Perubahan Selera Pada Kesenian Khas Cirebon

0 97

Perubahan selera terjadi juga pada kesenian lainnya, seperti seni burok, tarling dan lainnya. Pada seni burok misalnya, dari data yang dikumpulkan penulis, masuknya alat musik organ membuat perubahan seni burok secara radikal. Musiknya sudah berwarna dangdutan, tapi dengan gaya Cirebonan.

Dan seringkali pula orang yang hajatan menanggap grup seni burok ini pada malam hari dan pentas di atas panggung, sementara semua replikanya tidak dimainkan. Jadilah pentas seni dangdut dengan musik ala Cirebonan. Lagu-lagu dari Rhoma Irama. Rita Sugiarto, Elvi Sukaesih dan Dewi Persik sangat populer, lagu-lagu itu sangat dinantikan penonton.

Awal 1990-an tren lagu-lagu pun berubah, dari semula lagu-lagu dangdut asli yang diiringi musik ala Cirebonan, sekarang benar-benar lagu Cirebonan yang dinyanyikan. Jika ditanggap siang hari genjring dan dog-dog masih berperan sambil mengiringi burok dan kawan-kawannya.

Perubahan Replika Pada Alata Musik Tradisional

Tapi jika ditanggap malam hari, bukan hanya para replika itu yang diistirahatkan, genjring dan dogdog pun ikut diistirahatkan. Peran dogdog diganti gendang, seperti gendang yang dimainkan dalam pergelaran wayang atau seni jaipongan, yang terdiri dari tiga buah gendang.

Akhirnya jadilah musik dangdut Cirebonan, dengan gendang bukan gendang dangdut dipadukan dengan gitar, bas, organ dan suling. Dari sinilah kemudian lahir grup-grup musik dangdut Cirebonan, yang tidak lagi melibatkan burok dan kawan-kawannya. Tapi minat terhadap burok ternyata masih ada. Grup burok yang sempat tersendat-sendat kembali menggeliat di awal tahun 2000-an.

Seni burok pun tampil dengan musik modern walaupun tetap ada genjring dan dogdog. Karena jika ditanggap harus sambil keliling, maka para pemain musik yang memainkan alat musik modern dan penyanyinya diangkut dengan gerobak yang dimodifikasi dan berjalan di belakang penabuh genjring. Para penggemar yang joget dan bisa dipastikan sambil mabuk, ditempatkan antara para penabuh genjring dan dogdog dengan rombongan pemain burok yang berada paling depan.

Perubahan Replika Pada Alat Peraga Seni Tradisional

Replika lainnya pun berubah, ada Rahwana, berbadan sapi dan bersayap dengan badan berwarna merah, dan muka yang tampak angkara. Ada juga sisingaan, jadi para pengantin sunat bukan hanya naik burok, mereka juga akan naik sisingaan yang diangkat empat orang.

Pertunjukkannya pun semakin atraktif, dengan berbagai variasi tarian modern kontemporer, seperti yang ditunjukkan oleh grup seni burok MGM dari Pabuaran Kabupaten Cirebon, dan grup dari desa Karang Wangun Kecamatan Babakan, yang juga menampilkan “ula liong”.

Pada awalnya seni burok ini hanya menampilkan empat genjring dan satu dogdog, dua buah replika burok, satu gajah, satu harimau dan satu monyet. Burok, gajah dan harimau dimainkan dua orang. Kemudian genjring ditambah satu jadi semuanya lima. Genjring terakhir ini tidak dipukul langsung dengan tangan tapi dipukul dengan penabuh, sehingga suara musik genjring dogdog ini menjadi lebih bervariasi.** (Nurdi M Noer)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.