Pertumbuhan Filsafat Pendidikan Modern

0 71

Penelitian akan alternatif filsafat pendidikan menyebabkan munculnya filsafat idealisme dan filsafat realisme. Ketika pernyataan-pernyataan gereja berbenturan dengan temuan ilmu dan perselihan menyebar luas antara tokoh gereja dengan ahli ilmu alam maka pertentangan ini berakhir dengan merosotnya pamor pelaksana gereja dan para pangawas baru pendidikan mendapati diri mereka dihadapkan pada kebutuhan akan alternatif dalam pendidikan dan instruksi. Penelitian akan alternatif ini menyebabkan munculnya dua mazhab filsafat pendidikan. Pertama adalah mazhab matsaliyah (idealisme) dan kedua adalah waqi’iyah (realisme).

Filsafat Idealisme dan Cabangnya

Asal usul filsafat idealisme kembali kepada era Plato kemudian merembes melalui teologi Yudeo-Kristian dan mewarnainya dengan coraknya. Idealisme percaya bahwa esensi alam adalah akal dan pemikiran. Eksistensi yang besar dan kecil serta bentuk-bentuk adalah bayangannya. Akal absolut atau akal Tuhan adalah yang menciptakan hakikat dan pemikiran, dan itu adalah asas pengetahuan. Nilai muncul dalam bentuk dan perbuatan manusia secara tidak sempurna. Oleh karena itu hendaknya aplikasi pendidikan dipusatkan kepada pelatihan akal, peningkatan jiwa dan akurasi pemikiran.

Filsafat idealisme terbagi menjadi dua cabang sesuai dengan perbedaan konsepsinya tentang manusia. Cabang pertama adalah yang percaya bahwa manusia adalah jasad dan akal. Cabang kedua adalah yang percaya bahwa manusia adalah jasad, akal dan jiwa. Bertolak dari kosepsi kedua maka yang paling tinggi yang dimiliki manusia adalah jiwa. Proses pendidikan –berdasarkan konsepsi yang pertama- adalah pelatihan akal. Adapun berdasarkan konsepsi yang kedua proses pendidikan adalah pelatihan jiwa. Oleh karena itu, metode pendidikan -menurut filsafat idealisme- adalah pengajaran pemikiran, pelatihan pemikiran akal dan peningkatan nilai kejiwaan.

Filsafat Realisme dan Cabangnya

Adapun mazhab realisme kembali kepada masa Aristoteles dan merembes hingga masa Thomas Aquinas dan sejumlah filosuf ilmu alam. Sedangkan pada modern dimulai dari Michael de Monfaige yang berkebangsaan Prancis, Richard Mulcaster yang berkebangsaan Inggris, John Milton dan kemudian berlanjut dalam pelukan gereja Katholik Romawi dan berkembang lebih jauh lagi.

Realisme terbagi menjadi tiga orientasi: Orientasi pertama, realisme religius yang percaya bahwa materi, akal atau jiwa adalah dua eksistensi. Keduanya adalah makhluk suci di antara makhuk Tuhan dan keduanya bekerja secara sistematis. Adapun orientasi kedua tidak menganggap perlu adanya intervensi Tuhan dalam menafsirkan asal usul alam bahkan keduanya terpisah sama sekali. Sedangkan orientasi ketiga memusatkan kepada eksistensi materi yang jauh dari akal. Akal tidak memiliki input dengan wuujud kkonkret.

Kemudian filsafat realisme bercabang dan menjadi payung yang di bawahnya tergabung filsafat-filsafat pendidikan dan berbagai macam mazhab pemikiran yang seluruhnya sepakat bahwa eksistensi yang hakiki adalah realitas material akan tetapi berbeda pendapat tentang sumber eksistensi ini.

Pendidikan menurut mazhab ini harus berkepentingan untuk menemukan hukum-hukum alam yang mengendalikan materi dan makhluk organik, alam akal, penemuan ketertiban antar aspek-aspek eksistensi. Metode adalah kesesuaian antara materi-materi manusia dan materi-materi alam. Dan harus menggunakan cara-cara ilmiah dan cara-cara logis dan matematis, dan di antara yang merefleksikan berbagai macam mazhab ini di era modern adalah Bernard Russel dan Alfred North Whitehead.

Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Tidak lama kemudian muncul filsafat pendidikan ketiga yakni –filsafat pendidikan brajmatiyah (pragmatisme) dan sejarawan pendidikan melihat bahwa ini dikembangkan sejak abad kesembilan belas oleh William James (1842-1910 M) dan John Dewey (1859-1952 M). Sumber terpenting mazhab ini adalah tulisan-tulisan Charles Darwin.

Pragmatisme menjalankan proses dan praktek. Adapun pemikiran mengikuti proses dan merupakan salah satu akibatnya. Oleh karena itu, pemikiran yang benar adalah yang memungkinkan menganalogikan dan mengaplikasikannya. Akal tidak memiliki tempat dan tidak memiliki eksistensi akan tetapi yang eksis adalah otak dan aktivitasnya.

Nilai didapatkan dengan ukuran pengaruhnya terhadap kehidupan manusia, sehingga jika tidak berpengaruh maka berarti tidak memiliki eksistensi dan tidak berguna. Oleh karena itu, budaya, seni dan etika adalah masalah yang nisbi, dan alam menurut Pragmatisme adalah materi yang bergerak dan evolusi yang terus menerus yang menimpa materi, nilai, hakikat, waktu dan tempat.

Dengan demikian pendidikan harus lebih banyak memusatkan pada mekanisme daripada materi pembelajaran, dan hendaknya peserta didik belajar bagaimana belajar dan bagaimana berfikir dengan mekanisme ilmiah.

Manusia menurut Pragmatisme menciptakan alamnya melalui tanzhim al khubrat al mustamir (rekonstruski pengalaman yang terus menerus) dan melalui interaksi sosial dan biologis dengan lingkungan. Oleh karena itu pendidik harus melatih peserta didik untuk membangun pengalamannya dan menyediakan lingkungan belajar untuk berinteraksi dengan yang di sekitarnya, dan melakukan penguatan kepada mekanisme ilmiah dan teknik penyelesaian masalah.

Metode yang berlaku sekitar kegemaran murid dan masalah lebih banyak bekisar tentang tumpukan hakikat yang telah ditetapkan sebelumnya.***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Richard van Scotter, Richard J. Kraft & John D. Haas, Foundation of Education (Englewood Chiffs, N.J, Prentice Hall, INC, 1979).

William H Howick, Philosophies of Western Education (Danville: The Interstate Printers & Publishers, Inc., 1971).

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.