Peran Materialisme dalam Menata Dunia | Kajian Ulang Metafisika Part ai??i?? 9

0 64

Peran Materialisme. Apakah semua hal yang diproduk metafisika materialisme, salah dan tidak memiliki nilai manfaat bagi kehidupan manusia? Ooooh tidak! Bahkan dalam banyak hal, produk ilmiah yang berkembang selama ini, lahir karena pertimbangan materialisme. Sebut misalnya, para ahli kesehatan seperti dokter dan ahli gizi. Sebagian besar kalau bukan semuanya, mereka adalah produk dari filsafat materialisme.

Sebut misalnya, ada orang yang sakit karena gagal jantung, ginjal, hati atau alat vital tubuh lainnya. Selama ini, dokter dan para ahli teraphy, semua menggunakan model pendekatan metafisika materialisme. Pekerjaan yang dia lakukan, sulit dapat terwujud, jika asumsinya hanya diletakkan dalam pendekatan metafisika immateril.

Mereka terus menerus melakukan kajian suatu penyakit, karena mereka yakin bahwa di balik yang fisik ada penggerak utama yang bersipat materil. Hal yang sama, jika anda hari ini, menikmati daging; ayam, sapi, kambing atau ikan. Hampir dapat dipastikan, bahwa produk-produk pertenakan hari ini, semuanya menggunakan paradigma metafisika materialisme.

Namun demikian, secara ilmiah ada beberapa keuntungan lain dari penggunaan metafisika materialisme ini. Logika filsafat ini, memberi peran sebagai sberikut:

Menuntun Kecermatan

Metafisika mengajarkan tentang cara berfikir yang cermat dan tidak kenal lelah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Seorang metafisikus selalu mengembangkan pemikirannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat enigmatik (teka-teki) sekalipun. Sulit dibayangkan bagaimana sebuah observasi sampai pada titik yang tidak berujung, harus dilakukan, jika mereka meyakini bahwa di balik yang fisik, ada unsur yang menjadi penggerak utama, dan itu bersifat immateril.

Upaya ilmuan untuk mendeteksi suatu gejala penyakit misalnya, sampai pada soal yang sangat kecil itu, dilakukan karena mereka yakin bahwa di balik yang fisik, ada sesuatu yang menjadi penggerak utama, dan itu bersipat materil. Logika semacam ini, akan menuntun ilmuan untuk mengikuti alur berfikir tertentu yang lebih serius dan lebih sungguh-sungguh. Tujuannya, agar diperoleh jawaban yang memuaskan, dan memberi efek kemungkinan melanjutkan kajian lebih mendalam.

Originalitas Ilmu

Metafisika menuntut originalitas berpikir. Originalitas akan sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Seorang rnetafisikus, akan senantiasa berupaya untuk menemukan hal-hal baru atau lebih baru. Mereka akan selalu merasa ada sesuatu yang belum diungkap dari satu penemuan ke penemuan lainnya.

Pandangan semacam ini, akan menuntut kreativitas dan rasa ingin tahu yang terus menerus tanpa henti. Suatu persoalan yang dihadapi seorang ilmuan, akan merangsang untuk melanjutkan penelitian yang lebih jauh dan mendalam. Pematangan sikap semacam ini akan mendidik seseorang untuk selalu berkiprah pada lingkup penemuan (discovery contex), bukan pada lingkup pembenaran semata (justification contex).

Di sini dan dalam konteks ini, penemuan ilmiah selalu akan menghasilkan ilmu yang selalu up to date. Karena itu, ilmu akan selalu memberi keterkejutan baru atas satu capaian menuju capaian lain. Jika situasi semacam itu diteruskan, maka, ilmu dengan sendirinya akan terus berkembang.

Kematangan Ilmiah

Metafisika materialisme juga dapat memberi pertimbangan, dari satu pertimbangan ke pertimbangan lain. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya, karena setiap pertimbangan dilakukan karena adanya capaian awal yang diperoleh sebelumnya.

Karena itu, para ilmuanAi?? dengan sendirinya akan dibikin matang, dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuan akan memberi pra anggapan-pra anggapan tertentu sebagai bahan lanjutan kajian. Setiap persoalan yang diajukan, selalu memiliki landasan berpijak yang kuat. Asurnsi ini muncul dilatari oleh sebuah semangat bahwa aspek fisik- rasional, dalam banyak hal tetap akan memberi keterbatasan tertentu.

Karena ia memberi keterbatasan tertentu, maka, dalam konteks tertentu ia menjadi sangat terbatas. Keterbatasan itu, baik menyangkut objek kajian, maupun dalam ruang lingkup masing-masing cabang keilmuan.

Lahirnya Peluang

Metafisika membuka peluang bagi terjadinya perbedaan pandangan dalam mengkaji suatu realitas. Metafisika tidak merumuskan lahirnya kebenaran yang benar-benar absolute, meski sejak awal, sebagaimana Socrates katakan, pasti dan selalu tersedia ruang yang mutlak benar. Hal yang sama berlaku dalam apa yang kita sebut sebagai “ketidakbenaran”. Ia merupakan lakon relative yang memungkinkan ruang, justru untuk disebut benar.

Konsekwensi paling positif dari berkembangnya corak yang demikian, adalahAi??terjadinya ramifikasi (cabang) keilmuan yang sangat kaya dan beraneka ragam. Hal ini terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini. Pencabagan keilmuan yang demikian kompleks, lahir salah satunya karena dorongan metafisika ini.

Nilai Guna Esensial

Memperhatikan demikian kompleksnya kegunaan kajian metafisika jika dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, atau pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan, maka rnetafisikus dapat membantu ilmuwan untuk menunjukkan asumsi-asumsi metafisis yang diperlukan bagi pengembangan dan pembentukan teori atau paradigma ilmu pengetahuan.

Metafisika akan menuntut secara berkelanjutan terhadap sejumlah pengetahuan yang telah berhasil ditemukannya untuk terus dilakukan pengkajian. Jika ini terjadi, maka metafisika dapat membantu ilmuwan untuk meneruskan ciri dan sifat ilmu yang menuntut adanya tindak lanjut melalui observasi dan penelitian lanjutan yang jua sulit berkesudahan. Kecuali dunia ini benar-benar musnah dan tidak ada lagi penghuni dengan genus bernama manusia. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.