Positivisme dan Teori Sebab Akibat

Galileogalilei dan Teori sebab akibat
0 652

Pemikiran Aristoteles tentang teori sebab akibat ini, menurut Akbar S. Ahmed, di kemudian hari akan melahirkan teori sebab akibat. Teori ini memandang dunia sebagai pertumbuhan linier. Hubungan sebab akibat ini, termasuk dalam perubahan-perubahan sosial. Dalam istilah sosiologi hal ini sering diperkenalkan dengan istilah evolusi sosial dan perubahan sosial.

Rumusan perubahan sosial, terlihat misalnya dari masyarakat primitif menuju masyarakat agraris. Dari agraris bergerak menjadi masyarakat industri serta kemungkinan lahirnya masyarakat baru pasca industri. Logika dan nalar ini, secara faktual mampu menggantikan perintah Tuhan. Iman dikalahkan oleh skeptisisme. Teori ini telah membedakan dengan paradigma keilmuan bangsa lain, seperti paradigma bangsa Semit yang bergantung pada intuisi dan adat serta agama. (Baca: Sejarah Filsafat Positivisme).

Perkembangan Positivisme di Abad Skolastik

Di abad skolastik, paham ini dikembangkan salah satunya oleh Nicolo Machiavelli (1467-1525 M). Tokoh yang populer dengan buku II Principe ini, menjadi penerus yang syah dari pemikiran Aristoteles di atas. Buku ini memang dianggap berbagai kalangan; saintis, awam dan agamawan sebagai “Buku Syetan” yang harus dilarang peredarannya. Hanya sedikit di antara saintis yang menganggap manfaat dari buku ini. Ia dapat disebut sebagai penerus pemikiran Aristoteles dan Aristippos yang dalam beberapa hal material-hedonistik, sekaligus dialektis empiris dalam bidang keilmuan.

Ia telah menolak pemikiran abad pertengahan yang mengagungkan manusia sebagai citra Tuhan. Ia menolak anggapan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Ia memandang manusia justru sebagai makhluk irasional yan tingkah lakunya diombang-ambing oleh emosi-emosinya. Oleh karena itu ia telah menyarankan bukan saja pada penolakan terhadap campur tangan agama terhadap Negara, tetapi ia menolak dan memandang tidak perlu memperhatikan pertimbangan moral yang dasarnya mitos dan agama. Ia melukiskan dunia sesuai dengan apa yang didapatkannya, tidak seperti apa yang diharapnya.

Nicholas Covernicus (1473-1543 M) memperkuat basis pemikiran Machiaveli yang di awal disebut sangat Aristatolian. Ia berani menolak suatu anggapan yang menyatakan bahwa bumi adalah pusat segala pergerakan bintang-bintang dan planet-planet, yang teori ini mapan dikembangkan kaum agamawan, khususnya Kristen dan Yunani. Pemikiran ini menjadi bentuk diametral (antitesis) dari pemikiran filosof awal dan doktrin Gereja yang mengangg sebaliknya, di mana bumi yang menjadi pusat pergerakan segala bintang-bintang.

Nicholas Covernicus menyatakan bahwa Mataharilah yang menjadi pusat pergerakan bintang dan planet-planet yang ada di alam semesta ini. Ia memberi contoh bahwa seorang yang sedang bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi sering tidak menyadari bahwa ia sedang bergerak. Manusia sering menyaksikan pohon, tiang-tiang dan rumah-rumah sedang berjalan, padahal yang sesungguhnya berjalan atau bergerak adalah manusia itu sendiri.

Corak Positivisme abad Skolastik

Matahari dan planet–planet lain seperti mengelilingi bumi, tetapi yang sesungguhnya berputar justru bumi itu sendiri. Ia juga menyebutkan bahwa bumi hanya merupakan salah satu planet yang mengitari matahari. Ia merumuskan bahwa Merkurius merupakan  diplanet yang paling dekat dengan Matahari disusul oleh Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Di luar orbit planet terjauh terdapat bintang-bintang. Covernicus memandang bahwa alam semesta adalah berhingga. Pusatnya dihuni oleh Matahari, sedangkan tepiannya dihuni oleh bintang-bintang.

Ditinjau daari sudut pandang yang lebih luas, pemikiran Covernicus ini telah memperkenalkan pengamatan obyektif tentang alam dan ini sekali lagi, menjadi dasar hipotensis yang kuat akan anggapannya yang memandang bahwa agama dan doktrin   keagamaan didalamnya, harus ditolak.

Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa sekalipun Covernicus memberi kesan   “menggusur” manusia dari Bumi sebagai kebanggaannya dari pusat alam semesta,  ia juga menunjukan bahwa manusia memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana alam semesta dan akan tampak kepada. Manusia harus dipandang penentu alam dan tidak boleh mengalah kepadanya. Manusia adalah penghuni sekaligus pengatur bumi. Berbagai dinamika alam diatur oleh manusia dan ia tidak boleh mengalah pada alam.

Thomas  S  Kuhn,  menyebut pemikiran Covencius sebagai proses transformasi Konsepsi manusia mengenai alam semesta yang secara signfikan berdiametral dengan agama. Konsepnya ini juga telah menggeser pemahaman mengenai hubungannya dengan alam. Revolusi Covernicus menjadi titik balik dalam perkembangan intelektulismi Barat berpengaruh besar dalam perubahaan Konseptual agama dan filsafat.

Catatan Kuhn atas Pemikiran Covernicus

Kuhn melihat ada tiga tataran makna di mana revolusi Covernicus bekerja. Pertama, bersifat astronomis. Ia melihat pembaharuan konsep dasar astronomi yang sebelumnya sangat dogmatis ke astronomi yang lebih ilmiah rasional; kedua bersifat keilmuan yang lebih luas, yaitu perubahaan radikal dalam pemahaman manusia tentang alam semesta.

Kajian dan temuan Covernicus ini karena bersifat ilmiah memungkinkan untuk terus dilakukan pengkajian terhadap berbagai gejala alimiah. Temuan Covernicus ini pada akhirnya berhasil mencapai puncaknya pada era Isaac Newton; ketiga bersipat filosofis yaitu sebagai bagian dari peralihan pemahaman masyarakat Barat atas nilai-nilai yang selama ini dianutnya.  Perubahaan itu terkesan dari sifatnya yang mistis ke filsafat rasional emperis.

Pemikiran empiri ini terus mengalami perkembangan dengan tingat perubahan yang sangat vulgar. Kepler ini telah ditemukan tiga macam hukum gerak bagi planet-planet. Ketiga hukum gerak itu adalah: 1). Planet bergerak dengan membuat lingkaran bulan panjang; 2). Garis yang menghubungkan pusat planet dengan Matahari dalam waktu yang sama akan  membentuk bidang yang sama luasnya, dan; 3). Kuadrat periode planet mengelilingi matahari sebanding dengan pangkat tiga dari rata-rata jaraknya dengan matahari.

Galileogalilei Penerus Pemikiran Fenomenal

Penerus pemikiran Covernicus adalah Galileo Galilai (1564-1642 M). Ia tokoh penting yang menemukan pentingnya akselerasi (perubahan kecepatan) dalam dinamika, penemu teori gravitasi bumi sehingga menyebabkan benda jatuh dan juga penemu teori yang menyebutkan bahwa jika peluru ditembakkan akan membuat suatu gerak parabolis, bukan gerak horizontal yang berubah menjadi gerak vertical. Selain tentu ia pengikut Covernicus dan Kepler yang memandang bahwa bukan bumi tetapi matahari yang menjadi pusat jagat raya. Atas kesamaan pemikirannya ini pula, ia sering dinisbatkan sebagai penerus ilmu astronomi  yang memantangkan temuan dan pemikiran Bacon-Covernicus.

Berbeda dengan Covernicus dan Kepler, usaha Galileogalilei untuk mementangkan konsep astronominya, secara cepat mengalami  penolakakun yang cukup kuat dari kaum   baik secara tertutup maupun terbuka. Di tahun 1616 Masehi, Galileogalilei secara tertutup disidang di lingkungan Gereja. Di 1632 ia secara terbuka disidang di Gereja yang hasilnya ia harus mengalah pada kepentingan Gereja. Ia dipaksa untuk mengakui kebenaran yang dianggap benar absolut oleh para rahib dan mengabaikan kebenaran ilmiah. Meski pengakuan Galileogalilei ini didasarkan juga atas dasar ilmiah

Inkuisi yang dilakukan Gereja terhadap Galileogalilei, ternyata tidak menyurutkan minat ilmuan untuk melakukan penolakan terhadap peran Gereja; baik terkait dengan persoalan hubungan ilmu dan kitab suci, maupun hubungan antara agama dan  Negara. Hal ini tentu sangat berbeda kondisinya dengan saintis di zaman sebelumnya, di mana peran Gereja masih sangat dihargai dan akhir selalu dimenangkan kaum agamawan. Di era ini justru terbalik. Peran agama tereliminir oleh peran dan  pemikiran kaum filosof  yang tekanannya jauh dari domain agama. Bahkan beberapa hal, konsep saintis yang menghendaki untuk meninggalkan justru memperoleh dukungan  yang sangat kuat dari berbagai kalangan, khususnya dari saintis dan para ahli seni.

Rasionalisme Abad Modern

Sejak abad keenam belas, paham dan pemikiran  empirisme digoyangkan oleh munculnya paham baru- – yang sebenarnya juga merupakan rantaian dari sejarah filsafat Yunani Kuna. Faham baru itu kemudian dikenal dengan istilah rasionalisme dengan tokoh utama Rene Descartes. Faham ini membawa pendekatan deduktif dengan asumsi matematik. Meski paham rasionalisme tidak mampu mengalahkan peran serta empirism, pada tatanan filsafat baru yang kemudian dikenal dengan paham positivisme

Tokoh penting yang mendasari pemikiran rasionalsme adalah Descartes. Meski jika dilacak lebih jauh, faham ini sebenarnya telah ada sejak Socrates dan Plato merumuskan konsep filosofisnya di Yunani.

Socrates selain berpendidikan tinggi, ia juga sering digambarkan sebagai manusia shaleh dan taat beragama. Ia termasuk manusia langka di zamannya dalam konteks keberagamaan. Ia sendiri berkeyakinan bahwa allah menyatakan diri (menyatu dan memberi ilham) kepada orang-orang shaleh melalui mimpi, orakel, pertanda dan lain sebagainya. Disebut oleh Plato, bahwa Socrates telah mengalami “pertanda ilahi” sejak ia masih kecil. Petunjuk Tuhan ini diwujudkan dalam bentuk pernyataan negatif, di mana Tuhan melarang Socrates untuk melakukan aktivitas tertentu dan dilarang makan, makanan tertentu.

Socrates memandang manusia makhuq yang mengenal, yang harus mengatur tingkat lakunya sendiri dan yang hidup dalam masyarakat. Ia mengawali pemikiran filsafatnya dari pengalaman hidupnya yang nyata atau kongkret dan kemudian menariknya ke alam yang “abstrak”.

Dalam memahami kebenaran, Socrates berkeyakinan bahwa ada kebenaran objektif, dilihat dari perilaku kehidupan manusia dalam dunia nyata. Socrates, disebut Mehdi Gholsani, telah memusatkan perhatiannya pada dunia manusia semata. Suatu studi yang layak tentang manusia adalah manusia, bukan dunia tumbuh-tumbuhan, serangga atau binatang-binatang. Ini pula yang membedakan pemikiran Socrates dengan para sofoi yang menganggap kebenaran yang diperoleh manusia bersifat relatif. Manusia dianggap para sofoi tidak mampu melahirkan kebenaran mutlak. Sedangkan bagi Socrates manusia dengan pengalaman objektifnya, justru dapat memperoleh kebenaran mutlak.

Berawal dari Socrates

Dilihat dari perspektif ini, Socrates mampu membedakan antara corak dan perilaku yang positif dengan corak dan perilaku yang negatif. Ada tindakan yang pantas, ada pula tindakan yang tidak pantas. Berbuat kejahatan adalah suatu kemalangan bagi manusia yang melakukannya dan berbuat baik adalah suatu kebahagiaan yang tidak terhingga bagi manusia yang melakukannya. Dari sini dapat diketahui bahwa Socrates adalah peletak dasar bagi sistem dan prinsip idealitas.

Socrates menerapkan nalar pada etika dan manusia. Manusia dianggapnya sanggup mengetahui apa yang baik, pun secara mutlak. Ia menganggap bahwa orang yang tahu apa yang baik, haruslah melakukan kebajikan, dan yang baik bagi orang perorang tentu baik juga bagi masyarakat.    

Sikap pandang Socrates yang demikian, di kemudian hari akan berimplikasi pada teori kebahagiaan yang dianutnya pada sikap yang lebih hakiki. Pandangannya ini, setidaknya akan terekam melalui berbagai pembelaan (apologia) yang dilakukan Socrates saat ia diadili akibat perbedaan pandangannya dengan para sofoi yang menjadi pembela penguasa.

Bagi Socrates, kebahagiaan tidak hanya terletak pada kekayaan, kehormatan dan kesehatan. Kebahagiaan sejati terletak justru pada jiwa. Dengan demikian, aspek-aspek kebahagiaan yang bersipat fisis, dianggapnya tidak sebanding dengan jiwa. Tujuan tertinggi hidup manusia adalah membuat jiwanya tidak tergantung pada perasaan subjektif. Di sini, jiwa menjadi intisari kepribadian manusia. Kebahagiaan menurut Socrates dapat diperoleh melalui virtue atau kebijakan dan keutamaan.

Socrates memandang bahwa jiwa tidak dapat dipenjara. Badan boleh berada dalam penjara, tetapi hati dan kebahagiaan akali tetap merdeka. Mungkin karena itu pula, ia kemudian merumuskan sebuah teori yang dicatat murid-muridnya saat ia diusulkan untuk kabur dari penjara dan ia menolaknya. Socrates menolak keinginan para pengikutnya dengan mengatakan bahwa: setiap warga harus taat pada aturan yang telah ditetapkan Negara. Meski ia sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak merasa terpanggil untuk campur tangan dalam urusan-urusan politik.

Analisa Pemikiran Socrates

Pemikiran Socrates ini kemudian dimatangkan oleh Plato (428 SM) yang sering disebut sebagai penerjemah pemikiran gurunya dan sekaligus menjadi muridnya yang paling setia. Melalui universitas (Academia) yang ia dirikan di Athena, Plato mengembangkan pemikiran gurunya tentang idea dan jiwa. Menurut Plato setiap esensi mempunyai realitas yang terlepas dari perbuatan yang kongkret. Idea keberanian, idea keadilan dan ide-ide lain memang ada. Pemikiran Plato ini didasarkan atas pendekatan deduktif (ilmu Pasti). Plato memandang rendah sekali cerapan penginderaan. Menurut pandangannya, cerapan penginderaan hanya menghasilkan pendapat bukan pengetahuan yang nyata.

Pemikiran Plato ini memang sangat metafisik dan ini sangat berbeda dengan muridnya, Aristoteles yang mengagungkan aspek fisik. Ia seperti diakui Maurice Merleau Ponty sebagai tokoh yang mewarisi pemikiran Socrates. Ia mengakui adanya Tuhan secara implisit dalam fenomena universal atas eksistensi kesempurnaan. Ia mengakui eksistensi kesempurnaan Tuhan dalam ekspresi kemanusiaan.

Maurice Merleau Ponty menyebut bahwa Plato yang terinspirasi pemikirannya oleh Socrates menganggap bahwa kelaparan metafisik yang eksis secara dinamis pada inti Ada seluruhnya. Ia menyimpulkan adanya kesaksian implisit dalam fenomena universal atas eksistensi kesempurnaan Ada.

Ia menyimpulkan bahwa di atas reflek pengalaman kekaguman universal kongkret, manusia harus menyimpulkan eksistensi Tuhan sebagai kesempurnaan Ada. Kebenaran adalah bahwa Tuhan merupakan pondasai yang tersembunyi bagi semua kekaguman yang tidak tampak tetapi menjadi batu beban yang selalu ada, yang menarik kembali pada diriNya sendiri semua kreasi yang Ia panggil dari ketiadaan dan Ia kirimkan pada missi pematangan dirinya.

Plato dan Rumusan Rasionalisme

Plato merumuskan pemikirannya dalam dongeng (fiksi) baying-bayang dalam gua. Cerita ini tampaknya disusun oleh dirinya sendiri untuk mengilustrasi pemikirannya. Ia menyebut bahwa manusia dapat diibaratkan seperti orang-orang tahanan yang sejak lahirnya duduk terbelenggu dalam sebuah gua. Di belakang mereka ada api yang menyala. Beberapa budak belian berjalan di depan api sambil memikul bermacam-macam benda. Kejadian model ini akan melahirkan beraneka macam bayang-bayang yang dipantulkan pada dinding gua.

Orang tahanan menyangka bahwa baying-bayang itu adalah realitas yang sebenarnya dan tidak ada realitas lain selain bayang-bayang. Namun setelah beberapa waktu, salah seorang di antara mereka dilepaskan. Ia melihat sebelah belakang gua dan api yang berada di situ. Ia mulai memperkirakan bahwa baying-bayang tidak merupakan realitas yang sebenarnya. Lalu ia diantar keluar dan melihat matahari yang menyilaukan matanya. Semula ia memandang bahwa sudah meninggalkan realitas.

Tetapi berangsur-angsur ia menyadari bahwa itulah relitas yang sebenarnya. Setelah itu, iapun kembali ke gua dan memberi-tahukan kepada teman-temannya bahwa apa yang mereka lihat bukan realitas yang sebenarnya melainkan hanya bayang-banyang tetapi. Tetapi mereka tidak mempercayai pendapatnya. Bahwa andaikan ia tidak terbelenggu, maka niscaya orang yang menyampaikan informasi itu, akan dibunuhnya.

Mitos Plato yang masyhur tadi, dapat diibaratkan seperti perilaku manusia awam (seperti terlihat dari kumpulan manusia yang terbelenggu) dan perilaku filosof (seperti terlihat dari orang yang keluar dan memperoleh realitas objektif). Orang awam dianggap Plato akan berpikir bahwa relaitas objektif adalah sesuatu yang diperoleh melalui mengenal inderawi.

Analisa Teori Bayang-bayang

Sementara filosof memandang bahwa pengenalan indera hanya akan memberikan bayang-bayang dan tidak dapat menyondorkan kebeanaran (realitas) sesungguhnya. Atas pemikirannya ini, Plato kemudian membagi kebenaran menjadi dua bagian besar terbuka bagi pengalaman panca indera (jasmani). Manusia dianggap Plato memiliki dua dunia (ide dan jasmani). Oleh karena itu, Plato sering juga disebutsebagai pemikir sisntesis (yang dualistis/dualism) antara pemikiran Socrates yang idealitik dengan pemikirannya para sofoi yang sangat subjektif.

Plato juga menyetujui gagasan mengenai patokan-patokan etik yang dibandingkan dengan gurunya. Menurut Plato, ada kebaikan yang bersifat umum, adapula kebaikan yang bersifat murni apa yang dimaksud dengan kebaikan yang bersifat umum dan kebaikan yang bersifat murni, oleh Plato memang tidak rincinya. Ia juga sama dengan gurunya dalam kepercayaan kepada kehidupannya kekal (immortality) dan mereka merasa nyaman dengan wawasan bahwa orang harus melakukan kebaikan supaya mendapatkan ganjaran dalam kehidupan yang kekal.

Penerus Rasionalisme Abad Pertengahan

Penerus abad pertengahan yang mendasari pemikirannya pada mendekatkan deduksi adalah Rane Descrates. Ia mendasari pemikirannya pada pondasi “aku yang berpikir”. Ia mengawali filsafatnya dengan merubah metodologi berpikir, tidak seperti kebanyakan para ahli pada waktu itu. Ia memancangkan metode keraguan sebagai dasar kefilsafatannya. Metodenya bukan untuk mempertahukan keraguan. Bahkan sebaliknya, metodenya ini bergerak dari keraguan menuju kepada kepastian.

Rane Descrates tidak pernah meragukan bahwa dirinya mampu menemukan keyakinan yang berada di balik keraguan itu dan menggunakannya untuk membuktikan suatu kepastian dia balik sesuatu. Keyakianan itu begitu kuat dan jelas. Keyakinannya berjalan berdasarkan metode deduksi yang tegas. Descrates telah menemukan ide yang distinct dan menjadikannya sebagai premis. Ia mendeduksi keyakinan lain yang distinct, seluruh penyimpulan terlepas dari data empiris.

Gagasan Rene Descartes diawali dari kesangsian metodis akibat ketidakpuasannya terhadap perkembangan filsafat yang ada di zamannya. Filsafat adab pertengahan danggap Descartes terlalu bergantung pada corak Aristotelian. Ia memandang bahwa filsafat dieranya tidak cukup radikal.

Hanya ada satu cara untuk menjamin keradikalan filsafat, yakni kesangsian. Filsafat harus mulai dengan menyaksikan segala-galanya. Tidak  boleh ada sesuatu apapun yang begitu saja diterima. Dalam kesangsian itu akan kelihatan apa yang dapat bertahan dan apa yang tidak dapat bertahan. Dalam kesangsian itu akan kelihatan apa yang dapat menyaksikan dan apa yang tidak. Rene Descartes tidak menuntut agar tidak menuntut agar filisof menyangsikan apa yang sampai saat itu dapat dipercaya atau diterimanya. Menyangsikan keberadaan Tuhan, ada atau tidak ada, atau bahwa Tuhan itu diri-Nya sendiri adalah sebuah kerangka metodis yang hasilnya sangat bergantung terhadap filisof itu sendiri.

Metode Filsafat Descartes

Metode filsafat menurut Descartes tidak boleh bertolak dari penggandaian-penggandaian yang tidak diperiksa atau tidak disangsikan. Tuhan itu boleh saja dianggap ada, tetapi ia tidak boleh membangun suatu sistem filsafat atas penggadaiannya, kecuali jika ia memperlihatkan bahwa ia eksistensi Tuhan tidak dapat diragukan setelah menyaksikan segala sesuatu.

Rene Descartes yakin bahwa akal adalah basis paling terpercaya bahkan dibandingkan dengan iman (hati). Pemikiran Rene Descartes ini menjadi awal kemenangan rasionalitas disbanding agama di abad pertengahan.  Rene Descartes adalah tokoh awal yang membuat paradigma lain atau berbeda dengan paradigma keilmuan filosof sebelumnya. Ia menyebut bahwa akal (rasionalitas) adalah sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akallah yang akan memenuhi syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah.

Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas-asas pertama yang pasti. Metode yang digunakannya adalah deduktif yang landasannya ilmu pasti. Hal ini dapat dimengerti mengingat ia adalah ilmuan matematik. Atas asumsi ini, ia dijuluki sebagi the father’s of modern philosophy dengan sumbangannya yang telah menempatkan akal dalam posisi atau kedudukan yang sangat tinggi.

Rasionalisme dan Empirisme Bermuara di Positivisme

Ilustrasi tentang empirisme dan rasionalisme ini, serta dialektika di antara keduanya, pada ujungnya berkolaborasi dalam rumpun filsafat baru yang disebut dengan filsafat positivisme. Asumsi ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya rasionalisme tidak mungkin lahir tanpa dukungan empirisme, dan atau sebaliknya.

Di mana empirisme tidak mungkin hadir dalam sendiriannya, tanpa dukungan rasionalisme. Dengan kata lain, sumbangan pengetahuan yang dihasilkan oleh positivisme adalah tergabungnya prinsip empirisme dan rasionalisme. Jikapun ada yang disebut baru, maka nilai kebaruan itu hanya terletak pada dimensi keterukuran. Di letak ini pula, maka positivisme tidak lebih dari gabungan antara empirisme dan rasionalisme. Prof. Dr. Cecep Sumarna

 

Komentar
Memuat...