Polemik TGB. Muhammad Zainul Majdi dalam Pertikaian Politik Nasional

0 501

Muhammad Zainul Majdi, yang populer dengan sebutan Tuan Guru Bajang, belakangan tumbuh sebagai sosok kontroversial. Ungkapannya yang disiarkan berbagai TV Nasional, tentang pentingnya Jokowie menjadi Presiden dua periode, ia dihujat sederet tokoh politik nasional. Tentu saja, tokoh politik dimaksud adalah mereka yang berada di barisan “anti” Jokowie.

Sebelum pernyataan dukungannya terhadap Jokowie, TGB begitu populer dalam asosiasinya sebagai sosok pemimpin Muslim Modernis. Doktor lulusan Universitas al Azhar, Kairo Mesir dalam bidang Tafsir hadits pada tahun 2010 ini, bahkan sering disebut mereka sebagai calon pemimpin nasional yang bakal digagas kelompok Muslim modernis tadi, dalam helatan Pilpres 2019.

Namun akibat pernyataan yang menyebut Jokowie penting menuntaskan kebijakan nasionalnya, sehingga layak didorong untuk dua periode, oleh mereka yang “kontra” Jokowie, dianggapnya telah berkhianat. Selain tentu ia dianggap tidak konsisten memperjuangkan prinsip-prinsip politik yang menurut mereka ideal.

Tidak jarang, di antara mereka juga akhirnya banyak yang menyebut bahwa, pilihan dukungan TGB lebih pada barter, akibat dari menyeruaknya sebagian persoalan yang melilit dirinya saat menjadi Gubernur. Namun berbagai prestasi saat dia menjabat Gubernur demikian banyak, sulit pula sebenarnya menerima logika ini.

Baca juga https://www.lyceum.id/muhammad-zainul-majdi-gubernur-ntb-dengan-segudang-penghargaan/

Meski istilah khianat ini, sangat sulit dicari logika politiknya, tetapi, isu ini terus menyeruak ke ranah publik secara meluas. Da’i muda kondang sekelas Absul Somad sendiri, hampir kerepotan mencari jawaban tepat atas fenomena ini. Ia hanya menunggu tunggu fatwa HRS. Suatu istilah yang sangat melekat dengan Habieb Rizieq Sihab.

Namun jika kita sedikit berempati pada TGB, ia sendiri mengungkapkan beberapa argumen atas pernyataan sikap yang dia ambil. Yang intinya, tidak semiris seperti mereka menyebutnya

Karier Politik dan Partai Pengusung

Karier politik TGB yang berhasil menjadi Gubernur di usia 36 tahun, memang berakar dari gerakan politik Islam. ia yang sempat dinobatkan sebagai Gubernur termuda Indonesia, jejak rekamnya selalu tampil sebagai aktivis Muslim.

Sebut misalnya, ia menjadi anggota DPR-RI dari Dapil NTB melalui Partai Bulan Bintang. Di usia 32 tahun, ia sudah menjadi seorang anggota parlemen mewakili partai yang azasnya Islam. Tampilnya dia sebagai anggota DPR dimaksud, diusung sebuah partai yang lahir dari rahiem Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia [Masyumi].

Partai Islam modernis ini, bukan saja pernah mengharu birukan politik Indonesia di era Orde Lama, tetapi, semengatnya yang terus berupaya untuk memperjuangkan Islam dalam kancah politik. Partai ini dikenal selalu membawa prinsip Islam dalam tata lakon kenageraan Indonesia. Karena itu, menjadi wajar kalau sepak terjang TGB dianggapnya harus mewakili kelompok Islami.

Sebelum mengakhiri masa keanggotaannya di Komisi X DPR RI, ia mengikuti kontestasi politik di NTB sebagai Calon Gubernur. Ia bersama Badrul Munir diusung  PKS dan PBB periode tahun 2008-2013. Ia memenangkan Pemilu ini secara telak.

Kemenangannya berlanjut hingga Pilkada Gubernur Periode Kedua, tahun 2013-2018. Partai lain turut mengusungnya, yakni Partai Demokrat. Ia kembali memenangkan pertarungan ini. Ia sendiri kemudian diangkat menjadi salah satu anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat. Akibat ungkapannya ini pula, Partai Demokrat bahkan berkemungkinan memberikan sanksi, meski arah politik TGB dimaksud, lebih bersipat pribadi.

Patut disayangkan menurut kelompok ini, TGB memberi dukungan kepada Jokowie, yang diusung oleh sebuah Partai yang dianggapnya bertentangan dengan mereka. Meski sosok Jokowie sendiri, sering diilustrasi sebagai figur yang berusaha dekat dengan kelompok Muslim, namun legitimasinya sebagai sosok nasionalis sekuler, cukup sulit dihilangkan.

Kemungkinan Politik

Apa yang menyebabkan TGB berubah haluan politiknya. Banyak pihak menyebut bahwa kemungkinan terbesarnya, ia ditawari Jokowie untuk menjadi wakilnya dalam Pilpres 2019.

Berbagai dinamika politik belakangan, memang menyebut bahwa kemenangan Jokowie di Pil[res 2019, akan ditentukan salah satunya oleh wakilnya. Wakil Jokowie harus mampu “mewakili Islam”, luar Jawa dan intelektual. Tiga karater ini mengukuhkan TGB sebagai calon yang paling dekat dengan kriteria yang dibutuhkan Jokowie.

TGB karena itu, dalam konteks ini, bukan saja mewakili kelompok Muslim terdidik, tetapi, juga mewakili komunitas politik luar Jawa.

Apa benar? Tidak ada yang tahu! Kita tunggu sampai 10 Agustus 2018. Team lyceum

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.