Problem Filosofi Pendidikan Indonesia

0 115

FILOSOFI Pendidikan – Kebanyakan ahli pendidikan, berkeyakinan bahwa kegagalan pendidikan di Indonesia terletak pada lemahnya mutu pencerdasan out put. Kegagalan jenis ini, terjadi karena lemahnya manajemen pendidikan, kekurangan infra struktur, rendahnya fasilitas pendidikan. Rendahnya kualifikasi dan kompetensi tenaga kependidikan dan juga kecilnya insentif guru. Analisis terhadap gagalnya pendidikan di jenis ini, dapat dibaca misalnya dari tulisan H.A.R. Tilaar.

Penulis sendiri memandang bahwa dalam soal pencerdasan out put, justru telah banyak fakta menunjukkan sebaliknya. Penulis sependapat dengan pikiran A. Sanusi (1998) yang menganggap bahwa banyak siswa/i dan alumni-alumni lembaga pendidikan di Indonesia, telah diakui kehandalannya . Baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat internasional, karena kemampuan kognisinya.

Kegagalan pendidikan di Indonesia, justru terletak pada sesuatu yang lebih esensial yang secara kualitatif dapat di analisis melalui pendekatan yang lebih substansial. Kegagalan dimaksud, terletak pada lemahnya visi pendidikan dalam merumuskan dasar-dasar nilai, missi yang diemban dan tujuan yang hendak dicapai.

Indikator kunci gagalnya fungsi pendidikan di atas terlihat dari:

Gagal Menghasilan out put yang Memilki Tanggung Jawab

Pertama, pendidikan gagal menghasilkan out put  yang memiliki sikap tanggung jawab  metafisik  terhadap profesi yang dimilikinya. Contoh, Sarjana Ekonomi sebagiannya lahir untuk menjadi  manipulator data-data keuangan. Berakibat bukan saja pada ketidakmampuannya untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapinya, tetapi data-data keuangan menjadi hanya benar secara administrativ, namun berjarak dengan nilai keuangan yang sebenarnya.

Sarjana Hukum dilahirkan sebagiannya justru untuk menjadi pelindung pelanggar hukum. Insinyur sebagiannya menjadi ahli untuk melakukan manipulasi data-data bangunan dengan kesan sangat megah dan indah, namun jauh dari kekokohan bangunan itu sendiri. Sarjana Pendidikan, termasuk Sarjana Pendidikan Islam, bukan saja gagal mentransformasikan kepada peserta didik. Diwilayah ini, dunia pendidikan gagal memainkan perannya dalam melahirkan Sarjana yang cerdas sekaligus bertanggung jawab terhadap dirinya, terhadap sesame manusia, apalagi terhadap Tuhan yang abstrak.

Gagal Mengantisipasi Gejala Neurosis Dan Psikosis

Indikator kualitatif kedua adalah gagalnya pendidikan mengantisipasi gejala neurosis dan psikosis di tengah masyarakat, akademik maupun awam. Kalangan terdidik semakin hari banyak mengalami depresi, gelisah dan psikosis. Harian Umum Republika Edisi 11 Oktober 2006, mengeluarkan Headline tentang soal ini dengan menyebut bahwa dalam 45 tahun terakhir, berdasarkan  hasil survey yang di lakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) terdapat sekurangnya 450 juta penderita penyakit jiwa di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri dilaporkan, jumlah penderita penyakit jiwa, srendahnya terdapat 16-18 persen dari populasi yang ada dengan grafiknya yang semakin hari semakin meningkat. Meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa dan pelaku bunuh diri di kalangan kaum terdidik menjadi indikasi adanya krisis pendidikan. Jumlah orang yang depresi, terisolasi dan gelisah mengalami peningkatan di saat upaya-upaya peningkatan kualitas dan kemudahan berbagai akses hidup justru mudah didapatkan.

Factor ini jika ditilik dalam perspektif agama, terjadi lebih karena manusia modern yang dianggap terdidik itu, tidak memiliki tempat kembali dan berkomunikasi secara bathin dengan Tuhan dan dengan alam kea rah yang lebih menyejukkan. Padahal seperti disebutkan Syamsu Yusuf LN dan Sayyed Hossein Nasr, agama sebenarnya menjadi kebutuhan dasar manusia dan ia dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi berbagai kegelisahan manusia.

Manusia adalah Homoreligious

Dalam kajian psikologi sendiri, manusia sering disebut sebagai homoreligious yang dengannya berarti manusia butuh agama dan butuh terhadap nilai-nilai agama. Di perspektif ini, dunia pendidikan patut diduga turut serta menghilangkan fungsi  fitrah  manusia yang selalu condong kepada kebenaran, karena pelaksanaan pendidikan lebih cenderung memperkuat dimensi fisis daripada dimensi metafisik kemanusiaan.

Dampak atas hilangnya nilai ke-fitrah­-an dalam dunia pendidikan, menurut Ali Syari’ati, akan mengubah sifat kemanusiaan, sehingga unsur-unsur kemanusiaan dalam diri manusia mengalami kehancuran yang sangat cepat. Manusia tanpa nilai kefitrahannya, akan berubah menjadi mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Bom atom adalah benda mati yang gerak dinamikanya akan ditentukan oleh manusia. Ia tidak mungkin melakukan aktivitas tanpa manusia itu sendiri mengaktifkannya. Tetapi, gerak dinamik manusia sendiri akan ditentukan oleh akal pikiran dan gerak hatinya.

Paradigma Yang dianut Manusia

Thomas. S. Kuhn menyebut soal ini dengan menyebut bahwa, pergerakan dan aktivitas manusia akan ditentukan oleh paradigma yang dianutnya. Dalam perspektif ini, hati nurani yang menjadi penyokong lahirnya paradigma—akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Hati mengaktifkan nilai-nilai manusia yang paling dalam. Hati mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dikerjakan. Hati tahu hal-hal yang tidak, atau tidak dapat diketahui oleh pikiran.

Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energy dan perasaan mendalam yang menuntut manusia untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani. Oleh karena itu, wajar juga jika Nabi dalam salah satu do’anya selalu menyebut., Hai Dzat yang suka membolak-balikan hati, jagalah hatiku agar tetap luruh untuk berbuat kebajikan. — (bersambung) —

Penulis: Prof. Dr. H. Cecep Sumarna 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...