singapura. Akibatnya, status sosial ekonomi etnis China mengalami peningakatan daripada kondisi sebelumnya. Namun, mereka masih dikesampingkan dari usaha usaha perekonomian utama, dan terdiskriminasi untuk masuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, administrasi sipil pemerintah dan perguruan tinggi negara.

Dengan munculnya perusahaan yang dikuasai etnis China dengan tidak melibatkannya pengusaha pribumi untuk menjalin kerjasama dalam korporatisasi perusahaan mengakibatkan efek Negatif, yakni semakin tajamnya persaingan usaha Pribumi dan Non – pribumi.

(penulis: Yogi Indra Gunawan)

Komentar
Memuat...