Potret Kaum Proletar Gampang Putus Asa dan Tidak Bersatu

0 14

Tuhan tidak memberikan sesatu dengan cuma-cuma, artinya untuk mendapatkan sesuatu manusia harus bekerja keras. Semakin kecil kuantitas dan kualitas dia usaha, semakin kecil yang dihasilkan, dan sebaliknya. Ujian terberat kaum proletar adalah ketika kontinuitas gerakan dan usaha tidak cepat sampai titik pemberhentian. Proses yang terlalu lama membuat mereka jenuh. Justru konsistensi mereka dipertaruhkan di saat usaha seringkali mengalami kegagalan. Pantang menyerah justru harus menjadi modal kuat bagi mereka di saat seperti ini. Menjadi sunnatullah bahwa semua usaha dan perjuangan harus dihadapi dengan dua hal. Pertama, konsistensi (istiqomah), terus menerus. Kedua, kreatif. Kecerdasan taktik mencari peluang serta terobosan baru ketika satu jalan mengalami kebuntuan. Dua hal ini menjadi modal mutlak bagi usaha yang dirancang secara baik. Namun, sebagaimana kalam Tuhan, kaum proletar dalam realitasnya acapkali gampang putus asa dan berlindung di bawah takdir dan kuasa Tuhan. Potret Kaum Proletar Gampang Putus Asa dan Tidak Bersatu.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا.

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allâh itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. (Q.S. an-Nisa’/4:97)

Ayat ini menyarankan agar kaum proletar bisa menjadi kelompok path finder, kelompok yang cerdas mencari celah ketika satu jalan mengalami kebuntuan. Digambarkan oleh Tuhan, kaum proletar tidak mau pindah dari Makkah, padahal di sana mereka tertindas. Mereka sebenarnya bisa keluar ke Madinah dan menyusun strategi taktik untuk kemudian kembali ke Makkah.

Kaum proletar jaman Nabi dan mungkin jaman kita sekarang, membutuhkan konsolidator. Namun konsolidator itu bukanlah permanen karena bila permanen akan memunculkan dependensi. Pasca konsolidator hilang atau meninggal, gerakan kaum proletar layu kembali. Konsolidator tidak dibutuhkan lama, karena ia hanya berfungsi untuk merubah kesadaran paradigmatik serta memberi potret awal gerakan.

وَمَا لَكُمْ لا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا

Artinya:Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allâh dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya”.( Q.S. an-Nisâ’/4:75)

Dependensi pada konsolidator ini dalam istilah gerakan disebut dengan social movement, yaitu gerakan sosial yang disemangati oleh kehadiran seorang tokoh konsolidator. Kelebihan model gerakan ini adalah pada amunisi yang dipersiapkan lumayan cukup dan mudah membangkitkan emosi perubahan. Namun kelemahan model ini adalah daya konsistensinya yang sangat pendek. Kekuatannya sebatas kehadiran dan hidupnya konsolidator. Kaum proletar tidak memiliki kekuatan organik yang mapan untuk mempertahankan keutuhannya apalagi visi keberhasilannya.

Gerakan yang mampu menyambung kontinuitas lama adalah gerakan model social cultural movement yaitu gerakan perubahan yang dilakukan dengan ancang-ancang menerima hasil dalam jangka panjang. Yang dibangkitkan pertama-tama adalah paradigma kaum proletar. Harapan dari model ini ketidaktergantungan pelaku perubahan pada sosok yang ditokohkan. Kelebihan model ini terletak pada kelanggengan proses dan hasil, namun kekurangannya terletak pada waktu dan tempo yang panjang. Gerakan ini bila dalam konteks kita sekarang adalah seperti menghidupkan remaja masjid, karang taruna dan lain-lain. konsistensi diperlukan di sini, namun kaum proletar gampang menyerah.

Kaum Proletar Tidak Bersatu

Tidak ada keberhasilan komunitas tanpa ikatan yang kuat dalam komunitas itu. Tidak ada ikatan kuat dalam komunitas tanpa ada kesatuan visi dan arah perubahan yang sama. Visi itu bisa berbentuk ideologi, pengandaian hidup masa depan atau persamaan nasib yang diperjuangnkan. Ibarat kehidupan rumah tangga, suami istri bertahan lama karena persamaan ideologi yang diperjuangkan. Ketika platform itu rusak, kehidupan suami istri juga rusak. Al-Qur’ân mengingatkan ketika kaum proletar masih menderita dan komunitas yang kecil mereke bersatu, namun ketika kenikmatan mendatangi mereka, mereka kehilangan kebersamaan.

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan ingatlah (hai Para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allâh memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Anfâl/8:26.)

Tuhan dalam ayat ini mengembalikan ingatan sosial masyarakat Madinah akan kondisi awal mereka sebelum hijrah. Mereka adalah kaum tertidas, namun pada saat ketertindasan itu hilang dan berganti dengan kemakmuran, mereka mengalami disparitas sosial yang mulai tampak. Inilah gaya Tuhan mengingatkan melalui pengembalian ingatan sosial masyarakat. Ini juga dapat dijadikan strategi organisasi dan gerakan perubahan bila mulai tampak gejala-gejala disparitas organisasional.
Dalam tahap awal, sebelum keberhasilan, ketika semangat perubahan akan diberangkatkan juga mengalami kendala penyatuan visi yang rumit. Apatisme selalu muncul dalam suatu kaum. Awalnya dari individu kemudian meluas. Dalam tahap ini, biasanya memerlukan seseorang yang bisa diterima secara kolektif. Penyatuan visi dan ideologi ini penting karena kebenaran kadangkala harus dipaksakan. Ketika kebenaran sudah tidak didengar oleh kelompok borjuis kafir, maka acapkali kebenaran harus dipertontonkan secara nyata dan tegas. Kaum proletar, seperti ungkap Tuhan, kadangkala menutup telinga di saat kebenaran muncul.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

Dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.( Q.S. Nûh/71: 7)

Oleh : Dr. Ahmad Munir, M.Ag.

Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.