Perubahan Kurikulum Pendidikan | Euforia Pendidikan Indonesia

21 493

Gagasan perubahan kurikulum pendidikan nasional tidak selamanya benar atau salah. Pembenahan kurikulum pendidikan merupakan satu keharusan dalam upaya peningkatan kualitas peserta didik. Perubahan kurikulum juga dipandang menjadi sebuah keterdesakan dalam konteks merespon kebutuhan bangsa hari ini. Trend kurikulum yang menjadi pusat perhatian di negeri ini adalah nama kurikulum dan usia keberlangsungannya. Masyarakat kini sudah semakin kurang percaya bahwa kurikulum terkini akan menjadi solusi bagai generasi berikutnya.

Dalam tatanan kebijakan pendidikan tingkat nasional, semestinya pemerintah memberikan garis-garis besar ketercapaian dalam pembelajaran namun tidak harus turut serta dalam wilayah praktis teknis dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah masing-masing. Penentuan berapa banyak mata pelajaran yang harus diberikan kepada siswa, buku ajar apa yang harus digunakan dan berapa hari pembelajaran dilaksanakan. Perbedaan daerah di nusantara mengakibatkan perbedaan pola pengajaran, pola pendidikan maupun pola bimbingan yang diberikan kepada para pemelajar. Disamping itu juga, perbedaan latar belakang pengajar atau pendidik berdasarkan latar belakang pendidikan dan pengalaman mereka akan menjadi satu kendala bagaimana ketercapaian tujuan utama pembelajaran nasional dirasa sulit. Sehingga harus ada pendekatan lokal untuk digunakan sebagai alat ukur keberhasilan dalam capaian pembelajaran siswa.

Perubahan kurikulum memang sebuah keharusan. Namun kita juga tidak boleh terjebak dengan data rendahnya kompetensi siswa di satu daerah dalam satu kasus saja dibandingkan dengan daerah lain dalam kasus yang berbeda bahkan dibandingkan dengan negara lain. Sampai saat ini, standar keberhasilan pendidikan Indonesia selalu berambisi dan senantiasa mengacu pada rambu-rambu pendidikan yang dikembangkan di negara barat. Bagaimana para profesor lulusan universitas-universitas terkenal luar negeri dengan bangga mengadopsi otomatis pola pendidikan yang telah dilihat, diamati dan dialami di luar negeri sana. Mulai dari terminologi mata pelajaran, metode pengajaran sampai teknis pembelajaran yang dilaksanakan di negara sana menjadi satu parameter kesuksesan pendidikan di negeri ini. Kita telah gagal menciptakan satu formulasi pendidikan yang berbasis lingkungan dan budaya kita.

Jika kita ingin melakukan perubahan kurikulum dan seperangkat kebutuhan pengajaran dan pendidikan di dalamnya, maka sesungguhnya yang harus dipegang sebagai landasan utama adalah apa dan bagaimana konsep budaya lokal daerah kita ini dan bagaimana keragamanan daerah kita menyimpan banyak nilai-nilai kehidupan yang belum tergali. Nilai-nilai kehidupan merupakan capaian pembelajaran yang harus dicanangkan dalam kurikulum. Karena transfer of knowledge tidaklah cukup untuk menjawab persoalan bangsa ini yang super complicated jika tidak dibarengi dengan transfer of values.

Kekurangan bangsa kita hari ini adalah sepi bahkan miskin dari nilai-nilai budaya nusantara kita. Budaya nusantara itu seharusnya tercermin pada pikiran, sikap dan perilaku individu dalam mengambil kebijakan pada posisi apapun jabatan dirinya. Kepintaran generasi kini sudah melampaui zamannya bahkan perkembangan gaget sebagai salah satu ikon kemajuan IT, telah memberikan dampak yang luar biasa bagi generasi muda kini. Masa kanak-kanak yang seharusnya diisi oleh nilai-nilai kearifan lokal, kini dunia mereka telah dijajah oleh game-game online yang dengan mudah digunakan  setiap saat tanpa menghiraukan nilai yang terkandung di dalamnya. Generasi baru kini sudah menjadi masyarakat digital yang tidak mudah lagi digerakkan oleh budaya dimana mereka berasal dan dari budaya mana mereka dibesarkan.

Citra Budaya dalam Pendidikan

Para pemangku kebijakan harus berani mengambil satu tindakan yang kurang populis dan terkesan kolot. Hal ini dikatakan karena tindakan dalam pengambilan kebijakan pendidikan tidak harus melulu terbawa arus kebarat-baratan. Ikon kemajuan negara selalu dihubungkan bagaimana bangsa-bangsa di barat adalah cermin kemajuan merupakan persepsi keliru. Kita punya kekayaan budaya yang memiliki kekhasan dan nilai-nilai luhur dalam persoalan pendidikan dan pengajaran.

Bangsa Indonesia terkenal dengan budaya timurnya. Budaya timur merupakan satu terma yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai etika dalam berkehidupan. Jika nilai-nilai etika itu diterapkan dalam pola pendidikan atau kurikulum nasional kita ini, maka sesungguhnya kita tidak usah repot mencari formulasi pendidikan ke negeri orang yang hanya gagah secara istilah namun miskin secara nilai moral yang telah dijunjung tinggi oleh nenek moyang bangsa ini.

Indonesia tidak harus takut dan malu untuk menyandarkan kebijakan pendidikan nasional pada nilai-nilai budaya daerahnya. Kita sering merasa tidak diaku atau tersisihkan jika tidak mengikuti trend kekinian. Padahal, nilai-nilai kekinian itu banyak pula yang terinspirasi dari kekayaan budaya kita. Diamati dan diteliti oleh bangsa lain, dikemas dalam satu rekomendasi dan dikembalikan lagi ke kita untuk digunakan. Kita hanya tahu bahwa bangsa ini kaya akan budaya namun merekalah yang mengajari kita tentang nilai-nilai budaya kita. Merekalah yang memiliki hak paten dan mereka pula yang lebih tahu tentang diri kita.

Pendidikan Baik bermula dari Budaya Lokal

Pengetahuan dan pemahaman rendah terhadap budaya lokal telah menjadi satu alasan compang-camping pendidikan kita. Keengganan para pemangku kebijakan untuk menggali potensi daerah menjadi penyebab utama kepunahan budaya lokal. Disamping itu juga, ketidakpahaman pemangku kebijakan dalam konteks jabatannya yang tidak ditunjang dengan kompetensi telah semakin memperpanjang masalah pendidikan di negeri tercinta ini. Permasalahan muncul pula ketika dinas pendidikan pemuda dan olahraga di beberapa kota maupun kabupaten telah memisahkan dengan bidang kesenian. Bidang kesenian ini akan dimasukkan ke dinas pariwisata. Satu kekeliruan yang dipahami oleh kita, bagaimana generasi mendatang hanya dicekoki oleh nilai-nilai kognitif dan olahraga saja tanpa diberikan nilai seni dan budaya yang cukup, dipastikan ia akan dengan mudah mengalami kerancuan dalam hidupnya. Hidup tanpa dibarengi dengan nilai seni dan budaya dipastikan si anak akan selalu menghitung kehidupannya hanya sebatas nilai-nilai pragmatis dan matematis.

Budaya lokal dipandang menjadi salah satu solusi untuk menjawab keterpurukan pendidikan nasional kita. Perkembangan IT yang tidak dapat dibendung harus dijawab dengan penguatan dan promosi budaya. Generasi muda bukan menolak atau tidak menyukai budaya itu, namun mereka perlu figur yang dapat dijadikan satu teladan bahwa kebudayaannya itu memiliki tinggi nilai dalam kehidupan. Jika pendidikan dan pengajaran diciptakan sebatas satu rutinitas dan jenjang individu dalam usianya, maka generasi berikutnya hanya menjadi robot-robot mainan bangsa lain saja, karena sepi nilai dan miskin kearifan lokal.

**Nanan Abdul Manan | Dosen STKIP Muhammadiyah Kuningan

Komentar
Memuat...