Inspirasi Tanpa Batas

Problem Hermeneutika dalam Peralihan Bahasa

0 13

Konten Sponsor

Problem Hermeneutika dalam Peralihan Bahasa. Pesan moral Tuhan yang terlibat aktif berkomunikasi dengan para Rasulnya, kemudian terbentuk dalam bahasa lisan. Dalam posisi sebagai bahasa lisan, sahabat- sahabat (Islam) dan Khawariyyun (pengikut setia Isa) masih memungkinkan untuk melakukan dialog dengan para utusan Tuhan yang tafsir terhadap pesan-Nya itu dijamin kebenarannya oleh Tuhan.

Dalam dekade selanjutnya, untuk kepentingan “pengabadian”, pesan moral Tuhan dalam bahasa lisan itu ditulis oleh para generasi setelah Rasul- rasul. Itulah yang dalam tradisi dan sejarah Islam disebut dengan mushaf.

Akibat adanya perubahan bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan, meminjam pikiran Paul Recoeur [986: 96] akan melahirkan penjarakan (distansiasi). Terdapat tiga distansiasi dalam memahami bahasa Tuhan yang lisan, ke dalam bahasa manusia yang kemudian mengembang menjadi bahasa tulisan. Penjarakan ini menurutnya dilatarbelakangi oleh adanya penulisan dari suatu teks yang terbiasa dipakai dalam bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan (discourse fixed into writing). Penjarakan dimaksud, menurutnya akan berkisar pada:

  • Bahasa lisan cenderung melahirkan “dialog” antara pembicara dengan pendengar. Sedangkan dalam bahasa tulisan, kemungkinan “dialog’ itu sangat sulit terjadi. Bahkan yang muncul adalah one way communication.
  • Komunikasi dengan teks yaitu antara si pengarang dan pembaca (interpersonal communication) tidak dapat berbicara secara langsung tetapi malah akan dipisah oleh jarak tempat dan waktu.
  • Pembaca dijauhkan dari pengarang (distanciated from the author), sehingga aspek sosiologis dan psikologisnya tidak dapat ditangkap oleh pembaca dengan utuh.

Problem Distansiasi

Tiga persoalan inilah yang memungkinkan adanya ruang untuk mendekati Kitab Suci. Dalam pengertian ini, yang dimaksud kita suci tentu bukan hanya al-Quran, tetapi kitab suci lain  dan sunnah kenabian [bisa dibaca hadits]. Semuanya membutuhkan pendekatan hermeneutik.

Tugas disiplin hermeneutik adalah mencari relevansi makna-makna bahasa ke dalam konteksnya. Artinya, bagaimanakah caranya memperoleh suatu keterangan yang tingkat kemungkinan benarnya lebih tinggi dari apa yang dikatakan atau apa yang dituliskan menurut penulis atau pembicaranya.

Atau bisa juga mencari makna dari apa yang dikatakan atau ditulis oleh pengarang. Sebab, dalam konteks tertentu seperti disebut Schleiermacher seorang pendiri hermneneutika-, “adalah valid untuk memahami seorang pengarang lebih baik daripada pengarang sendiri memahami dirinya. [Hans George Gadamar, 1986: 195]

Hal ini mungkin karena teks secara relatif telah dibebaskan dari monopoli pengarang dan maksud pengarang telah dibekukan ke dalam teks yang ditulisnya, sementara maksud-maksudnya di luar teks telah tidak relevan untuk memberi makna pada teks tersebut. Dunia yang dibangun oleh teksnya kemudian terbuka untuk didekati siapa saja bahkan oleh pengarang sendiri atas cara yang bisa saja berbeda dengan maksud semula. [Ignas Kleden, 1996: 332]

Teks dan Inskripsi

Setiap teks akan berarti inskripsi dan karena itu dapat disebut sebagai fiksasi bahasa lisan. Sifat bahasa lisan yang sementara dan cepat sirna dibakukan dan demikian juga dibekukan dalam bentuk fisik huruf per huruf. Pembakuan dan pembekuan secara fisik dalam aksara kemudian memberikan semacam otonomi sendiri kepada teks. Ini akan sangat terasa bedanya dengan bahasa lisan yang demikian dependen kepada maksud si pembicara. Setiap teks dalam bahasa tulis memiliki kemerdekaan dalam hal yang dinamakan otonomi semantik.

Otonomi semantik menurut paul Ricoeur [1984:91] membebaskan teks dari tiga ikatan. Pertama, teks dibebaskan dari ikatannya dengan pengarang. Sebuah teks yang tertulis bebas ditafsirkan oleh siapa saja yang membaca tanpa terikat pada hal yang semula dimaksudkan pengarangnya. Kedua, sebuah teks juga dibebaskan dari konteks tempat dia diproduksikan. Ini berarti sebuah teks yang semula hanya ditulis sebagai kenangan- kenangan pribadi misalnya, kemudian dapat dijadikan sumber sejarah atau bahan untuk analisis bahasa. Ketiga, sebuah teks dibebaskan dari hubungan yang semula ada antara teks itu dan kelompok sasaran kepada teks itu semula ditujukan.

Melalui kajian ini, Komarudin Hidayat [1996:112] berpendapat bahwa: sebuah teks barangkali ditulis untuk diri sendiri, tetapi tidak menghambat pembaca lain untuk memberikan tafsiran tersendiri pada teks- teks tersebut. Dalam arti itu, buku Harian Ane Frank, Soe Ho Gie atau Ahmad Wahib yang semula ditulis buat mereka sendiri, kemudian dapat ditafsirkan oleh siapa saja untuk orang lain yang berbeda sama sekali dari maksud penulis. Dengan kata lain, otonomi semantik selalu memungkinkan untuk dikontekstualisasikan.

Lebih lanjut Komarudin Hidayat menyatakan bahwa pembebasan teks dari pengarang adalah copotnya hubungan psikologis khusus antara teks dan pengarang yang menghasilkannya. Sedangkan pembebasan teks dari konteks produksi dan kelompok sasarannya yang asli adalah dicopotnya hubungan- hubungan sosiologis sebuah teks untuk menghasilkan otonomi semantik bagi teks itu sendiri. Kalaupun demikian otonomi teks adalah suatu otonomi yang tetap terbatas. By. Prof. Cecep Sumarna

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar