“Pesona Jingga, Menghanyutkan aku Kedalam Cerita-cerita Usang”- bagian pertama.

0 82

Ketika ku berdiri di muka halaman kampusku. Senja menggambarkan cerita usangku dalam jingganya mega, yang menghanyutkan mataku kedalam pesona. Mega itu seakan menarikku kembali. Kembali kepada cerita-cerita usangku dulu. Tepat saat cerita malang itu dimulai.

Terputarlah cerita tentang keluargaku dahulu.

Ayahku seorang tukang rongsokan. Kadang jika uang modal ayah terpakai oleh beberapa kebutuhan kami sehari-hari, ayah berkeliling keseluruh penjuru kampung mengambil barang bekas yang bisa dijual. Sebab itulah, Orang-orang juga sering memanggil ayah sebagai tukang pemulung.

Tapi aku tidak malu, karena memang tidak ada satupun yang ayah permalukan atas kemuliaannya. Ayah bekerja dengan keringat sendiri, dengan kedua tangan dan kaki yang terus menerus mendorong gerobak tanpa lelah, setiap putaran penuh matahari mengelilingi bumi ini. Bukankah begitu gagah ayah menghidupi keluargaku dengan cara demikian?. Ayah, aku mencintaimu, sedalam-dalamnya.

Tak ada jam canggih yang bisa diatur sebagai alarm waktu pulangnya ayah, yang biasa menggelantung di tangan kiri atau kanan orang-orang pekerja umumnya. Juga tak ada mobil mewah, yang biasa dijadikan sandaran sementara rasa lelah orang-orang pekerja umumnya.

Hanya senja yang dijadikan alarm waktu pulang ayah dan hanya kerinduan yang menjadikan penebus lelah ayah dari roda yang selalu ayah bawa untuk mencari nafkah.

Masih teringat, ketika pulang sekolah, dari kejauhan, ku tengok ayah dengan pancaran karisma yang dikeluarkan dari senyuman manisnya. Senyuman manis dari pantulan tawa, riang, dan gembira adik-adikku, ketika mereka melihat ayah membawa pulang makanan dan barang-barang pemberian orang diroda tersebut.

Sorak mereka “Asikkkkkk, ayah pulang bawa makanan, bawa baju juga!!!.” Aku langsung mendekati ayah “Biar aku aja yang nurunin de yaya dan de nanda dari roda ini yah”.  Teringat umur ayah yang sudah tidak muda lagi.

“Baiklah nak, setelah itu bawa adik-adikmu masuk kedalam rumah, kita makan bareng, dan pilihlah baju yang kamu suka dari barang yang ayah bawa ini” dari suara sang gagah yang selalu membuat hati ini menjadi tenang dan damai. “Iya ayah !” jawabanku sambil berjalan dan menuntun kedua adik kecilku masuk kerumah.

Alhamdulillah, kita mendapat rezeki” suara dari sayap kananku, yakni ibuku. Setelah itu kami bersama-sama menghabiskan makanan yang telah ayah bawa. Inilah sebagian besar kebahagiaan yang tidak bisa aku hitung dengan jari-jariku, sekaligus dengan semua jari-jari manusia yang ada dibumi ini.

Setelah perutku terasa sudah cukup untuk dijadikan bekal energi. Akupun pergi bekerja di sebuah home industry ikan asin teman ibuku. Supaya aku bisa sedikit meringankan beban ayahku dan tidak melulu meminta uang jajan. Walaupun yang aku peroleh tidak terlalu banyak. Sekitar 5000 rupiah aku terima dari setiap hari pekerjaan yang aku selesaikan.

Ketika logikaku bermain, jelas uang yang diperoleh tidak sebanding dengan pekerjaan yang aku kerjakan dari pulang sekolah sampai menjelang magrib, yang tidak jarang tanganku terluka karena tusukan-tusukan tulang dari ikan asin itu, dan barang pasti badanku menjadi bau.

Tapi inilah pilihan. Jika tanganku tidak terluka dan badanku tidak bau asin. Aku tidak bisa membantu sebagian kecil tanggungan ayah dikeluarga ini.

Lagi-lagi senja menjadi alarm. Tertanda aku harus segera pulang.

Tibalah aku didepan rumah, tak sengaja, aku melihat segerombolan Ibu-ibu, tengah berjalan di depan rumahku. Mereka berbisik-bisik tapi suaranya seperti ingin aku ketahui “Ini rumah, apa kandang domba sih?”, itulah kata yang masuk serta merusak seluruh sudut indra pendengarku. Ingin sekali aku cabik mulut-mulut mereka.

Salah satu adikku keluar membukakan pintu sekaligus menghentikan niatan hatiku mencabik-cabik mulut mereka. Tapi sudahlah tidak seharusnya juga aku seperti itu.

“Teteh sedang apa ?, kok diam di depan pintu seperti ini ?” Tanya adikku. “Tidak apa-apa dek, yu masuk ke dalem. Teteh bawa makanan untuk ade dari ibu bos”, jawabku memalingkan perhatian mereka. “Asik akhirnya aku bisa makan daging ayam”, sahut adikku kembali.

Ketika aku masuk pintu rumah. Mereka pergi.

“De yaya dan ibu kemana de?” tanyaku pontang-panting membuka tirai setiap ruangan yang ada di rumahku. “Ada diatas teh,” jawab adikku sambil membuka barang bawaanku.

Mungkin jika rumahku seperti orang pada umumnya. Di atas yang dimaksudkan adikku adalah bangunan lantai kedua yang mewah.

Tetapi kenyataan dari kami. Di atas yang dimaksudkan adikku adalah di ruangan tempat ayah dan ibuku tidur, dengan kasur yang kami rajut sendiri dari karung yang berisi limbah kain. Tidak jarang semut-semut merah juga menjadikan kasur itu sebagai tempat tidur mereka.

Itulah sebabnya, jika kami tidur di ruangan ayah dan ibu, badan kami pasti dipenuhi bentol-bentol karena kecupan-kecupan sang semut merah tersebut.

Tangganya terbuat dari potongan-potongan kayu yang ayah satukan dengan paku seadanya sampai menyerupai gantar.

Atapnya berupa genting yang sudah menghitam dan berdebu. Jarak dari kasur ke atap kurang dari 50 sentimeter. Benar, untuk duduk orang dewasa sangatlah sulit. Kecuali jika menunduk.

Lalu, aku pergi ke atas, terlihat airmata ibu menggenang di pelupuknya. Seperti ingin menumpah namun hendak untuk ditumpahkan. “Resa, kau sudah datang?,” Tanya ibuku terkejut. “Si ade kenapa bu?”, tanyaku heran. “Menggigil dari tadi pagi sa, tidak apalah sa. Besok juga sembuh. Iyakan de?”, jawab ibu meyakinkanku sekaligus dengan tanya yang cemas kepada adikku.

Selama 7 hari kegiatanku, adik pertama, ayah dan ibu tetaplah seperti itu.

Dari subuh aku siapkan makanan seadanya untuk sarapan, lalu pergi sekolah. Sepulangnya aku bekerja di rumah teman ibuku sampai senja bertemu dengan malam. Lalu mengajari adik pertamaku mengaji dan mengerjakan pr.

Sedangkan ayah dari matahari terbit, selalu siap mencari barang rongsokan sampai senja bertemu dengan malam. Malamnya, karena adik keduaku sakit, beliau habiskan untuk berdoa atas kesembuhan adik keduaku.

Ibuku semenjak adikku sakit. Beliau tidak pernah berangkat kerja di konveksi lagi. Beliau habiskan satu putaran siang dan satu putaran malam untuk merawat dan menjaga adik keduaku.

Dan adik pertamaku-pun menjalani hari, seperti hari-hari biasanya. Bangun pagi, berangkat sekolah, pulang lalu menemani ibu dan adik keduaku yang tengah sakit.

Sementara yang berbeda dalam 7 hari tersebut hanyalah adik keduaku. Kondisi dia semakin memburuk.

to be continued…….

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.