Take a fresh look at your lifestyle.

Shalat adalah Pintu Menuju Kebahagiaan Hidup | Takwa Part_2

0 18

Ciri kedua sebagai muttaqien adalah mendirikan shalat. Kata mendirikan (aqiem Bahasa Arab),  bermakna mendirikan, bukan hanya sekedar melaksanakan. Ketika ayat al Qur’an menyatakan aqiem al-Shalat, maka kalimat ini dapat diterjemahkan dengan dirikanlah shalat. Karena kata aqiem itu fi’il amr, maka, kaidah ushul fiqih-nya, setiap perintah mengandung makna wajib. Jadi, mendirikan shalat adalah kewajiban mutlak bagi siapapun yang mengimani ketawhidan Tuhan dan kerasulan Muhammad yang terakhir.

Makna Shalat dalam Ragam Definisi

Makna shalat, banyak diterjemahkan. Maknanya tidak tunggal. Misalnya, banyak ahli fiqih yang menerjemahkan shalat dengan meminta atau berdo’a kepada Tuhan dan hukumnya wajib dilaksanakan. Shalat sering pula diterjemhakan sebagai bentuk ketundukan dan kepasrahan manusia secara total kepada hukum-hukum Tuhan. Tetapi, jika kita menghayati seluruh bacaan yang terdapat dalam pelaksanaan ibadah shalat, maka, shalat dapat pula diterjemahkan dengan memuji Allah. Pemikiran ini, seridaknya jika kita menghayati seluruh lafadz yang terdapat dalam shalat, hampir secara keseluruhan, bacaan dalam shalat dimaksud, selalu mengandung makna pujian kepada Tuhan. Aqiem al shalat dalam makna ini, akan berarti mendirikan shalat. Mendirikan tentu berbeda maknanya dengan hanya sekedar melaksanakan shalat.

Mendirikan shalat dalam perspektif saya, bukan hanya sekedar melaksanakan dengan berbagai gerakan seperti biasa kita melaksanakannya dalam 5 kali sehari semalam. Mendirikan, menuntut makna untuk mengimplementasikan substansi material yang terdapat dalam bacaan shalat. Bahwa di situ terdapat berbagai tata cara pelaksanaan shalat, iya dan pasti. Berbagai gerakan juga pasti sama diatur dalam kitab-kitab fiqih Islam. Tetapi apa makna dari pelaksanaanya? Tulisan ini hendak mengurai tentang makna shalat meski dalam penjelasan yang sangat terbatas.

Shalat Itu Berisi Pujian kepada Tuhan

Shalat diawali dengan pernyataan sikap bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Besar. Kalimat ini diungkapkan setiap mereka yang melaksanakan shalat, pada satu gerakan yang umum disebut dengan takbirat al ihram. Penyebutan bahwa Allah Maha Besar mengandung makna bahwa selain Allah tidak ada yang besar. Semua kecil. Shalat dalam bacaan pertama ini saja, mengandung semangat bahwa sikap tawadhu’ akan menjadi ciri sejati ketakwaan seorang Muslim. Karena itu, shalat tidak diperkenankan kepada mereka yang dalam hatinya masih menyimpan kesombongan diri. Shalat hanya dapat dilakukan, jika kita benar-benar berada dalam titik Nol kepasrahan total kepada Tuhan. Ciri totalitas itu, terlihat dari karakternyata yang selalu mengedepankan kesamaan kedudukan dan pandangan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, seganteng apapun seseorang, ia tidak layak sombong karena tidak ada yang dapat mengalahkan kegantengan Tuhan. Sepintar apapun seseorang, dia tidak mungkin dapat mengalahkan kepintaran Tuhan. Setinggi apapun jabatan seseorang, ia tidak akan dapat mengalahkan ketinggian derajat Tuhan. Seberpengaruh apapun seseorang dalam kehidupan di dunia, ia tidak mungkin dapat mengalahkan besarnya pengaruh Tuhan. Termasuk jika seseorang merasa menjadi manusia yang sangat kaya, ia tetap tidak sombong karena ia sadar, kekayaannya tidak mungkin mampu mengalahkan kekayaan Tuhan.

Di sini dan dalam konteks ini, manusia bukan hanya sekedar dilarang mengantungkan dirinya kepada sesuatu selalin Tuhan, tetapi, juga tidak ada apapun yang dapat mengalahkan Tuhan. Tuhan adalah puncak segala cerminan dari apa yang dimiliki Tuhan. Kepercayaan yang total atas kemahamutlakan Tuhan seperti tergambar dalam penjelasan di atas, pelaksana shalat akan memiliki dampak pada kemerdekaan hidup seseorang. Inilah mungkin makna lain dari pernyataan surat al fatihah [1]: 5 yang menyatakan bahwa hanya kepada Tuhan-lah kami menyembah dan hanya kepada Tuhan kami meminta pertolongan. Sejenis manusia seperti inilah yang memiliki hak untuk melaksanakan shalat.

Shalat yang Sesungguhnya Shalat

Dengan nalar semacam ini, maka, seseorang baru dapat disebut boleh atau telah melaksanakan shalat, jika, seluruh tindakan dan perbuatannya mencerminkan sikap dan perbuatan sebagai hamba Allah yang total. Tanpa totalitas, maka, seseorang tidak mungkin layak atau pantas untuk disebut sebagai manusia yang benar-benar telah melaksanakan shalat. Karena itu, shalat yang sesungguhnya shalat adalah berada dalam durasi waktu di antara waktu shalat. Apa yang kita sebut shalat dalam sehari semalam sebanyak lima kali itu, adalah latihan dan afirmasi untuk kepentingan shalat yang sesungguhnya, yakni shalat setelah kita melaksanakan shalat.

Pernyataan yang mengungkapkan keagungan Tuhan itu, kemudian di afirmasi melalui harapan atau do’a pembuka dalam shalat. Afirmasi itu mengungkap satu pernyataan sikap hidup seseorang bahwa seluruh pergerakan dinamis manusia, hanya bersandar pada satu kekuatan. Sebuah kekuatan yang tak mungkin dikalahkan. Wujud itu kemudian diberinama Allah. Coba kita hayati seluruh isi dari bacaan shalat. Pasti semangatnya adalah mendorong diri kita untuk hidup tawadlu dengan sesama manusia, terlebih tentu untuk Tuhan Kita. **  (Prof. Dr. H. Cecep Sumarna)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar