Petruk Jadi Raja | Mencari Nalar Kemanusiaan dalam Pewayangan Part – 1

0 49

Petruk Jadi Raja. Dalam suatu negara atau satu kerajaan, bahkan dalam institusi kecil sekalipun, sosok petruk atau Cungkring sangat mungkin muncul menjadi pemimpin. Petruk dianggap sebagai sosok yang tidak pantas menjadi raja, tetapi, faktanya mereka menjadi pemimpin. Sosok ini mampu mengalahkan mereka yang diduga atau dianggap pantas menjadi pemimpin.

Petruk sering diasosiasi sebagai model pemimpin tanpa kemampuan. Ia hadir dalam suatu wadah atau institusi yang kacau. Petruk atau Cungkring jadi raja, karena itu, dapat disebut sebagai symbol ketidakmampuan seorang pemimpin yang memimpin kerajaan mayapada. Manusia yang tidak mampu menjadi raja, dipaksa atau terpaksa menjadi raja. Itulah Petruk.

Pertanyaan yang segera muncul adalah, bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki kapasitas untuk menjadi raja dapat menjadi raja? Apa mungkin?

Petruk dalam Teori Pewayangan

Dalam teori pewayangan, hal itu ternyata sangat mungkin terjadi. Dari mana pintu masuk manusia yang tidak memiliki kapasitas raja dapat menjadi raja. Ternyata semua bermula ketika segala sesuatu, atau system sebuah negara dan institusi dimaksud, tidak lagi berjalan pada fitrah atau natur yang sesungguhnya. Sistem dijalankan sudah tidak pada tempat yang semestinya.

Misalnya, pemuka agama [kyai dan pendeta] menjadi wakil rakyat. Ia meninggalkan profesi sejatinya sebagai pengayom umat. Posisi pengayom umat malah diambil alih pelawak. Jadilah, ajaran agama menjadi dagelan dan guyonan massif. Wakil-wakil rakyat yang seharusnya menjadi pendukung rakyat, malah, tumbuh menjadi eksploitator rakyat. Para pemimpin yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, malah, ia tumbuh menjadi pemangsa rakyat.

Jika kondisi semacam ini terjadi, maka, dunia akan persis seperti kuda yang memakan cabai. Tidak terbayangkan bagaimana kuda-kuda berkeliaran dalam segenap rasa yang tak mampu dikuasai oleh kuda sebdiri. Ia akan mengamuk ke sana ke mari. Persis seperti kambing yang memakan daging. Ia akan tumbuh menjadi binatang yang sangat buas. Atau persis seperti bagaimana kalau harimau memakan rumput, yang karenanya ia menjadi pengecut.

Inilah siatuasi yang tidak wajar. Jika situasinya sangat massif tak terkendali, maka, para punakawan [Semar, Gareng, Petruk dan Bagong], akan segera membangkang. Puncak pembangkangan terhadap system kerajaan yang demikian, Petruk melabrak Kahyangan Jonggring Saloko (istana para penguasa). Ia menjungkir balikkan keadaan. Ia melakukan dekonstruksi terhadap tatanan yang selama ini dipakai para penguasa serta para elite untuk berselingkuh dan melakukan manipulasi.

Akhirnya, sebagaimana dapat dilihat dalam alur cerita pewayangan, Arjuna, pimpinan yang biasanya dilayani punakawan, dipaksa mematuhi titah Petruk, sang raja baru. Saat itulah Petruk membuka seluruh aib para penguasa. Hancurlah kerajaan atau institusi dimaksud di telan zaman. Bersambung By. Prof. Cecep Sumarna 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.