Pesta Keluarga Kaya | Refleksi Sosial Part – 2

Pesta Keluarga Kaya Refleksi Sosial Part – 2
0 37

Pesta Keluarga Kaya sebuah Refleksi Sosial. Blankon putih cukup rapih terikat di kepala. Baju dan sarung putih serta lingkaran serban, melingkar di leher seorang laki-laki yang sangat terkenal sebagai ahli agama di desa Alang-alang. Sore itu, dia dengan 30 pengikutnya, serempak datang ke rumah sebuah keluarga istimewa di mana dia mengabdikan diri sebagai ahli agama.

Kegiatan shalat Maghrib berjamaah yang biasanya diteruskan dengan dzikir bersama dalam tempo dan waktu lamapun, tiba-tiba segera berakhir. Ia bergegas mengambil 2 buku Barjanji dan meminta salam seorang jamaah terdekatnya untuk membawa buku dimaksud ke suatu pesta.Pesta yang akan digelar Kepala Desa setempat. Acaranya, akan dihelat ba’da maghrib.

Jamaa’ahnyapun kelihatan seperti sudah tahu bahwa mereka akan pergi mengunjungi sebuah pesta Aqiqahan. Aqiqah itu diselenggarakan seorang Kepala Desa yang terkenal sangat kaya. Istri kedua kepala desa itu, tujuh hari yang lalu melahirkan anak laki-laki yang ditunggunya. Maklum, dari istri pertamanya, ia selalu melahirkan anak perempuan. Hanya dari istri kedua inilah, dia mendapatkan anak laki-laki.

Akhirnya, sampailah mereka ke rumah yang akan menghelat pesta. Dilihat di rumah petinggi desa itu penuh sesak. Ratusan orang sudah berkumpul jauh sebelum maghrib tiba. Banyak yang sempat melaksanakan shalat Maghrib, tetapi tidak sedikit yang meninggalkannya. Kepala desa sendiri bingung, mengapa banyak banget orang yang datang ke rumahnya. Ia hanya berbisik dalam hatinya, jangan-jangan makanan dan amplop yang disediakan, tidak cukup untuk dibagi kepada seluruh tamu yang hadir.

Kyai dalam Pengawalan Barikade

Begitu rombongan kyai desa dengan pasukannya yang 30 orang itu hadir, semacam Barikade tingkat desa-pun dengan sigap meminta tetamu yang hadir memberi jalan untuk mereka. Dilerailah mereka agar masuk ke dalam ruangan rumah yang cukup besar dan megah.

Rombonganpun berjalan rapih seperti sudah terlatih sebagai anggota Paskibra. Berjalan dengan setiap barisan tiga orang. Mereka bak pahlawan olahraga Sepakbola yang memenangkan pertarungan dan saat ini sedang dielu-elukan supporternya.

Dengan senyum ramah, Kepala Desa menyambut kyai dengan hangat. Terlebih ketika Sang Kyai kelihatan mencium tangan kepala desa dan disaksikan ratusan orang yang hadir. Kepenatannya yang pusing memikirkan amplop karena takut kekurangan, terkubur. Ia merasa yakin akan kembali terpilih menjadi kepala desa. Maklum bulan depan desa itu, bakal kembali mengadakan pemilihan Kepala desa.

Ia langsung berbisik kepada Sekdes untuk segera mencari dana tambahan barangkali amplop yang disediakan kurang. Sekdes menganggukan kepala dan langsung ke luar rumah, pergi entah ke mana.

Do’a dan Bacaan Barjanji

Duduklah mereka di tengah jama’ah yang demikian melimpah. Setelah acara dibuka, sampailah waktu untuk nasihat  yang akan diberikan kyai kepada Jama’ah. Akhirnya, Microphon-pun dipegangnya dengan penuh kewibawaan. Setelah uluk salam dan pujian untuk Allah serta shalawat untuk Nabi, dia akhirnya berkata:

“Hadirin, tujuh hari yang lalu, telah lahir seorang Kstaria baru dari keluarga yang juga dikenal kstria. Seorang anak laki-laki yang sangat gagah dan diharap dapat menjadi penerus perjuangan kita di masa yang akan datang, kini telah lahir. Kami mohon kiranya, saudara berkenan memberikan do’a untuk anak ini, semoga kelak ia menjadi anak yang benar-benar hebat seperti bapaknya”.

Acara itu kemudian diakhiri dengan membaca Barjanji secara bergiliran. Mereka yang 30 orang itu, dengan penuh semangat membaca kitab yang disusun saat perang salib pada abad ke 11 Masehi itu, dengan penuh semangat. Jemaah sendiri dengan semangat yang sama, mengatakan, Allah, Allah, Allah saat setiap bait selesai dibaca rombongan kyai.

Satu jam kemudian, setelah mereka menyantap hidangan yang sangat langka, dan basa-basi sosial serta basa-basi politik tingkat desa berakhir, itu bubar. Bubar karena mereka telah mendapat tanda bubaran yang disampaikan kyai dengan mengatakan: “Allahumma Shalli Ala Muhammad, dengan suara yang cukup keras. Para pengunjung yang telah mendapat amplop putih berisi uang entah berapa jumlahnya, bubar dengan penuh antusias.

Sang  Kyai-pun pamitan dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Di tangannya selain tertenteng 4 perikuk yang langsung dibawaiin anggota Brikade, dipapah ke luar dan diselipkan amplop yang relatif besar yang diberikan langsung Kepala Desa.

[BACA JUGA : Hajatan Keluarga Miskin | Refleksi Sosial Part – 1]

Dengan mata dan penampilan  yang kelihatan semua merasa puas, pesta-pun berakhir. Anak Kepala Desa-pun menangis keras, seolah enggan ditinggalkan jama’ah.

Sebulan kemudian, pesta pemilihan Kepala Desa-pun dilangsungkan. Anehnya ia kalah dengan selisih sangat parah. Bukan hanya kepala desa yang pusing, tetapi, juga tokoh agama dan beberapa tim suksesnya sangat kecewa. Entah mengapa … rakyat ternyata jauh lebih cerdas dibandingkan dengan Kepala desa atau bahkan tokoh agama sekalipun. Memang lucu negeriku ini. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...