Inspirasi Tanpa Batas

Politik Kekuasaan dalam Nalar Ibnu Sina | Sosok Intelektual Muslim Part-6

Politik Kekuasaan dalam Nalar Ibnu Sina | Sosok Intelektual Muslim Part-6
0 227

Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā, popular dengan sebutan Ibnu Sina di Timur dan Avicenna di dunia Barat. Ia, lahir pada tahun 980 Masehi, di Afsyahnah, sebuah kampung dekat Bukhara. Daerah tersebut, hari ini masuk kekuasaan Uzbekistan. Bapak Ibnu Sina, dikenal sebagai pejabat tinggi di dinasti Kecil Saman yang telah memungkinkan dirinya memperoleh akses dan bahan untuk mengembangkan filsafat, agama dan pengetahuan biologi, termasuk kesehatan atau kedokteran. Untuk kasus yang terakhir ini, ia bahkan dinobatkan sebagai dokter pertama di dunia.

Ibnu Sina sudah hafidz al Qur’an di usia 10 tahun. Setelah itu, ia memperlajari logika dan membaca buku Isagoge dan Prophyry, Eucliddan Al-Magest Ptolemus dan Metaphysics karya Plato. Khusus untuk karya Arsitoteles, banyak hikayat ia membacanya sampai 40 kali, tetapi tetap saja ia tidak bisa memahami apa yang disampaikan Aristoteles ini. Baru setelah membaca buku Agradhu kitab ma waraet thabie’ah  li Aristho Karya  Al-Farabi (870 – 950 M), ia dapat memahami karya Aristoteles dimaksud yang kemudian menyimpulkan bahwa karya ini, akan menjadi kuci segala kunci dalam dunia ilmu metafisika.

Kariernya sebagai seorang dokter, dimulai saat seorang amir, mungkin setara Gubernur, bernama Nuh bin Nasr sakit yang tidak kunjung sembuh. Sang amir meminta petunjuk kepada Allah bagaimana agar penyakitnya ini sembuh. Dalam mimpi itu, ia disuruh untuk diobati kepada Ibnu Sina. Seorang murid Isa bin Yahya dalam bidang kedokteran ini, akhirnya diminta untuk datang ke istana dan disuruh mengobatinya. Dengan perawatannya itu, Allah mengabulkan dan amir itu sembuh total. Sejak saat itulah, ia menjadi dokter istana dan sekaligus menjadi dokter pertama dunia. Ia menjadi sosok popular sebagai seorang dokter. Kepopulerannya bahkan mengalahkan dokter Galen dan Hipocrates yang berasal dari Yunani Kuna Sebelum Masehi.

Pemikirannya yang khas, telah berhasil melahirkan karya-karya monumental seperti: Al Qanun, Al Syifa, ‘Ilmu Al Nafs, Al Najah. Ia dikenal sebagai penulis produktif dengan menghasilkan buku dan maqolah tidak kurang dari 276 buah.

Politik Menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina adalah pembelajar yang baik. Ia sadar, mengapa banyak firqah dalam Islam. Muaranya hanya satu, yakni politik, khususnya ketika Rasulullah dan para penggantinya yang memperoleh petunjuk Tuhan –khulafah al rasydun– meninggal dunia. Sejak saat itu, politik dalam dunia Islam, berubah dari sesuatu yang positip menjadi sesuatu yang kotor. Politik menjadi suatu cara, bukan seni, mengalahkan orang lain, termasuk dengan cara yang kotor sekalipun.

Dalam anggapan Ibnu Sina, politik tidak dapat dipisahkan dari agama. Karena itu, menurutnya, politikus haruslah mereka yang mengerti agama. Jangan memberi ruang kepada mereka yang tidak mengerti agama, untuk masuk dalam gelanggang politik.

Agama tanpa politik, menurutnya, bahkan berkemungkinan untuk cepat lenyap. Politik berfungsi untuk menjadi seniman keagamaan agar ajaran agama dapat tetap terlaksana dengan benar. Agama dan politik, menurut Ibnu Sina sebagaimana dapat dibaca dalam buku al-Iqtishad fil I’tiqad-nya adalah saudara kembar yang tidak mungkin dipisahkan. Agama menjadi foundasi, dan politik seharusnya menjadi penjaga agama.

Karena itu, tidak heran jika tokoh ini menyatakan bahwa politik dan negara harus mencerminkan sikap kerakyatan yang mampu menjamin kenyamanan dan kemakmuran rakyatnya.  Bukan negara dan bukan politikus yang baik, jika tujuan pembentukan negara yang seperti ini, tidak mampu ditunaikan dengan baik.

Politik dan Agama tidak Dapat Dipisahkan

Karena politik dan agama itu tidak dapat dipisahkan, maka, pemain politik seharusnya bersih, jauh dari apa yang di Indonesia hari dipopulerkan dengan istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Sebab sikap pegawai negara yang tidak bebas dari karakternya yang KKN tadi, hanya akan membuat rakyat menjadi miskin dan sengsara. Ia merumuskan segitiga bangunan negara, yakni: 1). Negara yang seharusnya menjadi badan politik; 2). Rumah Tangga seharusnya menjadi sumber inspirasi utama dari negara, dan 3). Pendidikan sebagai jalan yang paling esensial bagi negara untuk membentuk watak warga masyarakat yang baik.

Dengan nalar ini, ia tumbuh sebagai pengikut pemikiran Plato dengan anggapan bahwa negara seharusnya mampu mencerminkan karakter yang Adil Makmur, gemah rifah lohjinawi dengan tiga kata kunci, yakni:  Madiinah al FAdhilah (Negara Makmur secara Kolektif), Madiinah ‘Adilah (Negara Keadalian secara kolektif),dan “Madiinah al Hasan el Siirah” (Negara yang Berakhlak baik dan terpuji). Watak negara yang seperti ini, hanya akan dipedapatkan oleh mereka yang mengerti bukan saja filosofi terbentuknya suatu negara, tetapi, mengerti benar bagaimana agama menjiwai suatu negara. Tulisan ini merupakan resume dari berbagai Sumber saat Perkuliahan S2 di Banda Aceh 1996-1998. By. Prof. Cecep Sumarna


Baca Juga : Politik Kekuasaan Dalam Nalar AristotelesPolitik Kekuasaan Dalam Nalar Socrates, Kuatnya Alexander Agung Dan Teori Politik Kekuasaan,

Politik Kekuasaan Dalam Nalar Plato, Lalu Singa Dan Rubah Dalam Teori Kekuasaan Ala Noccolo MachiavelliKebaikan Dan Keburukan dunia Politik  dalam  Manifesto Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...