Inspirasi Tanpa Batas

Problem Anak Didik di Indonesia

Problem Anak Didik di Indonesia
0 32

PROBLEM Anak Didik di Indonesia. Problema yang sering meresahkan dewasa ini di Indonesia yang tidak kunjung selesai dan sulit diatasi adalah masalah kerusakan karakter. Karakter sebagaimana Poerwadarminta (2007: 521) menjelaskan terkait dengan tabiat; watak; atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Tabiat diartikan perangai, kelakuan, tingkah laku, atau akhlak. Sedangkat watak mengandung arti sifat batin yang mempengaruhi segala pikiran dan perbuatannya; atau budi pekerti (Poerwadarminta, 2007: 1365).

Arah dan tujuan pendidikan formal beorientasi membentuk peserta didik berkarakter sebagaimana dijelaskan dalam dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSISDIKNAS) No. 20 Tahun 2003, yaitu: Pendidikan nasional berfungsi membentuk …waktak…peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, (Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Depag R.I 2008).

Memaknai Nilai dalam Pendidikan

Nilai-nilai (values) sebagaimana terliput dalam tujuan pendidikan nasional di atas selain menekankan kecerdasan intelektual juga sebagai nilai pembentukan waktak atau karakter peserta didik. Akan tetapi pengembangan pendidikn karakter peserta didik dalam tataran praktik antara idealisme dengan kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan realitas. Artinya, cita-cita luhur tujuan pendidikan nasional sebagai referensi tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional ternyata masih banyak peserta didik yang belum menampilkan karakter yang baik sesuai harapan tujuan pendidikan nasional di atas, bahkan sebaliknya terjadi krisis karakter di berbagai kalangan.

Krisis karakter sebagaimana Nasir (2015: 10) menjelaskan kerusakan karakter seperti praktek jual beli ijazah dan ijazah palsu. Pada bagian selanjutnya Nasir mengemukakan bahwa praktek di dunia pendidikan (juan beli ijazah) itu bukan isu baru. Isu jual beli ijazah atau ijazah palsu digunakan untuk maju mencalonkan diri kepala daerah atau anggota legislatif.

Penelitiaan yang dilakukan Sauri (2013: 7) menjelaskan bahwa perilaku santun terlihat dari sikap siswa saat bertemu guru, karyawan, dan dengan siswa sesndiri, seperti jabatan tangan dan menciun tangan. Ucapan yang menggambarkan kesantunan seperti: permisi, terima kasih, Insya Allah, Alhamdulillah, Astaghfirullah, Ya Allah. Sikap tidak santun siswa sering mengucapkan kata-kata kotor seperti ajing, goblok, maneh, dan aing masih dilakukan siswa.

Penelitian Chrisiana (2015) menjelaskan bahwa sayang pendidikan karakter di tingkat dasar sampai menengah  sekolah-sekolah di Indonesia belu betul-betul mendapat tempat dibanding pendidikan akademis. Masih banyak sekolah yang walau menyadari bahwa karakter itu penting, belum melakukan pembinaan serius untuk mengembangkan karakter positif.

Revolusi Mental melalui pendekatan Nilai

Problema karakter di atas, menuntut pemecahan yang serius, sebab apabila keruksakan karakter dibiarkan terus berjalan akan mengakibatkan keruksakan generasi yang berkualitas. Pemecahan masalah ini bisa dilakukan salah satunya melalui pembelajaran agama Islam berbasis implementasi kurikulum. Salah satu model implementasi kurikulum yang dipandang relevan untuk mengembangkan pendidikan karakter peserta didik adalah model “Mutual Adaptif” (Mutual Adaptation). Menurut Jackson (1991: 428) pendekatan ini memiliki ciri pokok dalam implementasinya, pelaksana kurikulum mengadakan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi riel, kebutuhan, dan tututan perkembangan secara kontekstual. Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa berdasarkan temuan empirik pada kenyataanya kurikulum tidak pernah benar-benar dapat dimplementasikan sesuai rencana, namun perlu diadaptasi sesuai kebutuhan setempat. Dr. H. Anda Juanda, M.Pd

Komentar
Memuat...