Take a fresh look at your lifestyle.

Problem Anak Didik di Indonesia

4 23

PROBLEM Anak Didik di Indonesia. Problema yang sering meresahkan dewasa ini di Indonesia yang tidak kunjung selesai dan sulit diatasi adalah masalah kerusakan karakter. Karakter sebagaimana Poerwadarminta (2007: 521) menjelaskan terkait dengan tabiat; watak; atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Tabiat diartikan perangai, kelakuan, tingkah laku, atau akhlak. Sedangkat watak mengandung arti sifat batin yang mempengaruhi segala pikiran dan perbuatannya; atau budi pekerti (Poerwadarminta, 2007: 1365).

Arah dan tujuan pendidikan formal beorientasi membentuk peserta didik berkarakter sebagaimana dijelaskan dalam dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSISDIKNAS) No. 20 Tahun 2003, yaitu: Pendidikan nasional berfungsi membentuk …waktak…peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Depag R.I 2008).

Memaknai Nilai dalam Pendidikan

Nilai-nilai (values) sebagaimana terliput dalam tujuan pendidikan nasional di atas selain menekankan kecerdasan intelektual juga sebagai nilai pembentukan waktak atau karakter peserta didik. Akan tetapi pengembangan pendidikn karakter peserta didik dalam tataran praktik antara idealisme dengan kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan realitas. Artinya, cita-cita luhur tujuan pendidikan nasional sebagai referensi tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional ternyata masih banyak peserta didik yang belum menampilkan karakter yang baik sesuai harapan tujuan pendidikan nasional di atas, bahkan sebaliknya terjadi krisis karakter di berbagai kalangan.

Krisis karakter sebagaimana Nasir (2015: 10) menjelaskan kerusakan karakter seperti praktek jual beli ijazah dan ijazah palsu. Pada bagian selanjutnya Nasir mengemukakan bahwa praktek di dunia pendidikan (juan beli ijazah) itu bukan isu baru. Isu jual beli ijazah atau ijazah palsu digunakan untuk maju mencalonkan diri kepala daerah atau anggota legislatif.

Penelitiaan yang dilakukan Sauri (2013: 7) menjelaskan bahwa perilaku santun terlihat dari sikap siswa saat bertemu guru, karyawan, dan dengan siswa sesndiri, seperti jabatan tangan dan menciun tangan. Ucapan yang menggambarkan kesantunan seperti: permisi, terima kasih, Insya Allah, Alhamdulillah, Astaghfirullah, Ya Allah. Sikap tidak santun siswa sering mengucapkan kata-kata kotor seperti ajing, goblok, maneh, dan aing masih dilakukan siswa.

Penelitian Chrisiana (2015) menjelaskan bahwa sayang pendidikan karakter di tingkat dasar sampai menengah  sekolah-sekolah di Indonesia belu betul-betul mendapat tempat dibanding pendidikan akademis. Masih banyak sekolah yang walau menyadari bahwa karakter itu penting, belum melakukan pembinaan serius untuk mengembangkan karakter positif.

Revolusi Mental melalui pendekatan Nilai

Problema karakter di atas, menuntut pemecahan yang serius, sebab apabila keruksakan karakter dibiarkan terus berjalan akan mengakibatkan keruksakan generasi yang berkualitas. Pemecahan masalah ini bisa dilakukan salah satunya melalui pembelajaran agama Islam berbasis implementasi kurikulum. Salah satu model implementasi kurikulum yang dipandang relevan untuk mengembangkan pendidikan karakter peserta didik adalah model “Mutual Adaptif” (Mutual Adaptation). Menurut Jackson (1991: 428) pendekatan ini memiliki ciri pokok dalam implementasinya, pelaksana kurikulum mengadakan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi riel, kebutuhan, dan tututan perkembangan secara kontekstual. Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa berdasarkan temuan empirik pada kenyataanya kurikulum tidak pernah benar-benar dapat dimplementasikan sesuai rencana, namun perlu diadaptasi sesuai kebutuhan setempat. Dr. H. Anda Juanda, M.Pd

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. Muhamad Farhan berkata

    Apa saja yang menyebabkan masalah pada peserta didik khususnya di indonesia?
    Apakah ini adalah suatu Kesalahan dari Diri anak ataukah Sistem Pendidikan dari pemerintah?
    Bagaimana cara menyelesaikan Masalah tersebut?

  2. Lala Islahiyatul Fitriyah berkata

    Lala Islahiyatul Fitriyah. T.IPS-B/smst III
    Saya setuju dengan komentar di atas. Menurut saya bangsa kita akan menghadapi bencana pendidikan di masa yang akan datang.
    Sekarang dunia pendidikan telah dilanda krisis pengkaderan anak, banyak generasi yang membangun badannya bukan membangun jiwanya sebagaimana amanat Indonesia Raya membangun jiwa dan badan, tetapi kenyataannya dunia pendidikan sekarang terbalik membangun badan kemudian jiwanya. Jadi kebanyakan anak pintar tetapi tidak dilandasi dengan karakter yang baik.

  3. Khavid Khalwani/1415104050/T.IPS-B SMT3 berkata

    Sudah tidak heran lagi kalau semisalnya kondisi pendidikan indonesia itu sangat minim akan kualitasnya. Karna apa? Karena pendidikan di indonesia sendiri tidak adanya pemerataan kebijakan kualitas sekolah dari pemerintah. Dan faktor kedua karena anak zaman sekarang lebih membutuhkan uang jajan dibandingkan dengan mendapatkan suatu ilmu. Tidak sedikit siswa yang seperti ini di Indonesia. Rata-rata dari mereka enggan mengembangkan keilmuannya, entah itu faktor intelektual yang rendah atau karna memang mata pelajaran yang dibebankan terlalu banyak. Disini perlu adanya perubahan terhadap sistem pendidikan dengan berbasis agama tetapi dengan model ppembelajaran yang menarik. Dengan hal ini akan meminimalisirkan kemerosotan moral yang berlebihan terhadap peserta didik.

  4. Aa Asep berkata

    Sudah tentu ada yg salah dg sistem pendidikan di negeri ini, entah dari sisi mana dan siapa yg salah, hal ini memerlukan penelitian yg kemudian harus ditindaklanjuti dengan usaha perbaikan sistemnya.
    Terasa begitu jauh berbeda melihat kondisi di lembaga pendidikan formal (sekolah) dan non formal (pesantren). Bagaimana seorang peserta didik bersikap di hadapan Guru.
    Fenomena yg terjadi pada generasi muda bangsa saat ini sungguh menghawatirkan. Akan menunggu berapa lama lagi utk meni’mati betapa indahnya negeri ini, dengan hiasan generasi muda yg ramah, sopan, halus dlm bertutur kata, berpengetahuan luas, tak henti berkreasi dll hal yg positif.
    Semoga secepatnya bangsa ini menjadi bangsa yang sesuai dg harapan