Pesantren dan Metode Pembelajarannya

0 141

Di masa lalu, pesantren itu dikenal dengan nama “pojok mesjid”. Ia berupa ruangan khusus namun tidak terpisah secara fisik dengan mesjid. Pojok itu dibangun untuk tempat belajar sekaligus tempat menginapnya para penuntut ilmu atau yang kita kenal sebagai Santri. Lama kelamaan sesuai perkembangan jaman dan semakin banyaknya para penuntut ilmu, maka bangunan tersebut dibuat terpisah secara fisik dari mesjid yang kemudian dikenal dengan istilah asrama santri.

Disitulah tempat kegiatan belajar mengajar berlangsung sekaligus sebagai tempat menginapnya para santri. Nama bangunan itulah yang sering kita kenal sebagai “pondok” yang berarti penginapan. Elemen inilah (read : pondok)  yang tidak bisa dipisahkan dari pesantren, berbicara mengenai pesantren yang ada di benak penulis yaitu kiyai, santri, kitab kuning, dan sorogan. Pesantren dan Metode Pembelajarannya

Kiyai dan Pesantren

Pesantren tidak bisa dilepaskan dari kiyai. Ia berkedudukan sangat sentral sekaligus sebagai titik tolak kehidupan pesantren. Kyai selalu menjadi suri tauladan sekaligus pemegang kebijaksanaan mutlak bagi tata nilai kepesantrenan.  Bagi masyarakat Jawa, sebutan kiyai pada mulanya disematkan kepada orang yang lebih tua, tetapi dalam penyebutan “kiyai” itu terdapat rasa penghormatan yang lebih, sehingga “kiyai” tidak hanya berarti tua tetapi juga sakral dan tidak sembarang orang yang bisa dipanggil kiyai.

Selanjutnya santri, seseorang yang melek hurup dan belajar memahami ajaran agama. Santri tidak hanya belajar seperti halnya pemahaman kita terhadap para pelajar umum, lebih dari itu seorang santri harus mengikuti apa yang kiyai perintahkan dan harus senantiasa ta’dzim terhadap segala yang berkaitan dengan kiyai.

Metode Pembelajaran Pesantren

Biasanya para Santri tinggal di asrama yang telah disediakan, yang disebut pondok. Namun ada pula santri yang tidak tidak tinggal dipondok, merekalah yang sering kita sebut sebagai santri kalong. Dunia pesantren selalu setia dengan ajaran-ajaran islam tradisional, karena itu kitab-kitab kuning merupakan salah satu bagian penting dari nilai-nilai dan paham yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pesantren.

Nilai yang terkandung dalam kitab kuning merupakan pedoman yang harus dipegang karena diyakini bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Pengajaran kitab kuning di dunia pesantren oleh kiyai biasanya menggunkan methode bandongan, sorogan, wethonan. Sorogan biasanya dilakukan sebelum para santri mengaji dan sorogan sebagai salah satu methode kaderisasi keilmuan dari santri senior kepada santri junior.

Adapun kitab yang sering diajarkan dipesantren digolongkan kedalam beberapa kategori diantaranya :1) Nahwu, 2) Sharaf, 3) Fiqh, 4) Ushul Fiqh, 5) Hadits, 6) Tafsir, 7) Tauhid, 8) Tasawuf, 9) Balaghah, dan; 10) Mantiq dan cabang ilmu lainnya. ** Fajar Rahmawan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.