Problem Pembukuan Hadits dan Seleksi Atas Hadits

Problem Pembukuan Hadits dan Seleksi Atas Hadits
0 294

Problem Pembukuan Hadits dan Seleksi Atas Hadits. Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah al Qur’an. Itu sudah final dan harus diterima apa adanya [taken for granted]. Pengakuan atas kedudukan sunnah yang demikian, setidaknya dapat dibaca firman Allah misalnya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” (Al-Hasyr [50]: 7).

Hanya saja, proses transformasi  hadits ke generasi pasca sahabat, sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada al Qur’an.  Akibatnya, cara pandang dan penggunaan atas hadits berbeda dengan penggunaannya terhadap kitab suci. Ada dua persoalan pokok yang membedakan hadits dengan al Qur’an. Kedua perbedaan itu antara lain:

Keterlamabatan Proses Pembukuan

Hadits mengalami keterlambatan kodifikasi. Koodifikasi hadits baru terjadi setelah hampir 87 tahun pasca kewafatan Rasul Muhammad. Proses koodifikasi ini, dilakukan ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz [99-101 H] mengirim surat kepada Abu Bakar bin Hazam (Gubernur di Madinah). Isi surat itu berbunyi:

“Lihatlah apa yang terjadi pada hadits Rasulullah, lalu tulislah.  Aku takut, jika hal ini tetap dibiarkan berlarut, maka kemungkinan ilmu [hadits] ini hilang beritingan dengan banyak para ulama yang meninggal. Kusarankan [kepada Gubernur Medinah], anda jangan menerima apapun kecuali hadits Rasulullah saw.  Sebarkanlah ilmu ini. Sebisa mungkin anda duduk mencari ilmu hingga orang yang belum tahu menjadi tahu. Sebab ilmu tidak akan hilang sehingga menjadi rahasia” (teks asli dapat dibaca dalam Sahih Bukhari secara Muallaq 1/186).

Pertanyaannya, mengapa proses pembukuan ini terlambat.  Hal ini akan terjawab ketika kita membaca keterangan Imam Ahmad. Ia meriwayatkan suatu hadits yang menyebutkan: “Janganlah kalian menulis sesuatu dariku [Rasulullah] kecuali al-Quran. Barang siapa yang menulis dariku selain al-Quran, maka hapuslah” (HR Ahmad).

Cukup lama umat Islam tidakmenuliskan apalagi membukukan hadits. Mereka lebih berkonsentrasi menuliskan ayat-ayat al Qur’an. Akhirnya, hadits hanya tetransformasi melalui ujaran-ujaran dari mulut ke mulut.  Namun setelah al Qur’an dirasa cukup tuntas dikodifikasi, maka, melalui ijtihadz Umar bin Abdul Aziz, hadits dikumpulkan.

Terjadi Pemalsuan akibat Konflik Politik

Pertikaian politik, khususnya setelah khalifah Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, menyebabkan hadits sebagai landasan agitasi politik. Para ulama terpecah antara mereka yang mendukung keluarga Ali [Syi’ah], dan mereka yang mendukung politik Muawiyah. Dari sinilah, hadits-hadits palsu bermunculan.

Berkenaan dengan masalah di atas, maka, para ulama, sejak khalifah Umar bin Abdul Aziz, mulai banyak melakukan upaya berupa pengumpulan hadits. Di fase berikutnya, para ulama melakukan seleksi atas apa yang disebut dengan hadits dengan menilai para perawy secara ketat.

Setelah melalui tahapan dan proses yang rumit, maka, para ulama, akhirnya membagi hadits melalui penilaiannya matan, sanad, dan periwayat hadits. Jika sesuatu yang disebut hadits itu selamat, lalu dinyatakan shahih, maka, dari jalur inilah baru dijadikan sumber hukum dan diamalkan. Jika terjadi sebaliknya, apa yang disebut dengan hadits karena tidak memenuhi kriteria, maka, akan ditinggalkan dan harus dinyatakan ditolak.

Sejak saat itulah, secara umum hadits dibagi menjadi hadits makbul dan hadits mardud. Adapun yang termasuk hadits makbul adalah hadits shahih dan hasan. Hadits mardud adalah hadits dhaif dengan berbagai jumlah ragamnya.

Apa yang dimaksud dengan hadits shahih? Menurut Subhi al S alih [1959: 145-146] dalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwiyatkan oleh perawy yang dhabit, adil sampai pada akhir sanad, dan tidak terjadi syad atau janggal, perawinya tidak cacat. Dalam bahasa yang agak berbeda, Muhammad Ajaz [1975: 304], menyebut hadits shahih adalah sesuatu yang bersambung sanadnya dengan perantara orang yang hadir tanpa ada syad dan illat.

Dalam hadits shahih ada yang shahih lidzatihi dan shahih lighairi dzatihi, sedangkan hadits hasan ada yang lidatihi dan ligairi datihi, Hadits dhaif ada beberapa macam; mursal, munqathy, muadlal, mudhalas, mualal, mudharab, maklub, tsad, munkar dan matruk. By. Prof. Cecep Sumarna

Daftar Bacaan

Subhi al S alih. Ulum al hadits wa al Musthalahuhu. Beirut: Daar al Ilmi, 1959
Muhamad Ajaz al Khatib. Ushul al Hadits. Beirut: Daar al Fikri, 1975

Komentar
Memuat...