Petruk Simbol Pertaubatan | Mencari Nalar Kemanusiaan dalam Pewayangan Part – 2

0 37

Petruk Simbol Pertaubatan. Nama Petruk begitu menghentak dalam jagad cerita Punakawan. Desainer pewayangan Nusantara berhasil membentuk empat karakter manusia.  Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, telah mengindikasikan bahwa betapa manusia, pada akhirnya selalu berada dalam “pertempuran karakter” yang satu sama lain sangat berbeda.

Dalam beberapa sumber, disebutkan bahwa pembuat aransemen tokoh dimaksud adalah seorang Wali Sanga. Wali yang cenderung adaftif terhadap dunia mistis Hindu-Budha, yakni Sunan Kalijaga. Seorang shufi yang dianggap toleran terhadap budaya dan peradaban dua agama terdahulu, tentu sebelum Islam menyebar di Nusantara.

Karya Sunan Kalijaga

Dalam beberapa literasi maya disebutkan bahwa kata Semar, misalnya, ternyata diadaftasi dari struktur kata simar [Arab] yang berarti paku. Ia membentuk symbol Islam agar menjadi landasan utama dalam membangun masyarakat Jawa. Semar atau Simar ditampilkan dengan badan gemuk dan berwibawa.

Sosok Semar ini, dalam tradisi Hindu-Budha, sering disebut Sang Hyang Ismaya. Ia memiliki kekuatan lebih dan dianggap mampu mengalahkan kekuatan para dewa sekalipun. Kalijaga melalui sosok Semar ini, ingin menampilkan Islam sebagai suatu sistem ajaran yang mampu mengalahkan berbagai kekuatan apapun yang telah lama tertanam dalam masyarakat Jawa.

Petruk yang menjadi inti tulisan saya di sini, digambarkan sebagai sosok buruk manusia. Si pemiliki hidung yang sangat mancung, berpenampilan kurus dan kering, kulitnya kotor, tetapi dilambangkan sebagai sosok yang mau bertaubat.

Kisah Petruk Taubat

Awalnya, ia memiliki perangai yang sangat sombong karena mampu mencuri kalimatusada dan karenanya, ia menjadi raja. Ia pada akhirnya dalam ketaubatannya itu, disuruh untuk mengembalikan kekuasaan kepada yang seharusnya. Petrukpun mengikuti sistem yang dibangun dengan susah payah oleh Mayapada.

Petruk yang dalam tradisi Hindu-Buda disebut lahir dari Dewa Gandarwa, memiliki padanan nama Bambang Penyukilan. Wataknya sombong, meski harus diakui dia tangguh. Ia dikabarkan mampu mencuri kalimatusada, yang menjadi lambang kesaktian sekaligus lambang. Karena itu pula, ia pernah menjadi raja.

Melalui sosok petruk, Sang Wali ingin menempelkan suatu sikap bahwa pada akhirnya, Petruk yang terambil dari kata fatruk, fatruk kullu man siwallahi [meninggalkan segalanya kecuali Allah]. Ia ditampilkan sebagau figur yang mengharuskan sebetapun manusia memiliki kecacatan yang luar biasa, memiliki kesempatan untuk bertaubat. Setiap manusia pada akhirnya, harus mampu mengagungkan dan pasrah secara total pada kehendak ilahi.

Karakter Petruk yang memimpin dengan cara yang sewang-wenang dalam mengurungi ketatanegaraan, harus ditinggalkan. Sikap sewenang-wenang akan merugikan siapapun, termasuk tentu Petruk sendiri. Kalijaga ingin mengatakan bahwa jika ingin memperoleh kebahagiaan, hindarilah sikap sewenang-wenang dimaksud.

Problemnya, bagaimana di bumi Nusantara yang berbagai tanahnya pernah dikuasai seni dan tradisi pewayangan ini, harus disadarkan bahwa jika kita menjadi Petruk, segeralah bersadar diri. Problem lainnya, sosok Semar yang dinanti baik Imam Mahdi atau Ratu Adil, kini seperti ditelan bumi.

Tampaknya, dalam waktu ini, Semar tetap berada di posisinya sebagai pebijak yang diam. Ia akan bangkit misalnya, ketika Petruk benar-benar mengembalikan kalimatusada pada wilayah kekuasaan yang sesungguhnya, Tetapi, siapa Semar sesungguhnya …. Jangan-jangan memang, bumi ini hanya menyisakan Petruk. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.