Take a fresh look at your lifestyle.

Potret Lembaga Pesantren yang Mulai Ditinggalkan

0 25

Konten Sponsor

Potret Lembaga Pesantren. Ditengah arus globalisasi yang kian marak, gaya hidup yang hedonis sudah semakin sulit untuk ditahan dan akhirnya berbagai kebiasaan-kebiasaan lama pun mulai ditinggalkan guna menerima kebiasaan baru yang entah dari mana dan seperti apa dampaknya.

Dampak dari globalisasi modern

Dampak dari globalisasi modern tak bisa dihindari oleh lembaga-lembaga pendidikan non formal, seperti sebagian pondok pesantren. Seperti salahsatu Lempaga Pendidikan Pesantren yang beralamat di Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon bisa dikatakan kini sedang mengalami kemunduran dan mulai terlupakan.

Ialah Pondok Pesantren Miftahul Huda, Pondok Pesantren yang didirikan pada tahun 1973 oleh KH. Yunus Amin. Kiai Haji yunus Amin sendiri merupakan alumnus dari PondokPesantren Babakan, Ciwaringin.

Pendirian Pondok Pesantren Miftahul Huda pada tahun 1973 ini didasari oleh keinginan kuat dari sang kiai untuk mengamalkan ilmu kepada masyarakat sekitar di lingkungan tempat tinggalnya, dan pada akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Miftahul Huda sampai sekarang.

Namun sangat disayangkan, pondok pesantren yang mernah mengalami kejayaan pada masanya ini kini terkesan mulai terlupakan. Namun dengan kekuatan yang ada, pengasuhnya tetap bertahan dan mempertahankan yang ada dengan segala keminimannya.

Semangat untuk mempertahankan Tradisi

Saat penulis mencoba mengunjungi tempat tersebut, Pengurus pesantrennya, Ust Didin terlihat bersemangat dan terus berupaya untuk mempertahankan segala tradisi dan budaya pesantren yang memang sudah seharusnya berjalan di Pondok pada umumnya.

Ustad yang juga merupakan mantu dari pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda ini menyayangkan bahwa pada beberapa tahun kebelakang pondoknya itu memang tidak sesepi sekarang. Mengenai apa alasan dari mulai berkurangnya santri-santri yang mondok disana, factor apapun itu tentu menjadi hal yang menarik dikaji mengingat yang mulai ditinggalkan merupakan sebuah lembaga pendidikan yang pertama kali muncul di Bumi Indonesia, yakni pondok pesantren.

Setelah lama ia coba menganalisa, ternyata memang pemahaman masyarakat pada umumnya khususnya para orang tua santri saat ini seperti sudah tidak terlalu melihat lembaga yang pendidikan pada sejarahnya memang merupakan lembaga pendidikan pertama di Indonesia, yakni lembaga pondok pesantren itu.

“Dulu sih di pondok ini rame, ya santri nya lumayan banyak, tapi kesini-kesini jadi berkurang, saya juga belum bisa mengatakan apa penyebabnya, namun kelihatannya sih pemahaman masyarakat, termasuk para orang tua santri saat ini tentang pondok pesantren agak sedikit berbeda mas, apa lagi terhadap pondok yang istilahnya tidak terkenal,” Kata dia saat menjelaskan hasil analisisnya.

Tradisi Yang Utuh

Mengenai tradisi-tradisi pondok yang masih berjalan, dirinya menjelaskan bahwa seperti apapun keadaannya, ia akan terus berupaya untuk menjaga dan mempertahankan segala bentuk budaya pondok pesantren sehingga harapan kedepan nantinya pondok pesantren Miftahul Huda kembali bisa mencetak generasi-generasi siap pakai di masyarakat dan kuat dalam melawan arus globalisasi.

Tradisi-tradisi pondok pesantren yang terus dipertahankan adalah kesalafiannya, walau dengan jumlah santri yang kini sudah bisa dihitung dengan jari, pihak pondok pesantren tetap menjalankan segala agenda yang dijadwalkan sehari-hari.

“Santri kita kalo yang mondok cuman empat orang, paling jauh itu dari Tegal gubug dan itupun perempuan semua, namun tradisi-tradisi dan budaya kepesantrenan tetap kita pertahankan, seperti istighosah dan pengajian kitab-kitab kuning.” Terang dia.

Didin melanjutkan, sebenarnya dalam keadaan seperti sekarang ini, ia begitu mengagumi kiai Yunus Amin, pasalnya pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Miftahul Huda itu dalam mengamalkan ilmunya tidak pernah melihat kuantitas. Ketika ada murid yang membutuhkan pengajarannya, walaupun hanya dua atau tiga orang akan tetap ia bimbing.

“saya jujur sangat kagum sama pak kyai, di umurnya yang sudah tidak muda lagi, ia terlihat begitu bijak, kalo mengajar ia gak pernah lihat jumlah, dua atau tiga orang pun tetap akan ia bimbing,” Lanjutnya.

Bersaing untuk mencetak Generasi yang Islami

Kemajuan Pondok Pesantren Miftahul Huda hingga mencapai masa kejayaannya ini dapat dilihat dari beberapa lembaga pendidikan formal yang bernaung di bawah yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda.

Setelah di era awal membentuk Madrasah Diniyyah, pada tahun 1992, Yayasan ini, membuka Roudhotul Athfal, hingga pada tahun 2010 silam dibuka pula Madrasah Tsanawiyyah.

Sampai sekarang, murid dari Raudhatul Athfal mencapai sebanyak 20 murid, sedangkan di Madrasah Tsanawiyyahnya, dari tiga kelas diakumulasi hanya mencapai angka 50 murid.

Namun semua itu tak menyurutkan semangat dari Kiai Yunus Amin dan Ust Didin. Keduanya yakin mampu bersaing dan bisa kembali mencetak generasi islami yang siap bertahan menghadapi segala macam kemajuan. apalagi di era Globalisasi ini, peran lembaga pendidikan seperti ini sangat dibutuhkan sebagi pembentukan karakter anak dalam menjaga jatidirinya.

Ust Didin mengharapkan, untuk kedepannya ia optimis dengan segala keminimannya itu, Pondok Pesantren Miftahul Huda bisa bersaing, bahkan dengan lembaga-lembaga pendidikan formal sekalipun dalam hal kesiapan bermasyarakat, dan ia akan terus berupaya untuk itu. *** Asep Saepul Mielah